Terduga Teroris di Makassar Diduga Asal Ciamis

Kompas.com - 09/01/2013, 14:39 WIB

CIAMIS, KOMPAS.com — Warga Desa Karang Kamulya, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, geger karena salah satu warganya diduga terlibat jaringan teroris dan tewas ditembak anggota Densus 88 Polri di Kompleks Masjid Nurul Afiat, Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat pekan lalu.

Terduga teroris asal Ciamis itu diduga yang disebut-sebut polisi bernama Syamsudin dengan nama asli Eri Riyanto, anak bungsu dari tujuh bersaudara dari pasangan Dahir dan Sadiah. Informasi yang dihimpun Kompas.com, Selasa (9/1/2013), rumah orangtua terduga teroris itu terlihat sepi. Para tetangganya juga seakan enggan memberikan informasi lengkap.

Namun, setelah berbincang dengan beberapa warga setempat, identitas warga Ciamis yang terduga teroris itu mulai terungkap. Eri hampir 20 tahun tidak pulang kampung halamannya dan merantau ke luar daerah. Sebelumnya, warga setempat mengetahui Eri menjadi sukarelawan jihad perang Bosnia tahun 1997.

Semenjak keberangkatan itu, warga tidak mengetahui keberadaan Eri sampai akhirnya dikabarkan tewas ditembak Densus 88 Polri di Makassar karena terlibat jaringan teroris.

Eri tinggal di Ciamis sampai lulus SMP Negeri 1 Padaherang. Penelusuran informasi dilanjutkan ke beberapa sekolah terduga teroris itu semasa kecil. Eri dikabarkan merupakan murid SD Negeri Cibogo 5, Kecamatan Padaherang. Eri merupakan anak pendiam dan pemalu semasa bersekolah.

"Ya benar, Eri adalah murid saya dulu sejak saya masih jadi guru. Saya juga kaget Eri dikabarkan tewas karena terlibat teroris," kata Sukardi, kepala SD Negeri Cibogo 5, saat dimintai keterangan di ruang kerjanya, Selasa (9/1/2013).

Sukardi mengetahui kabar muridnya terlibat jaringan teroris setelah mendapatkan informasi dari warga setempat dan media massa. Malah, tutur Sukardi, warga setempat akan menerima jenazah warganya yang terlibat jaringan teroris itu untuk dikuburkan di kampungnya. "Warga katanya sudah menyiapkan kuburan jika Eri akan dikuburkan di Ciamis," kata Sukardi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau