Venezuela

Amerika Jaga Hubungan Baik Pasca-Chavez

Kompas.com - 08/03/2013, 03:20 WIB

Caracas, Kompas - Negara-negara di Benua Amerika berharap ketidakpastian politik di Vanezuela tidak berkepanjangan setelah Presiden Venezuela Hugo Chavez meninggal. Banyak negara Amerika Latin yang bergantung pada bantuan Venezuela. Sementara Amerika Serikat berharap hubungan kedua negara menjadi lebih baik.

Presiden AS Barack Obama, Kamis (7/3), menawarkan bantuan dan akan mengirimkan delegasi resmi untuk menghadiri pemakaman Chavez, Jumat ini, sebagai langkah damai.

Chavez meninggal, Selasa, setelah mengalami serangan jantung dalam perjuangan melawan kanker selama hampir dua tahun. Hubungan AS dan Venezuela renggang karena semasa berkuasa Chavez kerap melontarkan pernyataan keras kepada AS.

Pejabat senior pemerintahan Obama mengatakan, AS berharap dapat membangun kembali hubungan baik dengan Venezuela. Namun, AS belum akan mendapatkan kepastian mengenai sikap Venezuela karena harus menunggu hasil pemilihan presiden Venezuela.

Negara-negara Amerika Latin berharap hubungan baik dengan Venezuela tak terganggu. Kuba, yang mengalami krisis ekonomi tahun 1990-an karena kejatuhan Uni Soviet, cemas akan kembali dilanda depresi jika Venezuela berubah sikap.

”Sejak Chavez sakit, orangtua saya terus berkata, ’Tuhan, jangan biarkan krisis berulang’,” ujar Francis Gomez (22), warga Pinar del Rio, Kuba.

Lebih dari 12 negara Amerika Latin dan Karibia yang perekonomiannya lemah bergantung pada miliaran dollar AS penjualan minyak Venezuela. Chavez membuat perjanjian menyatukan negara-negara itu untuk melawan Amerika Serikat.

Kuba, misalnya, menerima 92.000 barrel minyak per hari untuk memenuhi separuh kebutuhan mereka dengan nilai total 3,2 miliar dollar AS per tahun. Nikaragua mendapatkan 12 juta barrel per tahun atau senilai 1,2 miliar dollar AS. Negara lain yang juga mendapat dukungan Venezuela antara lain Dominika, Haiti, dan Jamaika.

Wartawan Kompas, Diah Marsidi, dari Rio de Janeiro, Brasil, melaporkan, jaringan televisi Brasil menyiarkan berita tentang Chavez terus-menerus. TV News Globo setiap jam menghadirkan peneliti, sejarawan, dan guru besar hubungan internasional untuk mendiskusikan masa depan Venezuela. Pada umumnya, para ahli itu mengatakan, ideologi Chavismo tanpa Chavez akan terus berjalan, seperti halnya gerakan populisme yang lain, misalnya Peronismo yang bertahan setelah Peron tiada.

Duka

Dalam suasana duka, pejabat Venezuela belum menyampaikan pernyataan tentang masa depan negeri itu. Mereka baru mengumumkan hari Jumat sebagai hari pemakaman Chavez, tanpa waktu dan tempat pemakaman.

Sejumlah kepala negara sahabat hadir melayat, termasuk Presiden Bolivia Evo Morales, sahabat dekat Chavez. Morales dan Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro berdesak-desakkan bersama massa di Akademi Militer, tempat jenazah Chavez disemayamkan. Bahkan, Morales dan Maduro sempat terjatuh. Sementara itu, Kuba mengumumkan masa berkabung selama tiga hari.

Kelompok musik melantunkan himne batalyon Chavez yang pertama saat konvoi jenazah menuju Akademi Militer Caracas. Ratusan ribu orang yang berduka berjejal di tepi jalan menyampaikan salam perpisahan. Masyarakat berbagai usia mengenakan pakaian berwarna merah, warna Partai Sosialis PSUV.

Kepala Pasukan Pengamanan Venezuela Jenderal Jose Ornella mengatakan, Chavez wafat karena serangan jantung. ”Dia tak mampu berbicara, tetapi gerak bibirnya mengatakan, ’Aku tak mau mati. Tolong jangan biarkan aku mati,’ karena dia sangat mencintai negaranya,” kata Ornella.

Dunia kini menunggu pemimpin Venezuela berikutnya. Pasukan keamanan disebar di Venezuela setelah Chavez meninggal. Namun, Menteri Luar Negeri Elias Jaua mengatakan, negara dalam kondisi aman. Militer Venezuela menunjukkan dukungan yang kuat untuk Maduro.(AP/AFP/REUTERS/bay)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau