BBM Mulai Darurat

Kompas.com - 19/01/2013, 02:59 WIB

Jakarta, Kompas - Persoalan bahan bakar minyak mulai masuk level darurat. Situasi mutakhir menunjukkan produksi minyak siap jual anjlok ke titik nadir dan harga minyak internasional bakal melonjak dari asumsi. Sementara konsumsi secara alami terus meroket. Ini butuh solusi segera.

Demikian disampaikan sejumlah pengamat yang diwawancarai terpisah di Jakarta, Jumat (18/1). Mereka adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Atma Jaya Jakarta Agustinus Prasetyantoko, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Ahmad Erani Yustika.

Kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo, per 14 Desember bakal jebol, dari 46 juta kiloliter (kl) menjadi 48 juta kl. Kementerian Keuangan dalam rapat kerja dengan DPR awal Januari juga memperkirakan harga jual minyak Indonesia atau ICP sulit bertahan di asumsi 100 dollar AS. Asumsi dilonggarkan sampai 109 dollar AS per barrel.

Baru-baru ini, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Rudi Rubiandini menyatakan, produksi minyak siap jual atau lifting cenderung 830.000 barrel per hari atau anjlok 70.000 barrel dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013.

Prasetyantoko berpendapat, kombinasi ketiga variabel itu dipastikan menyebabkan subsidi BBM bengkak. Sementara penerimaan negara bakal berkurang. Konsekuensinya, defisit APBN 2013 akan melebar dari asumsi Rp 165 triliun atau 1,65 persen.

”Tidak ada pilihan lain untuk solusi jangka pendek kecuali menaikkan BBM bersubsidi. Paling lambat triwulan II karena selanjutnya komplikasi politik akan semakin rumit,” ujarnya.

Kenaikan harga BBM bersubsidi, menurut Prasetyantoko, berfungsi ganda. Pertama, itu mengurangi beban subsidi. Kedua, itu akan mengerem laju konsumsi BBM. Sementara pilihan program larangan penggunaan BBM bersubsidi pada kendaraan pribadi di luar sepeda motor serta angkutan umum dan barang tidak akan signifikan hasilnya. Akan banyak penyimpangan.

Erani mengatakan, kecenderungan terkoreksinya asumsi yang berujung pada persoalan subsidi BBM tersebut hampir pasti menurunkan penerimaan negara dan membengkakkan subsidi. Dengan demikian, pemerintah semestinya mulai menyiapkan APBN Perubahan 2013 yang merevisi asumsi maupun postur anggaran.

Secara bersamaan, kata Erani, pemerintah harus secepatnya mengambil kebijakan jangka pendek. Anjloknya lifting minyak sampai 70.000 barrel dari asumsi serta ICP yang ia perkirakan bisa mencapai 110 dollar AS per barrel menuntut kebijakan jangka pendek secepatnya.

”Saya tidak mengatakan harus berujung pada kenaikan harga (BBM subsidi). Saya paham kenaikan harga sulit dilakukan pada tahun ini. Secara politik, berat bagi pemerintah. Jadi kalau tidak pada harga, harus ada alternatif lain secepatnya,” kata Erani.

Kebijakan di luar kenaikan harga yang paling signifikan dampaknya, menurut Erani, adalah larangan kendaraan pribadi menggunakan BBM bersubsidi secara nasional. Kendaraan pribadi yang dimaksud di luar sepeda motor serta angkutan umum dan barang. Nilai penghematannya sebagaimana pernah disampaikan Badan Kebijakan Fiskal bisa Rp 50 triliun.

Produksi minyak darurat

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Ekonomi Pertambangan dan Energi (ReforMiner Institute) Priagung Rakhmanto saat dihubungi, Jumat (18/1), di Jakarta, menegaskan, produksi minyak sepanjang tahun 2013 diperkirakan akan makin turun dan akan berkisar pada 830.000-850.000 barrel per hari.

Dikatakan, rendahnya tingkat produksi minyak nasional itu dinilai merupakan buah tata kelola hulu minyak dan gas bumi yang keliru dan terus dipertahankan hingga kini. Akibatnya, iklim investasi untuk kegiatan eksplorasi menjadi sangat tidak menarik.

”Jadi bisa dikatakan, hulu migas nasional sebenarnya bukan hanya dalam kondisi titik nadir, tetapi juga darurat,” kata Priagung.

Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Rudi Rubiandini, di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menyatakan, produksi minyak tahun 2013 diperkirakan hanya berkisar 830.000-850.000 barrel per hari. Oleh karena itu, asumsi produksi minyak mentah siap jual (lifting) dalam APBN 2013 yang ditetapkan 900.000 barrel per hari perlu direvisi.

Rudi menjelaskan, realisasi produksi minyak mentah siap jual tahun 2012 hanya 840.000 barrel per hari dari target produksi siap jual 960.000 barrel per hari. Jika laju penurunan produksi minyak secara alamiah bisa ditahan dan beberapa gangguan operasi seperti cuaca buruk dapat diatasi, realisasi produksi minyak tahun ini diperkirakan hanya mencapai 830.000-850.000 bph. Saat ini rata-rata produksi minyak 830.000-840.000 bph. ”Kami akan berupaya setidaknya mempertahankan produksi minyak,” ujarnya. (LAS/EVY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau