Umat Menunggu Paus Baru

Kompas.com - 14/03/2013, 02:49 WIB

Vatikan, Rabu - Untuk kedua kali, warna asap dari cerobong Kapel Sistina, Rabu (13/3) siang, masih berwarna hitam. Ini berarti Paus baru belum terpilih. Ada yang gelisah, tetapi ada yang menikmatinya. Ada rasa campur aduk menantikan Paus baru untuk menggantikan Paus Emeritus Benediktus XVI.

Asap pada hari pertama konklaf, Selasa malam, juga berwarna hitam. Dua kali pemilihan pada Rabu pagi waktu Vatikan juga menghasilkan asap hitam sebagaiman dilaporkan koresponden Kompas, Denny Sutoyo-Gerberding, dari Vatikan.

Kerumunan warga memadati Lapangan Basilika Santo Petrus yang dekat ke cerobong Kapel Sistina. Di tengah rintik hujan, mereka menantikan dengan penasaran asap yang keluar dari cerobong setinggi 2 meter di atas atap kapel itu.

Warna asap kali ini lebih jelas untuk menghindari keraguan pada konklaf terakhir tahun 2005. Saat itu, warna asap lebih kelabu dan tidak terlalu pekat.

Seusai dua pemungutan suara pada pagi hari, para kardinal kembali ke Rumah Santa Martha, mempersiapkan dua pemilihan pada petang hari. Kerumunan massa kembali bubar untuk datang lagi. Setiap hari ada dua kali pemunculan asap, seusai sesi pemungutan kedua dan keempat. Jika Paus baru terpilih pada sesi pemilihan pertama atau ketiga, asap putih segera muncul.

”Saya tidak suka asap hitam dan ingin asap putih,” kata ThankGod Okoroafor, pastor asal Nigeria yang belajar teologi di Holy Cross University, Roma. ”Namun, itu mungkin berarti kardinal perlu waktu lebih lama untuk memilih Paus,” ujarnya.

Muncul pertanyaan berapa lama konklaf kali ini akan berlangsung. ”Kita tidak memiliki konklaf lebih dari lima hari sejak 1831,” kata Thomas Reese, penulis buku Inside the Vatican.

Namun, tak semua gelisah dengan lama atau tidaknya pelaksanaan konklaf. ”Lebih banyak menanti, lebih banyak kesempatan mendapat kejutan,” kata Ludovic de Vernejouls (21), warga Paris yang belajar arsitektur di Roma.

1.005 hari

Tradisi konklaf dimulai sejak tahun 1059 melalui dekrit Paus Nikolaus II, yang memberi wewenang khusus kepada para kardinal untuk memilih Paus. Namun, saat itu proses pemilihan tidak selalu dilakukan di Roma atau Italia.

Dalam sejarah pemilihan Paus, konklaf pernah berlangsung selama 1.005 hari atau hampir 3 tahun, di Viterbo, November 1268-September 1271.

Juru bicara Vatikan, Federico Lombardi, mengisyaratkan, Paus baru terpilih pada Jumat (15/3). ”Sedikit geregetan adalah sesuatu yang baik. Jangan perkirakan sebuah presisi seperti jam Swiss,” katanya.

Selain geregetan, nuansa misteri menjadi salah satu karakter Katolik. Artinya yang terdalam adalah beberapa bagian dari iman terkadang tidak bisa terjangkau logika dan daya intelektual. Karena itu, saat konklaf berlangsung, doa-doa dan lagu-lagu Gregorian berkumandang. Ini bagian dari permohonan pada Tuhan agar para kardinal menjalankan tugas dengan baik, bukan semata-mata agar bisa memilih Paus dengan cepat.

Greg Burke, mantan wartawan Fox News yang menjadi penasihat komunikasi di Vatikan, mengatakan, hal unik seperti itulah yang membuat konklaf menjadi unik dan menarik.(REUTERS/AFP/AP/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau