Hari Selasa (15/1), seorang pejabat pemerintahan Jepang menyatakan, Jepang dan Amerika Serikat mulai menggelar latihan perang udara bersama di perairan Samudra Pasifik.
Latihan, yang melibatkan empat pesawat tempur F-4 milik Pasukan Bela Diri Udara Jepang dan enam pesawat tempur F/A-18 milik AS, itu telah dimulai hari Senin dan akan berlangsung hingga Jumat.
Menurut pejabat tersebut, latihan yang juga melibatkan 90 personel militer AS itu digelar di perairan Pasifik di lepas pantai Pulau Shikoku, pulau terbesar keempat di Jepang.
Latihan tersebut digelar hanya sehari setelah Pasukan Bela Diri Darat Jepang menggelar latihan militer dengan skenario ”merebut kembali pulau terpencil yang diinvasi pasukan musuh”. Latihan, yang digelar di pangkalan Garnisun Narashino di Chiba, dekat Tokyo, itu melibatkan 300 tentara, 20 pesawat tempur, dan lebih dari 30 kendaraan tempur.
Semua latihan ini digelar di tengah makin tegangnya hubungan antara Jepang dan China karena sengketa teritorial terkait gugus kepulauan tak berpenghuni di Laut China Timur.
Pekan lalu, untuk pertama kalinya kedua negara sama-sama mengirimkan pesawat-pesawat tempur mereka ke kawasan sengketa tersebut. Jepang kembali mengerahkan pesawat-pesawat tempurnya, Selasa, setelah satu pesawat survei maritim Y-12 milik China terdeteksi mendekati kawasan kepulauan, yang disebut Senkaku oleh Jepang dan Diaoyu oleh China, itu.
Pada hari yang sama, Kabinet Jepang menyetujui usulan anggaran tambahan sebesar 13,1 triliun yen (Rp 1,4 kuadriliun). Di dalamnya termasuk tambahan anggaran sebesar 210 miliar yen untuk meningkatkan kemampuan peralatan militer Jepang guna memperkuat pertahanan di perbatasan.
Anggaran tambahan ini masih membutuhkan persetujuan parlemen Jepang. Namun, mengingat partai berkuasa saat ini, Partai Demokrat Liberal (LDP) dan koalisinya menguasai mayoritas parlemen, diperkirakan rancangan anggaran tambahan itu akan lolos dengan mudah.
China pun tak tinggal diam. Surat kabar Harian Rakyat, yang menjadi corong Partai Komunis China (PKC), Selasa, menyebutkan, angkatan bersenjata China telah diperintahkan untuk memperkuat kemampuan tempur pada tahun ini.
Harian tersebut mengutip dokumen yang berisi perintah Staf Jenderal Tentara Pembebasan Rakyat tentang latihan militer tahun 2013. Menurut dokumen tersebut, tentara dan polisi China harus memusatkan perhatian pada kemampuan bertempur dan memenangi pertempuran.
Untuk mencapai tujuan itu, militer China diharuskan memperkuat sejumlah latihan militer yang menyimulasikan situasi pertempuran sesungguhnya. Selain itu, proses perekrutan personel militer berkaliber tinggi harus ditingkatkan.
Secara terpisah, kantor berita Xinhua juga mengabarkan, Pemerintah China akan menggelar survei pemetaan ke Laut China Timur, yang akan meliputi kawasan sengketa.
Survei itu merupakan bagian dari program untuk memetakan pulau-pulau dan gugusan karang milik China. Tidak dijelaskan apakah survei itu hanya akan dilakukan di laut, atau akan meliputi survei di daratan pulau-pulau tersebut.
”Ada sejumlah kesulitan untuk mendarat dan melakukan survei di beberapa pulau, dan untuk menyurvei dan memetakan perairan di sekitarnya, karena beberapa negara telah melanggar dan menduduki pulau-pulau milik China ini,” tutur Zhang Huifeng, pejabat Badan Survei, Pemetaan dan Geoinformasi Nasional China yang dikutip Xinhua.