AS Kecam Rezim Suriah

Kompas.com - 25/02/2013, 02:14 WIB

damaskus, minggu - Amerika Serikat, Sabtu (23/2), mengecam rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad karena telah membantai warganya di kota Aleppo. Dalam serangkaian serangan rudal sehari sebelumnya di kota terbesar dan pusat bisnis Suriah itu, 58 orang tewas dan ratusan lain terluka.

Aleppo telah menjadi medan pertempuran paling mematikan sejak pertengahan tahun lalu. Serangan militer Assad terhadap kota itu semakin meningkat setelah pangkalan utama Tentara Pembebasan Suriah (FSA) pindah dari Turki ke Aleppo menjelang akhir September 2012.

Kecaman AS kepada rezim Assad muncul sehari setelah oposisi Suriah melancarkan protes keras terhadap komunitas internasional yang dinilai tidak peduli atas krisis Suriah, termasuk pembantaian terbaru di Aleppo. Payung oposisi Suriah, Koalisi Nasional (NC), sampai menarik diri dari sejumlah agenda pertemuan internasional untuk membahas krisis di negaranya.

Krisis Suriah juga telah meningkatkan ketegangan di perbatasan dengan negara-negara tetangga, termasuk Lebanon. Pertempuran terbaru meletus di perbatasan Suriah-Lebanon, Sabtu malam, beberapa jam setelah serangan dari Suriah menewaskan seorang pria Lebanon.

AS mengecam ”dengan kata-kata yang paling pedas” atas serangkaian serangan rudal ke Aleppo tersebut. ”Serangan itu adalah demonstrasi terbaru dari rangkaian kekejaman rezim Suriah dan kurangnya kasih sayang bagi warga Suriah yang diklaim diwakilinya,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Victoria Nuland.

Sebelumnya, Assad acap kali mengklaim bahwa dia berperang untuk mempertahankan kehormatan negara, bangsa, dan melindungi rakyatnya dari serangan kelompok ”teroris”. Nuland menilai, serangan rudal terbaru ke Aleppo justru menunjukkan satu tindakan Assad yang tidak melindungi rakyatnya dan karena itu AS mengecam rezimnya.

Assad didesak mundur

Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) melaporkan, 58 orang tewas dan lebih dari 150 orang terluka dalam serentetan tembakan rudal Suriah di Distrik Tariq al-Bab, Aleppo. Nuland pun mengulangi seruan Washington yang mendesak Assad mundur.

”Rezim Assad kini sudah tak memiliki legitimasi dan tetap bertahan di kursi kekuasaan hanya lewat tindakan brutal pasukannya,” kata Nuland.

”AS tidak melihat adanya indikasi bahwa rakyat Suriah, yang berani bertempur melawan agresi ini, akan menerima para pemimpin rezim Assad sebagai bagian dari otoritas pemerintahan transisi karena darah rakyat Suriah berlumuran di tangan mereka,” lanjut Nuland.

Komentar Washington muncul setelah NC mengumumkan akan menarik diri dari sejumlah pertemuan internasional dengan negara-negara besar. Menurut NC, sikap diam dunia internasional terhadap kejahatan yang menewaskan ratusan warga Suriah setiap hari sama saja dengan berpartisipasi dalam pembunuhan rakyat Suriah selama ini.

Menurut Ketua NC Ahmed Moaz al-Khatib, boikot terhadap pertemuan internasional itu sebagai ”protes kepada semua pemerintahan di dunia” karena tidak peduli atas pembantaian dan pembunuhan rakyat Suriah. Krisis telah menewaskan lebih dari 70.000 jiwa dan tinggal sebulan lagi memasuki tahun ketiga.

Kunjungan pertama

Menteri Luar Negeri AS John Kerry memulai perjalanan pertamanya ke luar negeri, Minggu. Tujuan pertamanya London, Inggris. Menurut rencana, dari London dia akan melanjutkan kunjungan 11 harinya ke delapan negara, yaitu Jerman, Italia, Perancis, Turki, Mesir, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Kerry mengatakan, dalam kunjungannya ini dia ingin lebih banyak ”mendengarkan”. Namun, para pemimpin negara lain justru ingin mendengarkan ide-ide segar Kerry tentang krisis Suriah, Iran, dan konflik Israel-Palestina.

Setelah London, Berlin, dan Paris, Kerry akan meneruskan kunjungannya ke Roma guna bertemu dengan wakil dari kubu oposisi Suriah sebelum melanjutkan perjalanannya. (AFP/AP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau