Ingin Hemat, Basuki Ngotot Cari Sponsor Lelang Jabatan

Kompas.com - 14/03/2013, 14:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku akan tetap memberikan kebebasan kepada perusahaan Corporate Social Responsibility (CSR) apabila ingin membantu membiayai proses pelaksanaan seleksi dan promosi jabatan terbuka atau yang lebih dikenal dengan lelang jabatan lurah dan camat. Hal itu diupayakan agar dapat menghemat pengeluaran Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) DKI 2013.

"Kami kurang berapa, kami cari saja. Banyaklah yang mau bantu, mau sampai berapa ratus juta. Kami bukan tidak punya uang, tapi tidak mau keluar uang gitu loh," kata Basuki, di Balaikota Jakarta, Kamis (14/3/2013).

Biaya seleksi lelang jabatan itu, kata dia, masih dalam tahap penghitungan di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI. Basuki memprediksi untuk menseleksi sekitar Rp 40.000 hingga Rp 50.000 orang yang ingin menjadi camat dan lurah, dapat menghabiskan anggaran sekitar Rp 6 miliar-Rp 7 miliar. Anggaran itu, merupakan total apabila ditambah dengan jasa konsultan.

Basuki menginginkan ada tim konsultan untuk melakukan seleksi, sehingga proses lelang jabatan dapat berjalan transparan dan terbuka. Pria yang akrab disapa Ahok itu memberikan rincian perhitungannya.

"Tempat, komputer, snack kita punya. Untuk pelatihan konsultan, kami paling punya dana Rp 200 juta saja. Kalau dikurangi makan, tempat diklat, komputer, penginapan, paling tinggal Rp 2 miliar-Rp 3 miliar misalnya. Kami cari donatur yang mau bantu Rp 500 juta, sepuluh orang jadi donatur sudah Rp 5 miliar," ujar mantan Bupati Belitung Timur itu.

Langkah Basuki untuk menggandeng pihak swasta membantu membiayai lelang jabatan, dipertanyakan DPRD DKI. Hal itu menyebabkan lelang jabatan menjadi sarat konflik kepentingan. Namun, Basuki tak mengindahkan imbauan dari DPRD DKI.

"DPRD persoalkan ya, kalau selama kami tidak pakai uang APBD. Dulu mereka juga persoalkan pajak online, e-ticketing, tapi jalan saja. Hehehe," ujarnya.

Pemprov DKI akan segera melaksanakan sistem lelang jabatan atau yang kini dikenal dengan sebutan seleksi dan promosi jabatan terbuka. Sebagai uji coba, lelang jabatan akan disasar untuk jabatan lurah dan camat. Pemprov DKI pun akan memulai pendaftaran sistem lelang jabatan pada awal April ini. Semua lurah dan camat yang masih aktif menjabat diperbolehkan mengikuti proses lelang jabatan, termasuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) fungsional dan struktural Pemprov DKI sejumlah 44.970 orang.

Terdapat beberapa tahapan dalam proses lelang jabatan ini. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Struktural, untuk jabatan lurah, seorang PNS harus masuk dalam golongan terendah III B, tertinggi III D, dan memiliki eselon IV A.

Untuk jabatan camat, PNS harus masuk golongan terendah III D dan tertinggi IV B dengan minimum pendidikan sarjana S-1. Selain itu, lurah dan camat yang saat ini masih aktif menjabat juga diperbolehkan untuk mengikuti lelang jabatan.

Berita terkait, baca :

GEBRAKAN JOKOWI-BASUKI

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau