Rumah "Kandang Besi", Sisi Gelap Hong Kong yang Gemerlap

Kompas.com - 08/03/2013, 13:10 WIB

KOMPAS.com - Di balik gemerlap Hong Kong, salah satu kota terkaya di dunia, dengan properti mewahnya, ternyata menyimpan "sisi gelap" kehidupan masyarakat kota yang tinggal di rumah-rumah sempit. Bahkan, rumah-rumah sewa itu bisa disebut sangat mirip dengan "kandang besi"!

Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin di Hong Kong ternyata sangat jelas, kendati selalu tertutup kemewahan kota seperti di kawasan elit Victoria Peak. Brian Cassey, seorang fotografer Inggris mengabadikan penderitaan kehidupan masyarakat miskon kota Hong Kong di balik gemerlap dan mewahnya kota itu.

Tak ubahnya dengan Jakarta, ratusan ribu masyarakat miskin Hong Kong pun tinggal di rumah-rumah sewa yang kumal. Bahkan, saking mahalnya harga rumah sewa, mereka rela hidup di rumah sewaan sangat sempit, yang bahkan lebih cocok disebut dengan "kandang besi" ketimbang rumah kontrakan. Namun, siapa sangka, "kandang besi" berukuran 1,8 meter x 0,6 meter itu ternyata tetap banyak peminatnya?

Leung Cho-yin (67), seorang mantan tukang daging, mengaku harus membayar HKD 1.300 atau setara Rp 1,6 juta per bulan untuk menikmati "apartemen kandang besi" berukuran 1,4 meter persegi. Namun, Cho-yin tak sendiri, karena banyak temannya yang juga senasib.

"Saya dan teman-teman di sini tidak punya pilihan lain kecuali menyewa tempat ini,” ujarnya.

"Tak ada yang bisa Anda lakukan kalau sudah begini. Saya tetap harus tinggal di sini, saya harus survive," tambah Cho-yin.

Tahun lalu, Dinas Sosial Hong Kong mencatat, sedikitnya 1,19 juta warga Hong Kong hidup dalam garis kemiskinan. Mirisnya, jumlah tersebut terus naik naik dari 1,15 juta pada tahun sebelumnya. Bahkan, data itu juga memaparkan, sepertiga populasi Hong Kong hidup di rumah-rumah susun sewa dengan subsidi dari pemerintah. Adapun 210.000 sisanya masih harus bersabar menanti dalam daftar tunggu penerima rumah subsidi tersebut.

Postur kemiskinan tersebut semakin parah lantaran semakin mahalnya harga rumah. Bank Dunia mencatat, harga rumah rata-rata di Hongkong mengalami kenaikan 23 persen dalam 10 bulan pertama tahun lalu. Hal tersebut juga berlaku di pasar perumahan sewa. Apa mau dikata?

Baca juga: Terpaksa, Profesional Muda Tokyo Hidup di "Peti Mati"!

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau