Asap pada hari pertama konklaf, Selasa malam, juga berwarna hitam. Dua kali pemilihan pada Rabu pagi waktu Vatikan juga menghasilkan asap hitam sebagaiman dilaporkan koresponden Kompas,
Kerumunan warga memadati Lapangan Basilika Santo Petrus yang dekat ke cerobong Kapel Sistina. Di tengah rintik hujan, mereka menantikan dengan penasaran asap yang keluar dari cerobong setinggi 2 meter di atas atap kapel itu.
Warna asap kali ini lebih jelas untuk menghindari keraguan pada konklaf terakhir tahun 2005. Saat itu, warna asap lebih kelabu dan tidak terlalu pekat.
Seusai dua pemungutan suara pada pagi hari, para kardinal kembali ke Rumah Santa Martha, mempersiapkan dua pemilihan pada petang hari. Kerumunan massa kembali bubar untuk
”Saya tidak suka asap hitam dan ingin asap putih,” kata ThankGod Okoroafor, pastor asal Nigeria yang belajar teologi di Holy Cross University, Roma. ”Namun, itu mungkin berarti kardinal perlu waktu lebih lama untuk memilih Paus,” ujarnya.
Muncul pertanyaan berapa lama konklaf kali ini akan berlangsung. ”Kita tidak memiliki konklaf lebih dari lima hari sejak 1831,” kata Thomas Reese, penulis buku Inside the Vatican.
Namun, tak semua gelisah dengan lama atau tidaknya pelaksanaan konklaf. ”Lebih banyak menanti, lebih banyak kesempatan mendapat kejutan,” kata Ludovic de Vernejouls (21), warga Paris yang belajar arsitektur di Roma.
Tradisi konklaf dimulai sejak tahun 1059 melalui dekrit Paus Nikolaus II, yang memberi wewenang khusus kepada para kardinal untuk memilih Paus. Namun, saat itu proses pemilihan tidak selalu dilakukan di Roma atau Italia.
Dalam sejarah pemilihan Paus, konklaf pernah berlangsung selama 1.005 hari atau hampir 3 tahun, di Viterbo, November 1268-September 1271.
Juru bicara Vatikan, Federico Lombardi, mengisyaratkan, Paus baru terpilih pada Jumat (15/3). ”Sedikit geregetan adalah sesuatu yang baik. Jangan perkirakan sebuah presisi seperti jam Swiss,” katanya.
Selain geregetan, nuansa misteri menjadi salah satu karakter Katolik. Artinya yang terdalam adalah beberapa bagian dari iman terkadang tidak bisa terjangkau logika dan daya intelektual. Karena itu, saat konklaf berlangsung, doa-doa dan lagu-lagu Gregorian berkumandang. Ini bagian dari permohonan pada Tuhan agar para kardinal menjalankan tugas dengan baik, bukan semata-mata agar bisa memilih Paus dengan cepat.
Greg Burke, mantan wartawan Fox News yang menjadi penasihat komunikasi di Vatikan, mengatakan, hal unik seperti itulah yang membuat konklaf menjadi unik dan menarik.(REUTERS/AFP/AP/MON)