Pada akhir November 2012, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 4.276,14 dan kemudian naik menjadi 4.316,69 pada akhir Desember atau terjadi naik sebesar 40,55 poin dan dalam bentuk persentase sebesar 0,948 persen.
Selanjutnya IHSG pada akhir Januari ditutup pada level 4.453,7 atau terjadi kenaikan 137,01 poin atau kenaikan dalam bentuk persentase senilai 3,17 persen. Artinya, bila investor melakukan investasi pada akhir November dan dijual pada akhir Januari, investor sudah mendapatkan tingkat pengembalian sebesar 4 persen selama dua bulan dan jika disetahunkan, tingkat pengembaliannya sebesar 24 persen.
Pada 27 Februari, IHSG sudah mencapai level 4.716,42 atau terjadi kenaikan sebesar 262,72 poin atau sebesar 5,9 persen. Dengan demikian, bila ditotal mulai akhir November sampai ke akhir Februari, terjadi kenaikan sebesar 440,28 poin atau sebesar 10,30 persen. Investasi yang cukup menggiurkan karena mendapatkan tingkat pengembalian yang cukup tinggi selama tiga bulan dan jika disetahunkan telah mencapai 41,2 persen. Pertanyaan yang timbul, mungkinkah IHSG akan naik lagi dan berapa sebenarnya IHSG ini pada akhir tahun?
IHSG merupakan indikator atas perubahan harga dari seluruh saham yang diperdagangkan di bursa. Bila IHSG mengalami positif (kenaikan), investor mendapatkan keuntungan. Sebaliknya, bila negatif, investor akan mengalami kerugian. Keuntungan/kerugian yang dilihat belum merupakan keuntungan/kerugian yang direalisasikan, tetapi merupakan keuntungan/kerugian masih secara catatan.
Kenaikan harga saham bisa lebih dulu dari kenaikan pendapatan sebenarnya dalam perusahaan. Kenaikan harga saham ini menyatakan perusahaan diharapkan mengalami pertumbuhan sehingga direfleksikan pada harganya. Akibatnya, harga saham secara keseluruhan (IHSG) sering kali disebut sebagai leading indikator ekonomi, menyatakan indikasi awal atas kejadian ekonomi di kemudian hari.
Namun baru dua bulan
Bila diperhatikan secara saksama, IHSG terus mengalami kenaikan dan tidak ada faktor peristiwa. Bagi orang pasar yang bermain di saham, peristiwa tersebut telah terdiskon pada waktu-waktu sebelumnya sehingga kejadian sekarang hanya merupakan momentum akhir yang tidak perlu disikapi lagi.
Pada sisi lain, juga terjadi insiden di Papua tidak memperlihatkan adanya pengaruh pada IHSG. Padahal, kejadian politik bisa membuat IHSG mengalami penurunan dikarenakan munculnya ketidakpercayaan akibat situasi politik yang sedang terjadi. Sekali lagi, semua peristiwa tersebut sudah tidak diperhatikan investor karena sudah pernah muncul sebelumnya sehingga sudah diperkirakan dalam harga saham sekarang ini.
Peristiwa lain yang belum pernah terjadi akan bisa membuat IHSG bergerak turun atau efek negatif terhadap IHSG, di mana peristiwa tersebut mempunyai efek negatif, misalnya terjadi huru-hara besar. Namun, belakangan ini investor, terutama investor asing, sudah mempunyai persepsi yang sangat positif terhadap Indonesia sehingga IHSG bisa terus mengalami kenaikan. Investor tersebut sedang melihat celah/waktu atau momentum untuk melakukan investasi sehingga memberikan keuntungan kepada investor asing tersebut.
Pertanyaan yang timbul, ke manakah arah IHSG bergerak dengan memperhatikan situasi politik dan ekonomi yang sedang berlangsung. Banyak analis menyatakan bahwa IHSG akan bergerak ke arah positif di mana IHSG diperkirakan bergerak dari level 4.800 ke level 5.200 pada akhir tahun 2013.
Bila IHSG pada akhir tahun di level 4.800, terjadi pertumbuhan IHSG sebesar 11,20 persen dan dianggap ramalan yang paling konservatif. Bila IHSG pada level 5.200 pada akhir tahun, maka terjadi pertumbuhan IHSG sebesar 20,46 persen. Pertumbuhan IHSG ini didasarkan asumsi yang dipakai di mana pemerintah mempunyai asumsi seperti pada RAPBN 2013.
Pada akhir Februari 2013 IHSG sudah mencapai level 4.700 dan sudah mendekati level peramalan yang konservatif, maka bisa jadi IHSG bisa mencapai level 5.200 bukan pada akhir tahun tetapi sekitar Juni sampai Agustus? Kemungkinan IHSG bisa mencapai 5.200 sebelum akhir tahun probabilitasnya atau kemungkinannya bisa terjadi. Investor asing yang masih mendominasi transaksi di bursa akan membuat kenaikan IHSG tersebut.
Kenaikan IHSG tidak terlepas dari besarnya dana segar (baru) yang masuk ke bursa sehingga mendorong harga-harga naik. Bila dana segar itu tidak masuk, maka tidak mungkin bisa menaikkan IHSG. Situasi dunia yang masih mengalami persoalan dalam ekonomi sehingga tidak menimbulkan adanya capital gain, maka Indonesia sebagai salah satu negara yang dianggap bagus dalam mengelolanya di mana politik sedikit stabil merupakan tujuan investasi.
Persoalan mendasar yang bisa membuat IHSG akan drop bila Pemerintah Amerika Serikat melakukan kebijakan menaikkan tingkat bunga secara cepat menjadi 3 persen atau 4 persen. Adanya tingkat bunga sebesar tersebut, maka tingkat bunga dalam valuta asing 7-8 persen sehingga tingkat bunga dalam negeri secara perlahan akan naik melebihi 9 persen atau 10 persen. Adanya tingkat bunga ini akan membuat bursa saham akan mengalami penurunan.
Pada sisi lain, pemerintah bersemangat secepatnya mencabut subsidi minyak sehingga harga minyak meningkat yang menimbulkan inflasi. Belum lagi tarif tenaga listrik yang direncanakan akan mengalami kenaikan membuat inflasi sehingga berujung pada kenaikan tingkat bunga. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah sangat ditunggu-tunggu dalam rangka adanya kenaikan inflasi berujung pada kenaikan tingkat bunga.
Uraian sebelumnya sudah menjelaskan kepada kita bagaimana risiko yang akan dihadapi pada masa mendatang. Investor harus hati-hati dalam berinvestasi dengan situasi yang terjadi. Kenaikan IHSG sekarang merupakan juga momentum akan terjadi penurunan pada masa mendatang.