Pascabanjir

Perbaikan Jalan Sementara Hanya Tambal Lubang

Kompas.com - 25/01/2013, 10:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Akibat banjir dan hujan deras yang turun terus-menerus, kerusakan jalan di kawasan Jabodetabekjur sangat parah. Dari 453 kilometer panjang jalan nasional, tercatat 106 km jalan nasional yang rusak. Kerusakan ini belum termasuk kerusakan jalan yang menjadi wewenang pemerintah daerah setempat.

Untuk perbaikan jalan rusak itu, Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum memperkirakan membutuhkan anggaran Rp 55 miliar. Sementara untuk kerusakan jalan nasional di Banten diperlukan dana sekitar Rp 11,1 miliar.

Dana ini diambil dari anggaran tanggap darurat dan sifat perbaikannya hanya berupa penutupan lubang, pelapisan setempat, serta pembersihan dan perbaikan saluran samping dan trotoar.

"Untuk perbaikan menyeluruh dan permanen akan dilakukan setelah hujan benar-benar berhenti. Jadi, tidak mungkin dilakukan sekarang. Lagi pula untuk perbaikan menyeluruh harus dilakukan perencanaan teknik dan lelang," kata Direktur Jenderal Bina Marga Djoko Murjanto, di Jakarta, Jumat (25/1/2013).

Perbaikan permanen jalan di kawasan Jabodetabekjur dan Banten masing-masing memerlukan anggaran Rp 90 miliar dan Rp 39 miliar. "Untuk yang di Jabodetabekjur sebesar Rp 90 miliar akan dipakai untuk perbaikan di Jalan Daan Mogot sebesar Rp 80 milar dan perbaikan longsor di Puncak sebesar Rp 10 miliar," jelas Djoko.

Jalan nasional yang rusak antara lain Jalan TB Simatupang, Jalan Raya Bogor, Jalan Trans Yogi, dan Jalan Mayjen Sutoyo. Sementara di Banten, yang mengalami kerusakan di ruas Pandeglang-Saketi, Pandeglang-Rangkasbitung, dan Serang-Pandeglang.

Menurut TMC Polda Metro Jaya, Kamis (24/1/2013), Jalan Mayjen Sutoyo yang mengalami kerusakan telah memakan korban jiwa. Kakak beradik yang berboncengan sepeda motor terjebak di lubang hingga kemudian tertabrak bus transjakarta. Sang kakak, Purwanto, meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Sedangkan Novita (20), adik Purwanto, menderita patah kaki dan dirawat di Rumah Sakit UKI, Cawang, Jakarta Timur.

Selain itu, TMC Polda Metro Jaya mencatat kerusakan jalan juga terjadi di jalan layang Jembatan Tiga, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Jalan itu ambles akibat tergenang banjir selama beberapa hari. Amblesnya jalan sedalam 30 cm itu mengakibatkan separuh jalan tak bisa dilalui kendaraan bermotor.

Jalan berlubang juga terdapat di Jatinegara Barat, Jalan Protokol MT Haryono, Jalan Boulevard Barat Kelapa Gading, Jalan Layang Pesing, dan lainnya.

Menurut data Ditlantas Polda Metro Jaya, jalan berlubang menjadi penyebab 10 persen kecelakaan di jalan raya di Jakarta. Bahkan dalam dua hari terakhir, dua pengendara sepeda motor tewas setelah terjatuh menghindari jalan berlubang di Ibu Kota.

Selain di Jabodetabekjur dan Banten, kerusakan jalan nasional akibat banjir juga terjadi pada ruas Karawang-Cikampek-Pamanukan.

Kronologi kerusakan ruas jalan tersebut dimulai ketika pada Jumat (18/1/2013) terjadi genangan air setinggi 50-60 cm akibat meluapnya Sungai Ciasem. Kejadian tersebut menimbulkan kemacetan panjang pada arah Jakarta maupun Cirebon.

Sementara itu, Kepala Humas Kementerian Pekerjaan Umum Waskito Pandu mengatakan, kerusakan di Jabodetabekjur dan Jawa secara keseluruhan merupakan kerusakan yang paling besar. Namun, untuk kerusakan paling parah terjadi di Sumatera.

"Di Jambi terjadi longsor. Cukup parah, tetapi jumlah lokasi kejadian hanya sedikit," kata Waskito.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau