Narkoba di afganistan

Petani Afganistan Dipenggal karena Tak Bayar Utang

Kompas.com - 30/01/2013, 10:28 WIB

KOMPAS.com — Geng-geng opium Afganistan mengambil paksa anak-anak laki dan perempuan para petani negara itu sebagai jaminan atas utang yang tidak mampu dibayar.

Sebuah film dokumenter memperlihatkan nasib mereka yang meminjam uang dari bandar narkoba untuk berbudidaya opium. Sekitar 90 persen opium dunia, bahan baku untuk heroin, berasal dari Afganistan. Oleh karenanya, tanam poppy di sana telah menjadi industri yang menguntungkan.

Namun Pemerintah Afganistan dan pasukan internasional dukungan NATO berusaha untuk menghentikan perdagangan opium dengan merusak tanaman mereka. Hal itu membuat para petani itu jatuh miskin sehingga tidak mampu mengembalikan utang. Banyak petani opium kemudian berada dalam situasi mengerikan.

Karena tidak sanggup bayar utang, para bandar narkoba lalu mengambil anak-anak mereka, termasuk anak-anak perempuan berumur sepuluh tahun. Anak-anak itu dibawa ke Pakistan atau Iran. Di sana mereka dijual untuk dijadikan budak seks atau jadi penyalur narkoba.

Para pembuat film dokumenter berjudul Brides Opium dari lembaga penyiaran Amerika PBS itu juga memperoleh rekaman tentang seorang petani yang dipenggal secara perlahan-lahan dengan pisau lipat. Petani malang itu menolak untuk menyerahkan putrinya kepada bandar.

"(Adegan) itu tampak terlalu mengerikan untuk (dipercaya) bahwa itu kenyataan," kata produser Jamie Doran, yang membuat film itu bersama wartawan investigasi Afganistan, Najibullah Quraisy.

"Ada seorang petani miskin yang tidak mampu membayar utang kepada para pedagang dan menolak untuk menyerahkan putrinya, dan kami benar-benar memiliki seluruh film yang menunjukkan bagaimana dia dipenggal dengan pisau lipat. Itulah yang mereka lakukan jika Anda menolak untuk menyerahkan putri Anda."


Film itu juga menampilkan sebuah wawancara dengan seorang gadis kecil, berusia sekitar enam tahun, yang menghadapi kemungkinan diserahkan kepada pedagang narkoba sebagai pertukaran dengan ayahnya, yang ditangkap setelah sang ayah tidak mampu bayar utang. Gadis cilik itu mengatakan, "Para penyelundup akan membawa saya secara paksa dan ibu saya tidak bisa menghentikan mereka."

Para penculik ayahnya mengirim film berisi gambar sang ayah tengah ditutup matanya di kegelapan. Dalam fim itu, sang ayah terlihat mengatakan, "Ini tempat yang benar-benar buruk. Saya mohon, berikan kepada mereka apa yang mereka inginkan. "

Quraisy dan Doran mengatakan kepada Christiane Amanpour dari CNN tentang sejumlah pertemuan mengerikan mereka dan korban-korban tragis para bandar narkoba Afganistan.

Sang ibu, yang bahkan tidak mampu melihat putrinya, juga diwawancarai. "Saya harus memberikan kepada mereka putri saya untuk melepaskan suami saya," katanya datar.

Para pembuat film yakin ada ratusan, jika bukan ribuan, gadis yang lari dari para pedagang itu. Seorang gadis kecil yang cukup beruntung berhasil melarikan diri. Ia menceritakan betapa mengerikan kondisi yang terjadi. "Mereka tidak mengizinkan saya mengganti baju. Mereka tidak memberikan sabun untuk mencuci baju. Pakaian saya rusak di badan saya. Mereka melakukan berbagai macam kekejaman terhadap saya. Saya benar-benar takut para penyelundup itu akan membawa saya lagi."

Walau gadis-gadis itu berhasil melarikan diri, mereka sering tidak punya tempat berlindung selagi mencari keluarganya. Para pembuat film menemukan satu rumah singgah, tetapi hanya cukup untuk sekitar 30 anak perempuan.  

Menurut Quraisy, persoalannya akan lebih runyam saat pasukan NATO meninggalkan Afganistan tahun 2014.

"Peran NATO dan PBB menarik dalam situasi ini," kata Doran. "PBB dan pasukan internasional dukungan NATO akan memberi tahu Anda bahwa itu bukan tanggung jawab mereka. Mereka juga tidak membela penghancuran, pemberantasan opium. Namun, mereka menyediakan perlindungan bagi polisi untuk benar-benar melakukan itu. Jadi di satu sisi mereka mengatakan, 'Kami tidak ada hubungannya dengan hal ini'. Namun, polisi Afganistan tidak bisa melakukan hal itu tanpa dukungan NATO."

Doran menunjukkan, akar masalahnya adalah para pengguna opium. "Saya tidak tahu apakah ada solusi karena dunia menuntut budidaya opium untuk memenuhi kecanduan terhadap heroin. Mungkin kesalahan seharusnya tidak hanya ditimpakan kepada Pemerintah Afganistan. Mungkin kita harus sedikit mencari ke dalam diri kita sendiri. "

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau