China Kembali Didesak

Kompas.com - 30/01/2013, 03:12 WIB

MANILA, SELASA - China didesak menanggapi ”tantangan” Filipina yang membawa persoalan sengketa wilayah di Laut China Selatan ke pengadilan arbitrase internasional. Jika tidak mau, China dinilai hanya akan memperparah masalah serta memicu krisis berkepanjangan di kawasan itu.

Penegasan itu dilontarkan Ketua Komite Hubungan Luar Negeri DPR Amerika Serikat dari Partai Republik, Ed Royce, Selasa (29/1), seusai bertemu Menteri Luar Negeri Filipina Albert del Rosario dan sejumlah pejabat lain di Manila.

Seperti diwartakan, Filipina membawa persoalan sengketa wilayahnya dengan China di Laut China Selatan ke pengadilan arbitrase yang mengacu pada Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS) tahun 1982.

Hingga saat ini, China belum mengeluarkan tanggapan resmi terhadap ”gugatan” Filipina itu. Kalaupun ada tanggapan, baru sebatas pernyataan Duta Besar China di Manila, Ma Keqing, yang menyebut soal ”kedaulatan tak terbantahkan” China di wilayah sengketa itu.

Royce menegaskan posisi AS yang tak memihak dalam persoalan sengketa di wilayah Laut China Selatan tersebut. Seperti telah kerap dilontarkan AS, Royce mengaku sangat mendukung penuntasan masalah itu lewat jalur diplomasi.

”Akan lebih baik jika China ikut terlibat dalam proses (pengadilan arbitrase) itu sehingga kita semua bisa maju melangkah lebih jauh di bawah ketentuan hukum internasional,” ujar Royce.

Royce menambahkan, semua pihak sama-sama ingin meredakan ketegangan sekaligus menuntaskan persoalan tersebut melalui proses diplomasi damai.

Dengan pendekatan penyelesaian masalah seperti itu, tambah Royce, semua pihak tak perlu memicu krisis yang dapat mengacaukan pasar dan menimbulkan ketidakpastian.

Akan ke China

Royce memimpin delegasi Kongres AS menemui Presiden Filipina Benigno Aquino III di Manila, sebelum melanjutkan kunjungan ke Beijing, China, Rabu mendatang.

Kunjungan delegasi parlemen AS tersebut adalah bagian dari lawatan mereka ke Asia, yang memang menjadi titik fokus perhatian baru AS.

Seperti diketahui, China yang mengklaim 90 persen kawasan Laut China Selatan bersengketa dengan Taiwan dan empat negara anggota ASEAN, yakni Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei.

Kawasan perairan itu diperebutkan lantaran diyakini kaya mengandung sumber daya alam, seperti minyak dan gas bumi, serta kekayaan laut lain.

Laut China Selatan juga menjadi salah satu jalur transportasi laut terpenting dunia. Kawasan tersebut dikhawatirkan menjadi titik panas baru konflik bersenjata dunia.

Selain di Laut China Selatan, China juga memiliki sengketa wilayah dengan Jepang di Laut China Timur. (AP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau