Penyelamatan 50 Jam Berakhir

Kompas.com - 20/01/2013, 01:49 WIB

Jakarta, Kompas - Setelah upaya penyelamatan selama 50 jam di basemen Gedung Plaza UOB di Thamrin Nine Complex, Jalan Moh Thamrin, yang dipenuhi air akibat banjir, Sabtu (19/1), ditemukan empat korban. Dua orang selamat dan dua lagi tewas.

Satu orang berhasil keluar sendiri, satu lagi ditolong tim penyelam dalam kondisi hidup, dan dua lainnya ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto memastikan korban yang terperangkap di basemen Plaza UOB hanya empat orang dan semuanya sudah ditemukan.

”Dua korban ditemukan selamat dengan kondisi fisik lemah, yakni Tri Santoso (34) dan Tito Fitrianto (30), Jumat (18/1). Sedangkan yang ditemukan dalam keadaan meninggal, Sabtu, adalah Abdul Arief Agus (38) dan Hardian Eko Eristya (28),” ujarnya.

Terkait dugaan ada korban lainnya, Rikwanto menegaskan, hingga kemarin sore, tidak ada anggota masyarakat melapor ke kepolisian atau menginformasikan bahwa anggota keluarga, teman, atau saudaranya yang diduga juga terperangkap di basemen Plaza UOB.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta Paimin Napitupulu mengatakan, pencarian korban dilakukan oleh puluhan penyelam dari berbagai institusi, seperti Pemprov DKI Jakarta, TNI, Polri, dan Basarnas.

”Kami mencari dari tiga lokasi masuk ke basemen bersama- sama,” kisahnya.

Saat pencarian korban, penyelam harus berjibaku dengan kondisi air yang keruh, tercampur bensin dan oli, serta gelap. Dheani Suncoko, salah satu penyelam, mengatakan, jarak antara air dan atap basemen 1, Sabtu siang, baru sekitar 1 meter.

Saat itu, baru tiga korban yang ditemukan. ”Kami bisa berjalan dengan menginjak atap mobil yang terkurung di basemen 1. Itu pun ketinggian air masih sedada,” ujarnya.

Mengalami infeksi

Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti yang mengunjungi Tri dan Titos di RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu sekitar pukul 14.00, mengatakan, keduanya mengalami luka ringan dan tubuhnya kemasukan air sehingga mengalami infeksi. Setelah dirawat, diberi antibiotik dan antitetanus, serta obat-obatan penunjang lain kondisi mereka membaik.

Dalam kunjungan itu, Ali yang didampingi dokter dan Direktur RS mendengarkan kisah kedua korban, saat terlanda banjir deras bercampur lumpur secara mendadak yang digambarkan mirip tsunami kecil. Tito bahkan sempat pingsan sesaat sebelum tim penolong tiba. Perawatan kedua korban ditanggung perusahaan mereka.

Adapun dua korban tewas, kemarin, sudah diserahkan kepada keluarga masing-masing.

Klaim sesuai standar

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan, setelah evakuasi korban selesai, pihaknya akan melakukan evaluasi atas keamanan gedung di Jakarta untuk menghadapi banjir dan kebakaran. ”Nanti semuanya akan kita evaluasi, baik terkait banjir maupun kebakaran. Yang jelas, warga masyarakat dan karyawan harus berada dalam posisi aman,” tuturnya.

Dalam keterangan pers, General Manajer pengelola gedung Thamrin Nine Complex, Bangga Nirwanjaya, mengklaim, kejadian di Gedung Plaza UOB murni bencana.

”Secara drainase, gedung normal baik, peralatan kami lengkap sesuai standar pengamanan. Namun, pompa kita tak sanggup mengurangi volume air karena terlalu banyak,” kata Bangga, semalam. Ia didampingi Assistant Building Manager Priskah Susilowaty.

Tindakan preventif sudah dilakukan pengelola gedung. Tetapi ditegaskan Bangga, kejadian itu di luar dugaan. Evakuasi sudah berjalan sesuai standar pengamanan gedung.

”Data dari tenant menyatakan, semua sudah ditemukan. Diharapkan tidak ada lagi korban lain yang masih ada di basemen gedung kami,” kata Bangga.

Beri santunan

Dalam kesempatan itu, Bangga menyatakan, pihaknya akan memberikan santunan kepada para korban. Khusus untuk korban yang tewas, manajemen juga menanggung seluruh biaya pengurusan jenazah hingga ke pemakaman.

”Kami juga akan mendampingi keluarga korban sampai proses pemakaman,” ujarnya.

Meskipun status Eris dan satu korban lainnya bukan karyawan Thamrin Nine, pihaknya tetap memberikan santunan. Eris dan satu korban lainnya adalah pekerja alih daya dari PT Anyer Indah.

”Selain bantuan dari kami, para tenant di Thamrin Nine rencananya juga akan memberikan bantuan. Prosesnya saat ini sedang digodok,” katanya.

Bangga mengungkapkan kronologi kejadian banjir yang menyebabkan tergenangnya basemen gedung sekaligus penanganannya. Itu terkait langsung dengan mulai tergenangnya Jalan Teluk Betung dan Jalan Batu Raja. Melihat curah hujan yang masih tinggi saat itu, pukul 08.00 pengelola gedung memasang kantong pasir/tanggul di pintu-pintu strategis menu- ju basemen 1 sesuai pencegah- an.

Pada pukul 09.30, pengelola juga segera melakukan pengumuman kepada semua penghuni gedung untuk melakukan evakuasi. Pukul 10.45 tanggul-tanggul yang dipasang hanyut karena datangnya air yang sangat deras secara tiba-tiba.

Basemen 1 tertutup air setinggi 3 meter pada pukul 13.30. Ada empat orang terperangkap di dalam basemen.

Di RT 014 RW 007 Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, empat orang tewas karena keracunan asap genset. Kepala Polsek Penjaringan Ajun Komisaris Aris Syahbudin mengatakan, korban diketahui bernama Kasim (47), Nanang (21), Suratman (25), dan Rudi (22). Mereka tewas pukul 10.00, tetapi baru siangnya dievakuasi karena banjir tinggi.(K02/ATK/BEN/RTS/ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau