Perkeretaapian

Tiket Elektronik KRL Akan Diberlakukan Mulai Maret

Kompas.com - 14/02/2013, 03:23 WIB

Jakarta, Kompas - Tiket elektronik kereta rel listrik atau KRL akan diberlakukan untuk Commuter Line Bogor/Depok- Jakarta Kota mulai Maret ini.

Untuk tahap awal ini, satu tiket elektronik hanya berlaku untuk satu kali perjalanan.

Manajer Komunikasi PT KAI Commuter Jabodetabek Eva Chairunisa, Rabu (13/2), mengatakan, tiket elektronik ini secara bertahap akan menggantikan tiket kertas.

”Di tahap awal, penumpang masih harus antre di loket dan menyebutkan tujuan perjalanan, jenis kereta, dan jumlah tiket yang ingin dibeli. Petugas memasukkan data pemesanan, diikuti dengan penyerahan kartu tiket, baik dari mesin maupun secara manual,” kata Eva.

Membuka pintu

Kartu tiket ini sekaligus menjadi alat untuk membuka pintu masuk ke peron. Di stasiun tujuan, penumpang juga harus memasukkan kartu tiket ke mesin sebelum meninggalkan stasiun.

Kartu penumpang ini juga sekaligus bisa memberikan data jumlah penumpang yang turun di setiap stasiun tujuan. Selama ini, menurut Eva, tidak ada data penumpang yang akan turun di setiap stasiun. ”Di masa datang, kami juga akan memberlakukan tiket dengan model kartu yang berisi saldo tertentu. Saldo ini terpotong ketika pengguna menggunakan KRL,” kata Eva.

Peralatan pendukung tiket elektronik ini sudah disiapkan di 24 stasiun yang ada, di antaranya Bogor-Jakarta Kota. Selain membutuhkan kesiapan peralatan, petugas loket juga akan dipersiapkan menghadapi peralihan sistem ini.

Kerja sama PT Telkom

Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Tri Handoyo mengatakan, tiket elektronik KRL diharapkan bisa mendukung rencana pemerintah untuk mewujudkan program integrasi antarmoda dan sistem pembayaran elektronik.

Penyediaan tiket elektronik ini dijalankan melalui kerja sama dengan PT Telkom, khususnya dalam pengelolaan sistem tiket elektronik. PT Telkom juga yang melakukan pemeliharaan dan pengoperasian perangkat keras, perangkat lunak, dan infrastruktur pada sistem ini.

Sebelum pemberlakuan tiket elektronik dengan model seperti ini, PT KCJ memberlakukan tiket berlangganan bulanan.

Sistem ini dihapus mulai 1 Desember 2012 karena dianggap merugikan pelanggan yang tidak menggunakan kartu selama 30 hari penuh atau saat ada gangguan perjalanan kereta.

Tutup ”pintu tikus”

Secara terpisah, Kepala Humas PT KAI Daop 1 Purbawa mengatakan, rencana pemberlakuan tiket elektronik ini juga diikuti dengan persiapan stasiun.

”Sekarang sedang tahap penyelesaian pemasangan peralatan di setiap stasiun lintas Bogor,” ujar Purbawa.

Selain itu, setiap stasiun yang menggunakan tiket elektronik juga dipersiapkan menggunakan satu akses keluar/masuk stasiun. Hal ini untuk memudahkan pengecekannya. Karena itu, ”pintu tikus” yang selama ini masih ada di stasiun juga akan ditutup.

”Pembersihan kios dari peron juga merupakan bagian untuk pemberlakuan tiket elektronik ini. Nantinya, peron hanya khusus untuk penumpang,” kata Purbawa. Setelah tiket elektronik diberlakukan, Purbawa mengatakan, pihaknya akan terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaannya.

Selain itu, di banyak stasiun juga sudah disiapkan lahan parkir agar pengguna kereta bisa memarkir kendaraannya sebelum menggunakan KRL. (ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau