MRT Segera Direalisasikan

Kompas.com - 24/03/2013, 05:30 WIB

Jakarta, Kompas - Megaproyek transportasi massal cepat berbasis rel, MRT, di Jakarta bakal segera direalisasikan. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Sabtu (23/3), mengatakan, pembangunan fisik ditargetkan akan dimulai dalam satu bulan ke depan.

”Saya ingin semuanya dipercepat. Saya minta kerjanya semua dipercepat. Kami targetkan dalam satu bulan ini sudah dimulai pembangunan fisik,” kata Jokowi.

Pesan itu telah disampaikan Jokowi sebelumnya kepada direksi PT MRT Jakarta yang baru ditunjuk dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) luar biasa, Jumat sore. RUPS memutuskan Dono Boestami, yang sebelumnya menjabat Chief Financial Officer Indonesia Infrastructure Finance, sebagai Direktur Utama PT MRT Jakarta.

Selain Dono, RUPS juga menetapkan M Nasir sebagai Direktur Konstruksi PT MRT menggantikan Wisnu Subagyo Yusuf, Albert Farah sebagai Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT menggantikan Rachmadi, dan Tuhyat menjadi Direktur Keuangan PT MRT menggantikan Erlan Hidayat.

Dono, menurut Jokowi, telah melalui uji kelayakan dan kepatutan sebelum ditunjuk menjadi dirut. ”Dinilai sudah bagus. Saya juga sudah ketemu (Dono). Dari sisi jaringan, beliau ada. Dari sisi kapasitas, terutama pengelolaan keuangan, beliau punya rekam jejak bagus. Ini terkait uang yang tidak sedikit, Rp 39 triliun. Karena itu, saya minta hati-hati.”

Perombakan total seluruh jajaran manajemen dengan yang baru agar bisa bekerja sama dan segera menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada.

”Kalau disisakan, nanti ada apa-apa. Jangan sampai direksi dilihat bawahannya tidak rukun. Bawahan harus melihat ke atas itu satu,” kata Jokowi.

Lambat

Menanggapi dinamika dalam PT MRT, Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi Darmaningtyas mengatakan, terlambatnya pembangunan MRT karena faktor pengambil kebijakan. ”Keterlambatan itu bukan pada PT MRT, tetapi pada Pemerintah Provinsi DKI. MRT hanya pemborong yang bekerja berdasarkan pemilik proyek, yaitu Pemprov DKI.”

Dia mencontohkan, semasa pemerintahan Gubernur Fauzi Bowo, pembebasan lahan untuk MRT belum selesai. Selain itu, desain MRT juga diprotes oleh warga dan belum jelas penyelesaiannya. Pemilihan desain juga menjadi tanggung jawab Pemprov DKI.

Kuncinya ada di Pemprov untuk menyelesaikan soal desain, apakah tetap ada MRT layang atau tidak. Urusan pembagian beban investasi antara Pemprov DKI dan pemerintah pusat pun belum hitam di atas putih.

”Itu penting karena nantinya terkait soal subsidi tarif. Kalau persoalan-persoalan itu tidak segera dijawab, bagaimana PT MRT bisa melangkah dalam satu bulan ke depan?” ujar Darmaningtyas.

Darmaningtyas malah menagih janji Jokowi untuk membentuk tim evaluasi tentang MRT. Janji itu dilontarkan Jokowi saat dengar pendapat publik pada 20 Februari. Sampai sekarang, tim evaluasi belum terbentuk.

Setelah tim evaluasi dibentuk, hasil temuan tim menjadi dasar untuk melanjutkan proyek MRT. ”Saya khawatir beban sosial di kemudian hari akan besar,” katanya. (FRO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau