Empat Hari Terakhir Ana Mudrika, Pasien KJS Itu...

Kompas.com - 12/03/2013, 04:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anak gadis itu, Ana Mudrika, baru berusia 14 tahun. Kemiskinan membuatnya kehilangan nyawa di usia itu. Di akhir hidupnya, Ana harus tiga kali bolak-balik ke empat rumah sakit yang sama, hanya untuk berupaya mendapatkan layanan kesehatan. Kisah suram yang mungkin tak akan pernah dialami, bahkan tak pernah terbayang oleh mereka yang berkelimpahan rezeki.

"Bayangkan, kami harus bolak-balik ke empat rumah sakit masing-masing sampai tiga kali. Hasilnya, Ana tetap tak tertolong," kata Ayu Rahmawati (23), kakak sulung Ana, saat ditemui Kompas.com di kediaman mereka di Jalan Lestari 8, RT 02 RW 10 Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (11/3/2013) petang. Ayu dan Ana adalah anak pasangan Endang Lukmana (48) dan Royati (38).

Kisah duka ini bermula saat Ana sepulang sekolah, Selasa (5/3/2013), mengeluh perutnya melilit seusai memakan jajanan di sekolahnya. Sisiwa kelas 2 SMP Nusantara itu sempat mendapat perawatan dari bidan tetangganya. Namun, rasa sakit yang dialaminya tetap belum teratasi. "Jam 10 malam kami bawa dia ke RS Firdaus (Sukapura)," tutur Endang, ayah Ana.

Dua malam berlalu, sakit anak bungsu dari tiga bersaudara itu tak kunjung lenyap. Dokter mendiagnosis Ana menderita infeksi lambung. Untuk mendapatkan perawatan lebih memadai, dokter menyarankan untuk mencari rumah sakit yang memiliki peralatan lebih lengkap. "Malam Jumat (Kamis malam, red), Ibu dipanggil dokter, disuruh cari rumah sakit yang lebih lengkap," kata Endang yang berprofesi sebagai kenek kontainer pada PT Gerbang.

Dibantu istri Ketua RT 02 Tuti Handayani dan pengurus PKK Siti Nurhasanah, mereka mulai berkeliling mencari rumah sakit, berbekal Kartu Jakarta Sehat (KJS). RS Islam Jakarta Sukapura menjadi tujuan pertama. Petugas rumah sakit yang berjarak satu kilometer dari rumah Endang itu menyatakan ruang perawatan dalam keadaan penuh sehingga mereka tidak dapat menerima pasien kelas III.

Jawaban yang sama didapatkan dari RS Koja dan RS Pelabuhan, Koja. Mereka kemudian berangkat ke RS Mulyasari. "Kalau di Mulyasari kami ditolak karena katanya di situ tidak menerima pasien KJS," kata Nurhasanah yang kerap dipanggil Mimin.

Mereka kembali ke RS Firdaus tanpa membawa hasil. Kondisi Ana terlihat semakin memburuk. Sementara itu, tidak ada tindakan medis lebih baik yang diterima Ana dari RS Firdaus yang tergolong rumah sakit sederhana. Setelah meminta pendapat dari Tuti dan Mimin, keluarga akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Ana dari RS Firdaus.

Jumat dini hari itu...

Karena Ana tidak mungkin dibawa ke rumah, keluarga kemudian mengantar Ana ke RS Islam Sukapura. Petugas rumah sakit menyatakan, Ana bisa ditampung selama empat jam. Selanjutnya, ia harus mencari rumah sakit lain karena tempat tersebut sudah dipesan oleh orang lain.

Sambil menitipkan Ana di RS Islam, keluarga kembali berkeliling ke RS Koja, RS Pelabuhan, dan RS Mulyasari. Jawaban yang sama bahwa rumah sakit penuh, masih mereka terima. "Kalau di RS Pelabuhan katanya ada tempat tidur, tapi yang untuk anak kecil, di bawah 9 tahun," terang Mimin.

Keluarga dan kerabat akhirnya kembali ke RS Islam dengan tangan hampa. Saat tiba di rumah sakit, mereka mendapat kabar gembira sekaligus mengundang tanda tanya. Petugas RS menyatakan pasien yang telah memesan kamar membatalkan rencana perawatan. Karena itu, tempatnya bisa diisi Ana. "Bayangkan, kami sudah keliling cari rumah sakit sampai jam 3 subuh, pas kembali ternyata kamarnya bisa diisi," keluh Mimin.

Hasil diagnosis di RS Islam menunjukkan Ana mengalami infeksi saluran pencernaan. Karena itu, ia harus menjalani operasi dan dipindahkan ke ruang perawatan intensif (intensive care unit/ICU). Ada masalah baru. Royati mendapat informasi rumah sakit ini tak punya ICU. 

Dini hari itu lagi-lagi mereka berkeliling rumah sakit. Royati sempat menyampaikan keluhan pada petugas rumah sakit. "Saya harus cari rumah sakit ke mana lagi? Tapi petugasnya jawab, ya, usaha dong Bu, di Jakarta rumah sakit kan banyak!" tutur Royati.

Untuk mempersingkat waktu, rombongan dibagi atas dua. Mimin bersama kerabat keluarga pergi ke arah rumah sakit yang sebelumnya sudah didatangi, sedangkan Tuti dan kerabat lainnya mencari rumah sakit di wilayah Rawamangun, Jakarta Timur.

Di RS Koja mereka mendapatkan informasi yang sama bahwa ruang kelas III masih penuh. Saat berjalan menuju RS Pelabuhan, Mimin mendapat panggilan telepon dari Tuti yang mengatakan RS Admira memiliki ruang ICU yang siap menampung Ana. Namun, ada syarat harus ada keterangan diagnosis sementara dari RS Islam. Saat itu, keluarga hanya dibekali surat rujukan.

Sekembalinya rombongan ke RS Islam, mereka kembali mendapatkan informasi yang mengundang tanda tanya. Petugas rumah sakit menyatakan mereka memiliki ruang ICU yang siap merawat Ana. Setelah itu pun keluarga masih harus menunggu beberapa jam untuk untuk pemindahan Ana ke ruang ICU.

"Kami tidak diberitahukan apa maksud informasi-informasi yang tidak jelas, sebentar gini, sebentar gitu. Apa maksudnya menolak kami karena pasien KJS atau mengulur-ulur waktu biar dikasih sesuatu," kata Royati. Tapi, operasi pun harus tertunda lantaran kondisi Ana drop.

Menurut Royati, air seni Ana terlihat berwarna merah dan Ana pun tidak bisa buang air besar. Sehari kemudian, Sabtu (9/3/2013), Ana akhirnya mengembuskan napas terakhir. Ana tak pernah sempat dioperasi.

Keluarga pun masih harus membayar Rp 500.000 untuk layanan nonmedis. "Kematian anak saya sudah takdir Yang di Atas. Tapi, kalau anak saya bukan pasien KJS, mungkin pelayanan tidak seribet kemarin," ujar Endang lirih.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau