Insiden lp cebongan

Sultan: Keamanan Warga NTT Terjamin

Kompas.com - 27/03/2013, 03:42 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Pasca-penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X menjamin keamanan warga dan mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur yang bermukim di Yogyakarta.

Sultan juga berkomitmen mengawal pengungkapan kasus ini hingga tuntas dan berharap semua warga Yogyakarta lebih mengedepankan dialog daripada kekerasan.

”Saya sudah berkoordinasi dengan Gubernur NTT (Frans Lebu Raya) untuk menjamin itu,” kata Sultan, Selasa (26/3), di Kepatihan, Yogyakarta.

Sultan menyatakan sangat prihatin terhadap peristiwa penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan, Sabtu (23/3) dini hari. Menurut dia, peristiwa ini merupakan kelanjutan dari rentetan kasus kekerasan yang berulang kali terjadi di Yogyakarta.

Sultan sendiri heran mengapa akhir-akhir ini Yogyakarta yang berjuluk ”kota pendidikan”, ”kota budaya”, dan ”kota mahasiswa” justru diwarnai perilaku kekerasan. ”Saya heran mengapa selalu muncul kekerasan. Apakah masyarakat Yogyakarta sudah brutal, tidak mengerti peradaban?” kata Sultan.

Dialog

Untuk memulihkan kembali ketenteraman masyarakat NTT di Yogyakarta, Sultan akan menggelar pertemuan dan dialog, Rabu ini. Dialog ini melibatkan Sultan, warga NTT di Yogyakarta, Pemerintah Provinsi DIY dan Pemprov NTT, jajaran Korem 072/ Pamungkas, dan Polda DIY.

Sesepuh warga NTT di Yogyakarta, John S Keban, mengatakan, setelah insiden di LP Cebongan, jajaran Polda DIY serta Kodim Kota Yogyakarta dan Sleman juga bertekad menjamin keamanan masyarakat NTT di Yogyakarta.

”Mereka menjamin tragedi kemanusiaan seperti penembakan itu tidak terulang lagi. Kami imbau semua mahasiswa NTT yang sempat berhenti kuliah untuk kembali studi,” ujarnya.

Urbanus Renda, Ketua Mahasiswa Sumba di Yogyakarta, mengungkapkan, beberapa hari setelah penembakan beredar banyak pesan singkat lewat telepon seluler tentang isu adanya sweeping terhadap mahasiswa asal NTT. Karena isu ini, banyak mahasiswa NTT yang kemudian mengungsi ke luar Yogyakarta.

Jumlah mahasiswa NTT yang menuntut ilmu di Yogyakarta mencapai 13.000 orang. Ini adalah jumlah terbesar ketiga mahasiswa pendatang di DIY setelah Sumatera Utara sejumlah 18.000 orang dan Riau sebanyak 15.000 orang. Adapun total jumlah warga NTT, baik mahasiswa maupun bukan mahasiswa, yang kini tinggal di Yogyakarta mencapai 37.000 orang.

Sementara itu, empat jenazah korban penembakan kemarin telah tiba di Kupang, NTT, setelah diterbangkan dari Yogyakarta.

Jenazah Yohanes Juan Manbait dimakamkan di samping rumah duka di Kelurahan Kuanino, Kota Kupang.

Adrianus Chandra Gelagah alias Dedi diterbangkan ke Ende dengan pesawat Merpati. Dari Ende, jenazah akan melalui perjalanan darat menuju Desa Ndora, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT.

Adapun jenazah Gamelial Yermiyanto Rohi Riwu dan jenazah Hendrik Angel Sahetapi Engel akan dimakamkan Rabu ini di Kupang. (ABK/KOR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau