Dua minggu menjelang Pemilihan Umum Kepala Daerah Jawa Barat, pilihan masyarakat mengerucut pada dua pasangan calon petahana, Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar dan Dede Yusuf Macan Effendi-Lex Laksamana. Namun, pergeseran dukungan masih berpeluang besar terjadi hingga saat pencoblosan, 24 Februari 2013.
Survei Litbang Kompas yang diselenggarakan terhadap 1.200 responden di 26 kabupaten/kota di Jawa Barat memperlihatkan, dukungan yang cukup besar akan diperoleh dua calon petahana itu.
Dari total responden, 19,3 persen menyatakan akan memilih calon yang kini menjabat sebagai Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (Aher) dan pasangannya, Deddy Mizwar, jika pilkada dilakukan saat penelitian. Hanya selisih 1 persen di bawahnya, petahana lain, Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf yang berpasangan dengan Lex Laksamana mendapat dukungan 18,3 persen. Masih sulit menentukan siapa yang lebih unggul di antara kedua pasangan ini mengingat perolehannya masih dalam rentang margin of error penelitian, yakni ± 2,8 persen.
Selanjutnya, pasangan Irianto MS Syafiuddin (Yance)-Tatang Farhanul Hakim didukung 9,3 persen responden, pasangan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki 6,9 persen, dan Dikdik M Arief Mansur-Cecep Nana Suryana Toyib 1 persen.
Namun, responden yang belum menentukan pilihan sebanyak 45,3 persen sehingga perubahan komposisi atau penambahan dukungan sangat mungkin terjadi.
Jika ditilik lebih jauh, dukungan terkuat yang diberikan kepada Aher ataupun Dede Yusuf terpola di wilayah tertentu. Wilayah Bandung Raya yang terdiri atas Kota Bandung, Kota Cimahi, serta Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat merupakan daerah ”panas” bagi keduanya. Masing-masing calon memiliki basis cukup kuat mengingat area ini, selain dekat pusat pemerintahan, juga lumbung suara bagi keduanya saat berpasangan merebut posisi Jabar 1 dan 2 pada 2008.
Pasangan Aher-Deddy Mizwar yang didukung tiga partai Islam (PKS, PPP, PBB) dan Hanura cenderung meraih dukungan besar di wilayah perkotaan, seperti Bandung dan sekitarnya, termasuk Sumedang dan Cimahi serta wilayah megapolitan, seperti Bekasi, Depok, dan Bogor. Sementara itu, duet Dede Yusuf-Lex Laksamana, di samping memiliki basis kuat di wilayah Bandung Raya, juga memperoleh banyak penggemar di Priangan Timur.
Satu-satunya tantangan yang cukup berat bagi calon petahana adalah pasangan calon Irianto-Tatang di kawasan Cirebonan (Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Majalengka). Berdasarkan hasil survei, empat dari 10 responden di wilayah pantai Utara Jabar menyatakan akan memilih pasangan yang diusung Partai Golkar ini. Proporsi calon pemilih petahana di wilayah ini kurang dari separuh proporsi calon pemilih Yance-Tatang. Cengkeraman Golkar, terutama di Kabupaten Indramayu, belum tergoyahkan sejak terpilihnya Yance sebagai bupati dua periode, 2001-2011.
Berbagai faktor dapat menggoyahkan keyakinan dan bahkan menggeser dukungan ke calon lain. Dalam konteks Pilkada Jawa Barat 2013, kasus dugaan suap impor daging sapi jadi faktor sangat berpengaruh bagi perubahan dukungan kepada calon.
Pekan lalu, saat responden survei diminta tanggapan kembali terhadap kasus penangkapan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, kemungkinan terjadinya pergeseran dukungan itu semakin jelas terekam. Terdapat 24,3 persen responden dari total pemilih Aher-Deddy Mizwar yang mengaku goyah. Dari jumlah yang terpengaruh tersebut, 9,1 persen cenderung akan berpindah dukungan kepada pasangan Dede Yusuf-Lex Laksamana dan 6,1 persen ke pasangan Irianto-Tatang. Satu dari empat responden yang terpengaruh kasus petinggi PKS itu menyatakan sekarang belum punya pegangan.
Jika dilihat berdasarkan wilayah, para responden yang berdomisili di perkotaan, seperti wilayah sekitar megapolitan dan Bandung Raya, merupakan calon pemilih yang sangat terpengaruh oleh kasus tersebut. Wilayah perkotaan ini terutama dihuni pemilih yang rasional.
Perubahan peta politik Jabar merekam sosok pesohor sebagai faktor penting. Pada Pemilu 2009, Jabar tergolong banyak mendudukkan wakil rakyat dari kalangan artis. Dari 15 anggota DPR terpilih yang berlatar belakang artis, delapan orang di antaranya dari Jabar. Ajang pilkada saat ini pun menguatkan hal itu.
Rieke Diah Pitaloka merupakan kandidat yang tingkat popularitasnya paling tinggi di luar calon petahana. Empat dari 10 responden bisa menyebutkan secara tepat latar belakang profesi mantan pemeran Oneng dalam sinetron Bajaj Bajuri ini. Partai politik pengusung ataupun asal daerah Rieke pun disebut dengan tepat oleh 36,5 persen responden. Anggota DPR dari Komisi X ini terutama populer di Tatar Pamalayon, yakni Kota Bekasi, Bogor, dan Depok. Namun, tingkat keterkenalan ini tak berbanding lurus dengan tingkat keterpilihannya. Sejauh ini, dukungan kepada dirinya masih di bawah calon-calon lain.
Calon petahana, Dede Yusuf, pun tak lepas dari atribut pesohor. Tak kurang dari sepertiga responden bisa menyebut secara tepat parpol pengusung pasangan Dede Yusuf-Lex Laksamana. Faktor pesohor ini membuat pasangan Dede Yusuf-Lex Laksamana lebih banyak dipilih kaum hawa dibandingkan pria.
Dari aspek pendidikan terlihat kecenderungan tertentu. Mereka yang berpendidikan dasar dan menengah merupakan pemilih potensial Dede-Lex ataupun duet Yance-Tatang. Sebaliknya, pemilih berpendidikan menengah dan tinggi tampaknya cenderung ke pasangan Aher-Deddy atau Rieke-Teten.
Aspek etnisitas juga cukup menonjol pada pemilih Yance-Tatang. Di antara tiga etnis besar yang menghuni Jabar, yaitu Sunda, Jawa, dan Betawi, pemilih pasangan ini terbanyak berasal dari etnis Jawa. (BI PURWANTARI, Litbang Kompas)