Belajar Tak Lagi Membuat Siswa "Kasmaran"

Kompas.com - 09/04/2013, 16:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hampir genap 10 kali kurikulum pendidikan di Indonesia dibongkar pasang dan berganti nama. Namun sayangnya, tak satu pun dari hal itu mampu mendongkrak kondisi pendidikan di Indonesia secara signifikan. Lalu bagaimana sebaiknya kurikulum pendidikan yang harusnya dikembangkan di Indonesia?

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Iwan Pranoto mengatakan bahwa kurikulum yang baik adalah yang mampu meningkatkan gairah belajar anak dan membuat anak menikmati berbagai pokok bahasan yang diajarkan, baik di sekolah maupun saat belajar ulang di rumah.

"Kalau kurikulum bisa membuat anak-anak 'kasmaran' belajar, itu bagus sekali. Sejak tahun 1970-an sampai sekarang, saya tidak lihat itu," kata Iwan saat diskusi kurikulum di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (9/4/2013).

Saat ini, berbagai kebijakan pendidikan termasuk kurikulum dilakukan dengan dalih untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia di era globalisasi. Pada akhirnya, anak-anak ini terjebak dalam sebuah kompetisi yang tak berkesudahan, sedangkan semangat untuk belajarnya justru merosot tajam sehingga kehilangan kreativitasnya.

"Saat pendidikan sudah masuk ke ranah kompetisi, ini sudah tidak baik. Contoh gampangnya saja, orangtua berlomba memasukkan ke kursus agar anaknya dapat ranking satu. Ini bahaya," ujar Iwan.

"Belajar yang seharusnya menjadi kegiatan menyenangkan sudah hilang maknanya," imbuhnya.

Bahkan, kebijakan ujian nasional (UN)—yang dijadikan standar kelulusan bagi siswa—juga makin membuat belajar adalah hal yang menakutkan dan tak jarang membuat stres serta tekanan mental.

"Belajar itu sekarang hanya untuk dapat nilai dan ujian. Jelas saja kenapa anak-anak tidak suka belajar," ujarnya.

"Kurikulum dengan istilah apa pun dan metode apa pun, jika mampu membuat belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan dan membuat orang mau terus belajar dan 'kasmaran', maka itu berhasil," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau