A Ponco Anggoro
Tradisi Coko Iba di Weda dan Patani (Halmahera Tengah) dan Maba (Halmahera Timur) yang menyertai perayaan kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW adalah pesta rakyat. Esensinya, mempererat persaudaraan dan keguyuban masyarakat. Kalangan Muslim dan non-Muslim ikut terlibat. Tradisi ini membuat warga setempat terus kompak, jauh dari pertikaian sosial.
Pesta itu selalu digelar setiap tiga hari menjelang hari lahir Nabi Muhammad SAW. Tahun ini, pesta itu digelar pada 21 Januari lalu.
Dua hari sebelum upacara itu dilaksanakan, warga sudah menyiapkan bahan yang dibutuhkan untuk membuat topeng Coko Iba, seperti daun pandan, karton putih, dan kertas stiker. Coko Iba adalah ikon perayaan maulid warga setempat. Tak ketinggalan pakaian wajib, yang menyerupai gamis mirip daster.
”Umat non-Islam di Fidijaya ini banyak yang ikut membuat Coko Iba, memakai topeng itu, dan ikut berkeliling di jalan-jalan. Coko Iba sudah seperti permainan rakyat, tidak melihat lagi latar belakang agama seseorang,” kata Kepala Desa Fidijaya Mustafa Alting.
Fidijaya merupakan salah satu desa di Weda dengan jumlah penduduk sekitar 3.000 orang. Dari jumlah penduduk itu, separuh beragama Islam dan separuh lagi beragama Kristen.
Salah satu warga Fidijaya yang beragama Kristen, Donny Manona (40), bahkan sering membuatkan topeng Coko Iba untuk mereka yang beragama Islam. Pasalnya, tidak semua orang bisa membuat topeng itu.
Rangkaian acara diawali pada malam hari berupa pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW, zikir, dan selawat. Sudah menjadi kesepakatan turun-temurun bahwa acara diadakan di rumah marga Lukman.
Latief Lukman (64), selaku tokoh yang dituakan di marga Lukman, mengungkapkan, kesepakatan didasari sejarah bahwa saat tradisi Coko Iba diciptakan pada pertengahan abad ke-19, orang-orang marga Lukman menempati posisi-posisi penting di daerah itu. Sebutlah, misalnya, imam masjid dan sangaji (kepala wilayah adat/negeri), serta perwakilan Sultan Tidore di setiap wilayah kekuasaannya.
Meski hajatan menjadi tanggungan marga Lukman, warga dari marga lain tidak tinggal diam. Warga dari marga lain, seperti marga Somola dan Sawai, ikut membantu.
Mereka ikut terlibat, termasuk dalam pembacaan riwayat nabi, zikir, selawat. Mereka juga ikut menyiapkan bahan makanan, memasak, dan menyajikannya. Ada pula yang menyumbang uang untuk mendukung terlaksananya acara tersebut.
”Memang sudah biasa baku (saling) bantu. Tradisi Coko Iba ini bukan hanya tradisi marga Lukman, melainkan tradisi bersama sehingga kita harus saling membantu,” ujar Lastuti Hamis (51), warga Weda dari marga lain.
Seusai acara, warga duduk berkumpul untuk makan bersama. Imam Masjid Baiturahman, masjid tertua di Weda (dibangun abad ke-19), Umar bin Yahya, mengatakan, tradisi itu diwariskan leluhur.
Wakil Bupati Halmahera Tengah Soksi Ahmad mengatakan, nuansa kebersamaan itu pula yang selalu terlihat di Patani. Bahkan, di sana, masyarakat makan bersama setiap malam hari saat menjelang hingga hari maulid Nabi Muhammad SAW. Makan bersama dilakukan di jalan, di depan rumah-rumah warga, dan di bawah naungan tenda.
”Masyarakat di Patani selalu saling membantu setiap tradisi Coko Iba. Jadinya acara sangat semarak, bahkan mengalahkan acara pada hari raya besar Islam lainnya. Zikir dan makan bersama seusai zikir digelar selama satu minggu,” ucap Sekretaris Kesultanan Tidore Amin Faaroek.
Tokoh masyarakat Weda, Zainuddin Jumat (83), mengatakan, di balik riuh saling entak rotan antar-pemakai topeng Coko Iba terkandung makna solidaritas. Rotan diayunkan dan dipukulkan secara terukur sehingga tak bermaksud melukai. Saling pukul bermakna meresapi urat nadi kehidupan bermasyarakat di tiga negeri (Weda, Patani, dan Maba).
”Coko Iba merupakan warisan leluhur untuk menguatkan fagogoru, nilai-nilai yang mengikat kehidupan bersama masyarakat tiga negeri,” paparnya.
Fagogoru
Karena itu, nuansa ngaku re rasai begitu menonjol setiap Coko Iba. Selain nilai itu, seharusnya nilai-nilai lain pun dikedepankan setiap Coko Iba digelar dan seluruh nilai itu terus diingatkan kepada generasi penerus.
”Sayangnya, sekarang sudah banyak orang yang tidak tahu lagi makna di balik digelarnya Coko Iba. Yang mereka lakukan hanya memakai topeng seram itu kemudian menakut-nakuti orang yang tidak memakai topeng,” tutur Zainuddin.
Amin Faaroek menambahkan, selain untuk mengingatkan terhadap falsafah fagogoru,
”Tradisi itu dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa ada rasa takut,” tuturnya.
Inilah pesan kebersamaan dan keguyuban dari Halmahera di tengah melonggarnya kohesi sosial di beberapa wilayah Tanah Air....