Klimatologi

Indonesia Terdampak Cuaca Ekstrem Global

Kompas.com - 12/01/2013, 02:41 WIB

Jakarta, Kompas - Hujan di wilayah tropis akhir-akhir ini, termasuk di Indonesia, merupakan dampak langsung cuaca dingin ekstrem di belahan Bumi utara dan panas ekstrem di sisi selatan. Hujan lebat yang diikuti banjir masih akan terjadi beberapa pekan, bersamaan dengan gelombang tinggi.

”Hujan ekstrem di wilayah tropis menjadi bumper atau penghadang ekstrem dingin dan panas,” kata Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian, Jumat (11/1), di Jakarta.

Dingin ekstrem di Rusia dan China menimbulkan seruak dingin ke tenggara. Dampaknya tak sampai di Kepulauan Natuna, tetapi udara dingin itu turut memicu proses terjadinya hujan.

Saat bersamaan, panas ekstrem di Australia menghangatkan wilayah perairan Indonesia. Kondisi itu memicu penguapan yang membentuk awan hujan secara merata. Perbedaan tekanan udara juga menimbulkan angin kencang dan siklon tropis Narelle di Samudra Hindia, sekitar 950 kilometer selatan Denpasar, Bali.

Keberadaan badai di selatan Indonesia juga membuat wilayah selatan terdampak angin kencang dan curah hujan tinggi. ”Ini karena ekor badai,” kata pakar meteorologi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Tri Handoko Seto.

Sementara itu, ahli meteorologi dari Departemen Meteorologi Institut Teknologi Bandung, Zadrach Ledoufij Dupe, mengatakan, cuaca ekstrem punya periode ulang, seperti dingin terburuk di China yang berlangsung 28 tahun lalu dan badai salju ekstrem di Timur Tengah 30 tahun lalu. ”Periode ulang itu menandakan normalnya perputaran Bumi dan cuaca secara global,” tuturnya.

Untuk memastikan terjadinya perubahan iklim, lanjut Zadrach, masih butuh data statistik lebih lama. Rekor panas di Hobart (ibu kota Tasmania) hingga 41,8 derajat celsius bisa dipahami bahwa perubahan iklim sudah terjadi. ”Setidaknya, pada komponen iklim humanosfer, akibat ulah manusia yang meningkatkan laju pemanasan global,” katanya.

Data statistik kondisi kriosfer atau tutupan es juga perlu diketahui. Besar kemungkinan tutupan es tersebut kini mengecil.

Waspadai gelombang

Secara khusus, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Mulyono Prabowo menyatakan perlunya kewaspadaan maritim. Gelombang tinggi masih akan terjadi hingga beberapa hari ke depan meskipun siklon Narelle mulai menjauh dari perairan selatan Indonesia, mendekati daratan Australia barat.

BMKG memperingatkan, gelombang tinggi lebih dari 4 meter berpeluang terjadi mulai dari Selat Sunda bagian selatan, selatan Jawa, hingga Nusa Tenggara. Lalu, perairan selatan Pulau Sumba, Laut Sawu, perairan selatan Kupang sampai Pulau Rote, Samudra Hindia barat Lampung, dan Laut Timor.

Gelombang tinggi di atas 4 meter juga berpotensi terjadi di Laut Jawa bagian tengah dan timur, perairan utara Jawa Timur hingga utara Flores, Laut Bali, Laut Sumbawa, Laut Flores, dan Selat Makassar bagian selatan.

Adapun intensitas hujan akibat siklon Narelle berkurang. ”Tapi, diprediksikan curah hujan menguat lagi,” kata Mulyono.

Curah hujan tinggi pada awal terbentuknya siklon Narelle, ditambah kerusakan lingkungan, memicu banjir di banyak lokasi.

Hingga April

Fachri Rajab, Koordinator Pusat Sistem Peringatan Badai Tropis BMKG, menyatakan, musim siklon tropis di selatan perairan Indonesia berlangsung hingga April. Siklon Narelle (diperkirakan punah 3-5 hari ke depan), kedua setelah Mitchelle, muncul selama musim hujan di Samudra Hindia bagian tenggara.

Pertumbuhan siklon di kawasan ini rata-rata delapan peristiwa per tahun. Sejalan dengan perubahan garis edar Matahari, kemunculannya silih berganti, utara-selatan. Musim siklon di barat daya Samudra Pasifik (timur laut Indonesia), April-November. Siklon Bopha yang menghantam Filipina selatan, November 2012, merupakan siklon terakhir di sana. (NAW/YUN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau