Bahan Pokok Menipis

Kompas.com - 22/01/2013, 02:42 WIB

Baa, Kompas - Terganggunya distribusi barang antarpulau membuat stok bahan pokok di pulau-pulau terluar di wilayah Nusa Tenggara Timur menipis. Stok beras untuk wilayah yang berbatasan langsung dengan Australia itu hanya cukup untuk 1-2 minggu ke depan. Situasi ini terjadi menyusul badai dan gelombang tinggi tiga pekan terakhir.

Sejak akhir Desember 2012, kapal pengangkut bahan kebutuhan pokok dari Kupang (ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur) ke Kabupaten Rote Ndao (mencakup Pulau Rote dan Pulau Ndao) dan Kabupaten Sabu Raijua (mencakup Pulau Sabu dan Pulau Raijua) tak beroperasi. Kebutuhan bahan pokok untuk dua kabupaten itu selama ini dipasok dari Kupang. Waktu tempuh pelayaran dari Kupang rata-rata 4-18 jam.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Rote Ndao Orias Muskananfola di Baa, ibu kota Kabupaten Rote Ndao, Senin (21/1), mengatakan, tiga pekan terakhir, feri dan kapal perintis yang mengangkut bahan kebutuhan pokok ke Rote Ndao tidak berlayar akibat cuaca buruk. Stok bahan kebutuhan pokok di toko dan gudang milik pedagang setempat terancam habis.

”Kalau sampai akhir Januari 2013 gelombang laut masih tinggi, pelayaran kapal perintis dan feri ke Rote Ndao dan Sabu Raijua belum terlayani. Itu berarti stok bahan kebutuhan pokok bagi dua kabupaten itu benar-benar tandas,” kata Orias.

Stok beras Rote Ndao saat ini tinggal 175 ton, tersebar di tangan pedagang, pengusaha, dan Perum Bulog. Jumlah ini hanya cukup untuk kebutuhan 150.000 jiwa penduduknya selama dua pekan ke depan.

Kebutuhan akan beras di Rote Ndao 2.500 ton per tahun. Hanya sekitar 100 ton di antaranya yang bisa dipenuhi secara mandiri. Artinya, 2.400 ton harus didatangkan dari luar wilayah.

Rino Henuk, warga Rote Ndao, mengatakan, harga beras saat ini naik menjadi Rp 8.500-Rp 15.000 per kilogram. Sebelumnya harga hanya Rp 7.500-Rp 12.300 per kg.

”Petani kecil seperti saya hanya mampu beli 1 kilogram beras untuk kebutuhan dua hari. Kami hanya makan siang saja. Makan malam dan sarapan pagi makan apa adanya,” kata Rino.

Tidak hanya itu, bahan bakar minyak (BBM) pun makin sulit didapat. Bensin dijual di kios-kios dengan harga Rp 25.000 per liter. Sebelumnya harga Rp 10.000 per liter. Solar naik dari Rp 7.000- Rp 20.000 per liter, dan minyak tanah dari Rp 15.000-Rp 30.000 per liter.

Situasi di Sabu Raijua lebih miris lagi. Anggota DPRD Sabu Raijua, Yusak Robo, mengatakan, stok bahan pokok di kabupaten itu hanya cukup untuk satu pekan lagi. Harga beras di Seba, ibu kota kabupaten, saja antara Rp 10.000 dan Rp 20.000 per kg, gula pasir antara Rp 20.000 dan Rp 25.000 per kg, telur ayam naik dari Rp 3.000-Rp 5.000 per butir.

”Tahun lalu di musim sekarang, kami masih dilayani kapal barang dari Sulawesi Selatan. Tetapi, kini kapal barang jenis itu pun mungkin dilarang berlayar sehingga tidak melayani kami,” kata Robo.

Sementara itu, kapal patroli milik Markas Besar Kepolisian Negara RI bersama satu buah kapal lain milik perusahaan tambang swasta, mulai Senin (21/1), membantu pengiriman barang ke Pulau Sembilan, Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan. Persediaan pangan masyarakat di tiga pulau yang berjarak 10 jam perjalanan laut dari Kota Baru ini menipis akibat sekitar tiga minggu transportasi ke wilayah setempat terganggu cuaca.

Kepala Kepolisian Resor Kota Baru Ajun Komisaris Besar Rosyanto Yudha Hermawan mengakui terputusnya transportasi ke Pulau Sembilan tiga pekan terakhir. Barang yang akan diangkut berupa 25 ton bahan pokok (mencakup beras, gula, dan minyak goreng). Kapal berangkat Senin sore dan diperkirakan sampai ke tujuan Selasa pagi.

Upaya mengatasi problem transportasi laut Gresik-Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, disiasati dengan menyediakan dua kapal penumpang. ”Kami siapkan KM Tungkal Samudra selain Express Bahari 1C,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Mochammad Nadjib.(KOR/WER/ACI/RAZ/CHE/ETA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau