Tradisi Bau Nyale Diharapkan Menarik Wisatawan

Kompas.com - 13/02/2013, 16:46 WIB

MATARAM, KOMPAS.com - Tradisi "bau nyale" atau menangkap cacing laut di obyek wisata Pantai Seger, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat pada 2013 diharapkan dapat  menarik minat wisatawan berkunjung ke daerah itu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah, H Lalu Putria di Praya, Rabu (13/2/2013), mengatakan tradisi bau nyale yang akan digelar pada 2-3 Maret 2013 akan berlangsung lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Tradisi bau nyale yang digelar setiap tahun di obyek wisata Pantai Seger, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, itu selama ini diikuti ribuan pengunjung termasuk wisatawan mancanegara. Pada 2013 diharapkan lebih ramai lagi. Persiapan telah dilaksanakan sejak enam bulan lalu," katanya.

Putria mengatakan, pihaknya akan mengundang jurnalis dari dalam dan luar negeri untuk meliput acara bau nyale agar gaungnya bisa sampai ke mancanegara. Tradisi bau nyale telah menjadi kalender tahunan pariwisata NTB.

Untuk menginformasikan mengenai acara bau nyale tersebut Pemkab Lombok Tengah juga telah menyebearluaskan melalui jaringan internet termasuk obyek-obyek wisata menarik lainnya yang ada di daerah ini.

Acara bau nyele akan diisi dengan berbagai atraksi budaya, antara lain drama musik kolosal yang menceritakan kisah legenda Putri Mandalika, yang melibatkan ratusan warga termasuk seniman dan tokoh adat di Kabupaten Lombok Tengah termasuk para siswa.

Selain itu juga akan digelar parade budaya melibatkan para seniman dan masyarakat dari 131 desa di 15 kecamatan se-Kabupaten Lombok Tengah,  termasuk dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD).

Ritual bau nyale juga akan dimeriahkan permainan rakyat, seperti "perisaian" (saling pukul dengan rotan dilengkapi tameng terbuat dari kulit kerbau) dan sejumlah kesenian lainnya.

Putri Mandalika

Tradisi bau nyale itu diangkat dari legenda Putri Mandalika. Konon pada zaman dahulu di pantai Selatan Pulau Lombok, berdiri sebuah kerajaan yang bernama Tunjung Bitu. Kerajaan tersebut diperintah oleh seorang raja yang bernama Raja Tonjang Beru dengan permaisurinya Dewi Seranting.

Tonjang Beru adalah seorang raja yang arif dan bijaksana. Seluruh rakyatnya hidup makmur, aman dan sentosa. Mereka sangat bangga mempunyai raja yang arif dan bijaksana itu. Raja Tonjang Beru memiliki seorang putri yang cantik jelita, cerdas dan bijaksana, namanya Putri Mandalika.

Selain itu cantik dan cerdas, Putri Mandalika juga terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya sangat lembut. Seluruh rakyat negeri sayang terhadap sang Putri. Kecantikan dan keelokan perangai Putri Mandalika sudah tersohor ke berbagai negeri, bahkan sampai ke negeri seberang.

Para pangeran dari berbagai kerajaan juga telah mendengar berita tersebut. Setiap pangeran yang melihat kecantikan dan keanggunan putri itu tertarik untuk mempersuntingnya.

Namun karena tidak ingin mengecewakan para pengeran tersebut dan menghindari terjadinya peperangan, akhirnya sang putri menceburkan dirinya ke laut yang kemudian dipercaya menjelma menjadi nyale (sejenis cacing laut) yang muncul setiap tahun pada bulan Maret.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau