Edan... China Bangun "Tembok Besar" Terbaru!

Kompas.com - 22/02/2013, 18:56 WIB

KOMPAS.com - China tampaknya tidak puas dengan memiliki hanya satu Great Wall (Tembok Besar). Kini, negara Tirai Bambu tersebut kembali membangun "Great Wall" baru. Bedanya, tembok yang mereka bangun tidak lagi menggunakan beton dan batu bata.

"Tembok Besar" yang berada di Makau tersebut mereka bangun menggunakan 85.794 Kubus Rubik. Rubik's Cube atau Kubus Rubik merupakan mainan anak-anak pengasah logika. Tujuan dari permainan ini adalah menyamakan warna yang sudah teracak di sisi-sisi kubus dengan memutar bagian kubus. Dengan perbedaan warna tersebut, maka kubus dapat dimanfaatkan sebagai mozaik.

Untuk tembok pemecah rekor ini, ke-85.794 Kubus Rubik tentu saja membentuk mozaik raksasa. Mozaik tersebut merupakan mozaik terbesar yang dibuat dari Kubus Rubik. Tidak heran, total tembok ini berukuran panjang 67 meter dan tinggi 3,9 meter.

Sebelum menyusunnya sebagai sebuah dinding utuh, masing-masing rubik harus diselesaikan lebih dahulu dengan cara manual. Di Inggris, membeli Kubus Rubik sebanyak ini dapat menghabiskan dana sebesar 857.082 poundsterling atau sebanyak Rp 12,7 miliar.

Namun, tampaknya hal tersebut bukan masalah bagi Cube Works Studio. Perusahaan tersebut sudah menunjuk pabrik lokal untuk memproduksi Kubus Rubik bagi instalasi ini.

Penggemar Rubik asal Toronto, Kanada, Cube Works Studio merupakan otak di balik instalasi. Desainer Josh Chalom, seorang pekerja asuransi dari Toronto, menghabiskan dua minggu penuh mendesain mozaik tersebut. Setiap kubus memiliki sembilan piksel dan Chalom harus memastikan tidak ada satu pun dari 772.146 piksel yang tidak sesuai tempatnya.

Untuk mewujudkan hasil karya spektakuler ini, ia tidak bekerja sendirian. Bersama arsitek grafis Nick Hall, keduanya membuat cetak biru untuk desain gambar piksel ini. Butuh 90 hari untuk menyelesaikan mozaik dan menyelesaikan Kubus Rubik satu demi satu.

Terakhir, sebuah tim terdiri dari 25 orang menyatukan model kubus-kubus yang sudah dikerjakan sebelumnya. Chalom (53) mengatakan, bahwa dirinya suka membaca Guinness World Records dan ingin menciptakan sesuatu yang luar biasa.

"Sesuatu yang membuat orang terkesima," ujar Chalom.

Menurutnya, Kubus Rubik merupakan sebuah benda yang "dekat" dengan semua orang. Siapa pun di dunia ini dapat mengkorelasikan kehidupannya dengan mainan kubus tersebut.

"Saya terinspirasi dari arsitektur luar biasa yang saya lihat di China. Ada begitu banyak gereja tua dan istimewa, dikombinasikan dengan gedung-gedung baru dan canggih," kata Chalom.

"Saya ingin menciptakan sesuatu yang menampilkan China yang lama dan baru. Saya ingin menciptakan sesuatu yang monumental dan luar biasa. Sejauh ini, reaksi dari orang-orang luar biasa," lanjutnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau