Jelang pencoblosan

Anak Muda, Tentukan Pilihanmu

Kompas.com - 07/02/2013, 02:39 WIB

Musik rock instrumental dari band Flukeminimix berdesing kencang saat calon gubernur Jawa Barat Rieke Diah Pitaloka tiba, Senin (4/2) malam. Calon wakilnya, Teten Masduki, sudah duduk di sofa Swarga Kafe, Bandung. Bersalaman, keduanya lantas menikmati musik post-rock yang disukai komunitas musik indie Bandung.

Band Flukeminimix adalah penampil pertama dalam acara bertajuk Rock The Vote yang digagas pendukung Rieke-Teten. Deugalih and Folks dan Time Bomb Blues juga ikut meramaikan acara. Rieke juga ikut serta membacakan tiga judul puisi dari bukunya berjudul Sumpah Saripah.

Panggung Rock The Vote itu tak terlalu ramai. Wartawan, panitia, dan relawan Rieke-Teten justru terlihat lebih banyak ketimbang para pengunjung lain. Pengunjung rata-rata berumur dua puluhan tahun. Usia yang sudah dianugerahi hak pilih.

Sebelumnya, acara ini diadakan di Rolling Stones Cafe, Jakarta, 22 Januari lalu. Bintang-bintang yang tampil, antara lain, Efek Rumah Kaca, Iwa K, dan Jubing Kristanto.

Rock The Vote pertama kali populer di Amerika Serikat pada 1992. Mengutip dari situs resminya, Rock The Vote ingin membangun kesadaran berpolitik generasi muda.

Strateginya, menggabungkan budaya pop dengan ranah politik. Ikon budaya pop, seperti penyanyi Madonna, Bono vokalis band U2, Eddie Vedder dari Pearl Jam, dan aktor Leonardo DiCaprio, mendorong anak muda ikut menentukan pemimpin mereka melalui pemilu. Gerakan itu tak menyebutkan secara gamblang dukungannya terhadap salah satu kandidat presiden AS.

Penggagas Rock The Vote melansir cara ini efektif meningkatkan partisipasi pemilih usia di bawah 30 tahun. Dari 18 persen pada pemilihan presiden 2008 menjadi 19 persen empat tahun kemudian. Hasilnya, Barack Obama terpilih menjabat presiden untuk kedua kali.

Potensi yang sama coba diarah penyelenggara Rock The Vote di Bandung. Gustaff Hariman, penggiat seni Bandung, mengatakan, potensi suara anak muda amat besar. Mengutip data Komisi Pemilihan Umum Jabar, pemilih muda di provinsi itu 7 juta-12 juta orang dari total potensial pemilih 36,6 juta orang.

”Jumlah itu sangat potensial untuk membawa perubahan melalui partisipasi pada pemilihan gubernur,” kata Gustaff.

Ikut menentukan

Rohman dari kelompok musik Jasad mengatakan, generasi muda sebaiknya ikut menentukan nasib sendiri. Anak muda bisa berperan mewujudkan pimpinan bersih dan bertanggung jawab di Jabar.

”Memilih adalah hak setiap warga negara. Saya sudah bosan dengan keadaan sekarang. Di Jabar bukan lagi Bhinneka Tunggal Ika, tetapi Bhinneka Tunggal Teunggeul. Perbedaan justru melahirkan pertikaian,” ujarnya.

Irama musik folk rock milik Deugalih and Folks membuat Rieke mengangguk-anggukkan kepala. Rieke seperti tahu, personel Deugalih and Folks membawa pesan lewat lima lagu yang dibawakannya.

”Kami prihatin dengan kondisi lingkungan dan masyarakat. Contohnya, lagu ’Earth’, yang bercerita tentang banyak pohon ditebang demi kepentingan penguasa,” katanya.

Meski tampil dalam acara yang digagas salah seorang calon gubernur Jabar, personel Deugalih and Folks, Galih Nugraha Su, mengatakan tidak berusaha mengarahkan penonton memilih pasangan tertentu.

”Siapa pun yang terpilih harus memperjuangkan rindangnya pohon hingga ketersediaan air bersih,” katanya.

Namun, bagi Herry Sutresna, pentolan kelompok hip-hop Homicide, perubahan dari anak muda tidak harus melalui kotak suara. Anak muda bisa terjun ke kelompok tani atau buruh pabrik untuk mewujudkan perubahan. ”Anak muda Bandung lebih banyak tahu penangkapan koruptor oleh KPK ketimbang nasib dua petani tertindas di Pangalengan saat menuntut tanah yang dicaplok pemerintah,” ujarnya.

Pada 24 Februari, pemuda di Jabar ditantang menentukan sikap. Bisa lewat kotak suara atau aksi nyata di lapangan. Atau, mungkin keduanya bisa berjalan bersamaan. Anak muda, tentukan pilihanmu. (HEI/CHE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau