Pelari Ethiopia Ini Terpukau Keindahan Yogyakarta

Kompas.com - 03/02/2013, 19:57 WIB

KOMPAS.com - Siapa yang tak mudah jatuh cinta pada kota yang satu ini? Bahkan Firehiwot Dado Tufa, pemenang New York Marathon kategori wanita 2011 yang datang bersama tunangannya, Abiy Nadew Shiferaw, mengakui terkesan dengan pesona Kota Gudeg tersebut.

Yogyakarta memang punya daya tarik sendiri sebagai salah satu destinasi wisata yang kaya budaya dan situs bersejarah. Salah satu tujuan wisata yang dapat dijangkau dari Yogyakarta adalah Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang telah diakui UNESCO sebagai World Heritage Site.

Tufa berkesempatan mengunjungi Yogyakarta dalam satu hari pulang pergi Yogyakarta-Bali, Rabu (30/1/2013). Sekitar pukul 08.40, Tufa dan Abiy tiba di Yogyakarta dan langsung dijemput Aryono Hendro selaku Deputy GM Marketing PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.

Mereka juga dikuti sejumlah media di Hotel Manohara. Media gathering berlangsung cukup singkat dilanjutkan pemberian suvenir oleh Achmad Muchlis selaku Corporate Secretary Taman Wisata.

Tak menyiakan waktu, selesai pemberian suvenir, Tufa dan Abiy mengenakan sarung khusus yang harus dikenakan saat menelusuri bentangan sejarah Buddha yang terukir indah pada panil-panil relief Candi Borobudur. Untuk berkeliling Borobudur, Tufa didampingi pemandu lokal, yaitu Jean.

Menghabiskan waktu sekitar 1 jam, Tufa tak menyiakan kesempatan untuk berfoto di situs terbesar Buddha yang dibangun abad ke-8 tersebut. Ia dan tunangannya tak bisa menyembunyikan perasaan terkesan dengan kemegahan candi peninggalan Buddha yang spektakuler itu. Beberapa kali decak kagun terlontar dari mulut mereka sesaat setelah mendengar penjelasan sang pemandu.

Acara selanjutnya adalah makan siang di Hotel Manohara. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Keraton Yogyakarta namun sayang setibanya Tufa di sana keraton telah tutup pada pukul 14.00 WIB. Meski begitu, perjalanan ke sana tidaklah sia-sia sebab Tufa diajak melihat-lihat koleksi Museum Kareta Keraton tak jauh dari kompleks keraton.

Beragam kereta tua koleksi kesultan Hamengku Buwono, baik yang terbuat dari besi atau kayu, masih digunakan atau sudah total dimuseumkan menjadi objek menarik untuk disimak. Kereta tertua adalah kereta besi buatan Portugis yang berusia nyaris 300 tahun, dibuat tahun 1815. Tufa didampingi pemandu lokal yang masih kerabat keraton saat melihat-lihat koleksi museum dan memberikan banyak penjelasan menarik perihal kereta-kereta kuno yang ditarik oleh kuda.

Tufa juga berkesempatan menyambangi Candi Prambanan atau juga dikenal sebagai Candi Rara Jonggrang, sebuah Candi peninggalan Hindu terbesar di Indonesia. Tufa dan Abiy terlihat masih bersemangat menelusuri kompleks candi yang dibangun abad ke-9 dan masih megah berdiri di daerah perbatasan antara Provinsi Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Tak jauh dari Candi Prambanan, Tufa dan Abiy juga menyempatkan mampir sejenak dan berfoto di depan Candi Sewu.

Destinasi terakhir pada trip sehari ke Yogyakarta adalah mengunjungi Ratu Boko yang letaknya sekitar 3 km saja dari arah Selatan Candi Prambanan. Situs yang merupakan peninggalan Kraton Kerajaan Mataram Kuno ini diperkirakan berusia lebih tua dibandingkan dengan Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Berlatarkan pemandangan hijau di atas bukit dan udara sejuk pegunungan, situs seluas 250.000 m² itu berada di atas ketinggian sekitar 195,97 m dan memiliki daya tarik sendiri. Tak heran, situs yang memiliki 2 pintu gerbang ini kerap dijadikan tempat pre-wedding.

Selain gerbang yang masih kokoh berdiri, di kompleks Ratu Boko dapat pula ditemukan Candi Pembakaran yang diduga kerap digunakan untuk membakar persembahan kepada Dewa berupa hasil pertanian. Ada pula paseban atau dipercaya sebagai ruang tunggu bagi tamu raja. Pendopo adalah juga bagian situs yang masih bisa dilihat namun hanya bagian lantai batunya saja karena konon bangunannya terbuat dari kayu yang tentu saja mudah lapuk termakan usia.

Tak jauh dari pendopo, nampak semacam benteng yang dibaliknya menyembunyikan kolam-kolam. Keputren atau kawasan tempat tinggal wanita juga bisa dilihat di kompleks Ratu Boko dan bahkan terdapat dua buah gua, Gua Lanang dan Gua Wadon yang dipercaya sebagai tempat meditasi.

Tufa mengaku ia menikmati sekali perjalanannya ke Yogyakarta dan menyukai semua tempat yang dikunjungi hari ini. Ia menobatkan semua tempat tersebut di atas sebagai tempat paling favorit. Sementara Abiy memilih Borobudur dan Prambanan sebagai dua destinasi wisata paling favorit dalam kunjungan sehari ke Yogyakarta yang penuh kesan.

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau