MAKASSAR, KOMPAS.com -- Pasca-peledakan bom molotov di beberapa gereja Makassar, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) meninjau lokasi kejadian, Jumat (15/2/2013). Selama dua hari di Makassar, belum ditemukan adanya indikasi aksi teroris dalam kejadian tersebut.
Saat mengunjungi gereja Toraja Mamasa, Jalan Dirgantara, Kecamatan Panakukang, Jumat (14/02/2013), Komisioner Sub Komisi Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Siane Indriani mengatakan, kejadian ini mengingatkan akan adanya pesan yang mengusik dan mengganggu ketentraman kehidupan umat beragama.
"Ada usaha untuk membenturkan secara horizontal kaitannya dengan agama dan mulai masuk ke wilayah yang sensitif ," katanya.
Siane juga mengatakan, pihaknya sudah bertemu langsung dengan Kapolda Sulselbar, Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi Mudji Waluyo. Dalam pertemuan itu, ia mengingatkan Mudji agar peristiwa ini menjadi perhatian utama. Dimana, rentetan peristiwa pelemparan bom molotov di lima gereja memasuki wilayah sangat sensitif yang mengusik ketentraman umat beragama.
"Kami sudah sampaikan ke Kapolda agar peristiwa ini diusut dan jangan sampai berlarut-larut karena sudah memasuki daerah sensitif, dan bisa mengganggu kerukunan umat beragama," tandas Siane.
Dia juga berharap pada tokoh masyarakat agar tetap mempererat persatuan dan selalu berhati-hati dengan adanya peristiwa ini.
"Saya harap semua tokoh masyarakat bisa saling menjaga dan berhati-hati oleh isu-isu yang dapat memancing terpecahnya kerukunan antarumat beragama," harapnya.
Disinggung adanya motif dugaan teroris, Siane menegaskan hingga saat ini belum ditemukan. Menurutnya, peristiwa ini lebih cenderung dikatakan teror psikologis.
"Belum ada dugaan tindakan teroris, namun bisa dikatakan ini teror psikologis," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Abdul Azis mendesak Polda Sulsel segera mengungkap kasus pelemparan bom molotov terhadap 5 gereja di kota Makassar.
"Kami harap Polda segera mengungkap secara profesional rentetan kasus pelemparan terhadap rumah ibadah, apapun motifnya," kata Abdul Azis.
Belum terungkapnya kasus ini, LBH menilai aparat Kepolisian lemah dalam melakukan deteksi dini, terutama dari intelejennya.
"Yang pasti, pihak kepolisian sangat lemah dalam mendeteksi secara dini dari intelejen kepolisian, karena peristiwa yang sama sudah terjadi di beberapa tempat secara beruntun atau berantai. Sementara, sampai sekarang aparat kepolisian belum bisa mengungkap motif dan menangkap pelakunya," tutur Azis.
Di bagian lain, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulselbar, Komisaris Besar (Kombes) Polisi Endi Sutendi mengatakan, hingga saat ini penyidik masih terus mengusut pelaku dan motif pelemparan bom molotov di gereja.
"Belum diketahui pelaku dan motif pelaku. Kami masih terus melakukan penyelidikan dan pengembangan terkait kasus ini," ucap Endi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang