Partai demokrat

Pernyataan yang Terus Diulang

Kompas.com - 06/02/2013, 02:04 WIB

"Kami percaya Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat mampu menyelesaikan masalah ini”. ”Ketua Dewan Pembina perlu segera turun tangan dan pasti punya cara menyelesaikannya”.

Demikian pernyataan yang biasa disampaikan kader Partai Demokrat jika ditanya tentang elektabilitas partainya yang terus turun.

Jika pertanyaan dilanjutkan tentang bagaimana menyelesaikan isu korupsi yang menimpa sejumlah kader Partai Demokrat, yang diduga jadi sebab utama penurunan elektabilitas, jawaban akan ditambah. ”Kami percaya dan menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum”.

Berbagai pernyataan seperti di atas sejak hari Minggu lalu kembali nyaring terdengar. Persisnya setelah Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil surveinya yang menyatakan, elektabilitas Partai Demokrat tinggal 8,3 persen atau terendah sejak Pemilu 2004. Kondisi ini diduga dipicu opini publik bahwa banyak kader partai itu terlibat korupsi.

Hal yang agak mengejutkan, tanggapan terhadap hasil survei SMRC ini mula-mula disampaikan oleh kader Partai Demokrat yang menjadi menteri. Mereka antara lain Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syarifuddin Hasan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik, serta Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin. Roy Suryo yang belum genap satu bulan menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga juga turut berkomentar.

”Saya bersama para menteri dan gubernur yang berasal dari Partai Demokrat sudah sepakat agar dia (Yudhoyono) mengambil langkah secepatnya untuk menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap partai ini,” ujar Jero Wacik (Kompas, 4/2).

Padahal, berkali-kali Yudhoyono meminta para menteri lebih berkonsentrasi pada tugas pokoknya. ”Tapi, ini malah menteri dari Partai Demokrat yang di tengah tugasnya bicara tentang partai. Bahkan, ada yang menyampaikan pernyataan itu di kantor menteri,” kata Yunarto Wijaya dari Charta Politika.

Pernyataan berulang

Terlepas dari itu semua, tidak hanya baru kali ini para menteri itu yang umumnya anggota Dewan Pembina Partai Demokrat menyampaikan permintaan tersebut. Permintaan serupa bahkan telah disampaikan dalam Rapat Dewan Pembina (Wanbin) Partai Demokrat, 24 Januari 2012. ”Untuk solusi, semua anggota Wanbin menyerahkan kepada Ketua Wanbin Susilo Bambang Yudhoyono,” kata Wakil Ketua Wanbin Marzuki Alie saat itu (Kompas, 26/1/2012).

Permintaan serupa disampaikan forum pendiri dan deklarator Partai Demokrat. Mencari fungsionaris Partai Demokrat untuk menyampaikan permintaan serupa juga bukan hal sulit.

Sebaliknya, menanggapi turunnya elektabilitas Partai Demokrat dan permintaan untuk turun tangan, Yudhoyono juga seperti telah memiliki sejumlah jawaban. Misalnya, beberapa kali

dia minta kader partainya yang tidak menjalankan politik bersih, cerdas, dan santun segera meninggalkan Demokrat. Namun, tidak disebutkan dengan jelas sosok yang dimaksud.

Yudhoyono juga hampir selalu punya jawaban sama atas permintaan agar Anas Urbaningrum nonaktif dari jabatannya sebagai ketua umum. Pasalnya, sejumlah kasus yang diduga melibatkan Anas, seperti korupsi pembangunan kompleks olahraga di Hambalang, menjadi salah satu sebab utama anjloknya elektabilitas Demokrat.

Atas permintaan agar Anas mundur, Yudhoyono hampir selalu menjawabnya agar menunggu proses hukum. Pernyataan itu, antara lain, disampaikan Yudhoyono seusai menerima sembilan pendiri dan deklarator Partai Demokrat di Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat, pada 5 Februari 2012.

”Tidak ada penonaktifan Saudara Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum PD. Mengapa? Karena proses hukum di KPK masih berjalan. Kita pegang asas praduga tak bersalah. Kita tak bisa mendahului KPK,” ujar Yudhoyono saat itu (Kompas, 6/2/2012).

Rekaman

Masalahnya, KPK punya banyak kasus yang harus ditangani dan (seharusnya) tidak dapat didesak-desak. Anas juga belum mau nonaktif karena belum ada proses hukum untuknya.

Mendengar pernyataan sejumlah elite Partai Demokrat menanggapi kasus yang hampir dua tahun terakhir menghinggapi partai mereka seperti mendengarkan rekaman.(M herNoWO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau