Basemen gedung

Jokowi Akan Cabut Izin Gedung Bermasalah

Kompas.com - 22/01/2013, 02:57 WIB

Jakarta, Kompas - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menegaskan, audit terhadap gedung-gedung di Jakarta akan segera dilakukan. Gedung harus siap menghadapi banjir demi meminimalkan korban.

”Sekarang audit gedung tidak hanya soal kelengkapan kebakaran, tetapi juga kesiapan banjir. Banjir tidak hanya datang dari hujan, tetapi juga tanggul jebol. Pengamanan gedung harus terskenario,” kata Jokowi, Senin (21/1).

Jokowi mewajibkan setiap gedung yang memiliki lantai bawah tanah agar dilengkapi dengan sumur resapan dengan jumlah sesuai ketentuan peraturan daerah. ”Sanksinya ya ditutup gedungnya. Kenapa takut?” katanya.

Kendati demikian, Jokowi memberikan waktu bagi gedung-gedung untuk segera membuat sumur resapan. Kemarin di Balaikota dibuat sekitar delapan sumur resapan sedalam 20 meter sebagai percontohan di gedung-gedung lainnya.

Pengelola apes

Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) DKI Jakarta menilai pengelola Gedung Thamrin-Nine Complex di Jalan Thamrin apes. Gedung tersebut tidak mampu menahan besarnya arus air dari luapan Waduk Melati dan jebolan Kanal Barat.

”Gedung itu tidak bermasalah karena sudah memenuhi syarat keamanan gedung. Mereka sudah memiliki sistem pompa dan drainase. Nasibnya saja yang buruk sehingga air masuk ke basemen gedung,” kata Kepala Dinas P2B DKI I Putu Ngurah Indiana.

Banjir pada Kamis lalu menggenangi basemen gedung hingga menewaskan dua orang, sedangkan dua orang lainnya selamat. Setelah bencana tersebut, Putu hendak mengevaluasi seluruh kondisi gedung. Setiap lima tahun, pengelola wajib memperbarui sertifikat laik fungsi.

”Semua sudah disiapkan, tetapi bencana yang terjadi pekan lalu di luar prediksi semua orang,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan keterangan seorang petugas satpam di salah satu gedung yang posisinya lebih dekat dari tanggul Kanal Barat Latuharhary, gedung yang dijaganya tidak terendam. Padahal, gedung tersebut punya enam basemen.

Pelajaran

Direktur Operasional Thamrin-Nine Complex (dikenal dengan Plaza UOB) Nevins Lie mengatakan, seluruh perizinan gedung ini masih berlaku hingga saat ini. Pengelola berencana mengevaluasi seluruh sistem bangunan setelah banjir menutup seluruh lantai basemen gedung.

”Kejadian kemarin merupakan pelajaran untuk kami karena sejak tahun 1990 belum pernah ada kejadian serupa ini. Kami akan mengevaluasi seluruh sistem yang ada di gedung ini,” kata Nevins.

Salah satu yang akan dilakukan pengelola, menurut Nevins, adalah meneliti kemungkinan membangun benteng penghalang air di pintu masuk basemen. Akan tetapi, pembangunan benteng penghalang ini masih harus dikaji lagi dampak lingkungannya agar tidak memindahkan air ke warga di sekitar gedung.

”Kami akan bekerja sama dengan orang-orang pemda dan konsultan amdal,” ucap Nevins.

Menurut Nevins, banjir di basemen gedung berasal dari luapan Waduk Melati dan Kanal Barat yang jebol. Ia tak tahu mengapa hanya gedung itu yang diserbu luapan air yang luar biasa.

Dia menambahkan, ada sistem penyedotan air yang masuk ke basemen. Air ini lantas dibuang ke sumur resapan yang ada di areal gedung.

Dari pengamatan di basemen 1 dan 2, terlihat bekas kerusakan akibat terjangan air. Plafon basemen 1 rusak. Begitu juga areal foodcourt, restoran, dan lokasi tenant lain di areal tersebut. Selain itu, sejumlah mobil yang terparkir di basemen sudah tidak beraturan. Satu per satu mobil ini ditarik keluar basemen.

Nevins mengatakan, sistem peringatan di gedung beroperasi saat kejadian. Dua teknisi, yakni Tri Santoso dan Tito, masih berada di basemen karena keduanya mematikan seluruh aliran listrik gedung yang ada di basemen.

Kedua teknisi ini ditemukan selamat. Sementara dua petugas kebersihan yang ditemukan meninggal adalah Abdul Arief Agus dan Hardian Eko Eristya yang diduga terhantam air deras yang masuk ke basemen.

Masih disedot

Hingga kemarin, penyedotan air dari basemen masih berlangsung. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta Paimin Napitupulu mengatakan, saat ini petugas menyedot air di basemen 3 dan lantai di bawahnya yang digunakan untuk ruang teknis dan kelistrikan.

”Penyedotan air ini terhambat karena selokan di sekitar gedung ini sudah penuh sehingga mesin penyedot tidak bisa dioperasikan maksimal,” ujar Paimin yang mengerahkan 21 mobil di lokasi.

Paimin mengatakan ada rembesan air dari dinding basemen. ”Air ini bersih. Penyelam yang lewat juga merasa dingin,” kata Paimin.

Nevins mengatakan, rembesan air itu berasal dari mata air di tanah. (FRO/ART/NDY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau