Gangguan keamanan

Aksi Bersenjata Kembali Usik Yogya

Kompas.com - 03/04/2013, 03:53 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Belum terungkap pelaku penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, sepuluh hari silam, Yogyakarta kembali dihebohkan oleh aksi kelompok bersenjata.

Selasa (2/4) pagi, lima orang menggasak perhiasan emas senilai Rp 6 miliar dan uang tunai Rp 30,9 juta di Pegadaian Syariah Unit Ngampilan, Jalan Letjen Suprapto 43, Yogyakarta.

Kejadian ini melengkapi trauma yang dialami masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta pasca-penyerangan kelompok bersenjata di LP Cebongan, 23 Maret lalu.

Dalam skala lebih luas, hal itu sekaligus menambah panjang daftar perampokan bersenjata di sejumlah daerah belakangan ini.

Sebagian warga heran mengapa Yogyakarta yang selama ini tenang terus terusik aksi kekerasan, seperti penembakan dan perampokan.

”Belakangan ini isi koran kerap diwarnai berita mengerikan soal Yogya,” kata Budi (35), warga Sosrowijayan, Kota Yogyakarta. Hal senada disampaikan Agustina (30), warga Mlati, Sleman.

Menutup wajah

Stefanus Supardi (72), tukang parkir yang menyaksikan kejadian itu, mengungkapkan, pukul 10.00, lima pria bersepeda motor datang ke Pegadaian. Mengenakan helm dan masker, mereka langsung masuk Pegadaian melalui pintu depan.

”Beberapa saat kemudian, tiga di antaranya keluar kantor (Pegadaian) dengan membawa ransel diikuti dua orang lainnya. Mereka memacu sepeda motor ke arah utara,” ujarnya.

Manajer Operasional Pegadaian Syariah Unit Ngampilan Slamet (47) mengungkapkan, begitu memasuki ruangan, para pelaku langsung mendorong petugas satpam masuk ke bagian dalam kantor. ”Mereka meminta kami menunjukkan kunci dan membuka brankas. Karena diancam senjata, kami tak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Begitu brankas dibuka, para perampok menggasak berbagai macam perhiasan emas yang tersimpan di laci-laci kecil di dalam brankas. Mereka juga mengambil uang tunai Rp 30,9 juta.

Kapolresta Yogyakarta Komisaris Besar Mustaqim mengatakan, saat kejadian, seorang karyawan sempat berusaha melarikan diri keluar gedung. Namun, para perampok berhasil menangkap dan mengikatnya dengan tali rafia bersama dua karyawan lain.

”Satu karyawan diminta menunjukkan brankas, sementara tiga karyawan lain diikat tali rafia. Salah satu pelaku mengancam petugas dengan menembakkan senapan ke arah meja sampai memecahkan bagian kacanya,” kata Mustaqim.

Menurut dia, pelaku menembakkan senjata dalam jarak 5 sentimeter dari meja. Namun, tembakan itu hanya memecahkan kaca meja. Peluru tidak menembus bagian kayu meja.

Dugaan sementara, satu pistol mainan yang ditembakkan merupakan senjata replika (soft gun). ”Suara letusan tidak terdengar menggelegar. Kalau memang senapan api seharusnya peluru bisa tembus meja,” ucapnya.

Aksi perampok ini hanya berlangsung sekitar 20 menit. Polisi sudah mengantongi nomor kendaraan yang digunakan untuk merampok.

Aksi perampokan ini diduga sudah direncanakan. Salah satu indikasinya, pelaku beraksi saat aliran listrik di area itu padam. Dengan sendirinya, kamera pengintai (CCTV) di Pegadaian tak berfungsi.

Kepala Polda DI Yogyakarta Brigadir Jenderal (Pol) Sabar Rahardjo meninjau lokasi perampokan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar di Jakarta, Selasa, belum dapat memastikan apakah kasus perampokan itu terkait dengan terorisme atau tidak. Demikian pula Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai.

Permaisuri Keraton Yogyakarta GKR Hemas menilai, peristiwa perampokan ini belum mengindikasikan ketidakamanan Yogyakarta. Perampokan bisa muncul di tiap daerah, tidak hanya di Yogyakarta. (ABK/TOP/FER)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau