Dengan tindakan tegas itu, Ketua Asosiasi Atletik Rusia (VFLA) Valentin Balakhnichyov memperkirakan, dalam waktu-waktu ke depan ini bakal semakin banyak terungkap kasus doping atlet Rusia. ”Jangan kaget jika Anda mendengar bakal bertambah hukuman skorsing (bagi atlet Rusia) dalam waktu mendatang,” kata Balakhnichyov.
Pernyataan itu disampaikan Balakhnichyov menyusul kunjungan sejumlah pejabat tinggi Federasi Atletik Internasional (IAAF) ke Rusia, Senin (8/4). Rusia akan menggelar Kejuaraan Dunia Atletik, Agustus mendatang. Terkait perhelatan akbar itu, Rusia meningkatkan sikap tegas dalam memerangi doping.
Dalam 12 bulan terakhir, hampir dua lusin atlet Rusia gagal dalam tes obat-obatan terlarang atau doping. Pekan lalu, VFLA menjatuhkan skors dua tahun kepada tiga atlet putri Rusia, termasuk mantan juara dunia dan juara Olimpiade Olga Kuzenkova dan Svetlana Krivelyova karena gagal dalam tes doping. Hukuman itu dijatuhkan setelah sampel hasil tes mereka diperiksa ulang.
Kuzenkova, juara lontar martil Olimpiade 2004, dinyatakan positif doping pada Kejuaraan Dunia 2005 di Helsinki, di mana dia tampil juara. Krivelyova, juara tolak peluru Olimpiade Barcelona 1992 dan Kejuaraan Dunia 2003 di Paris, juga gagal dalam tes doping di Olimpiade 2004.
Keduanya atlet top Rusia terakhir yang diganjar hukuman tegas dalam kasus doping. Menurut Balakhnichyov, situasinya bisa lebih buruk lagi. ”Ini aritmetika sederhana. Semakin sering Anda menggelar tes, semakin banyak orang yang mungkin tertangkap,” katanya.
”Bersama Badan Antidoping Rusia (RUSADA), kami menggelar tes doping lebih banyak dibandingkan dengan negara mana pun di dunia,” ujar Balakhnichyov. ”Beberapa negara hanya menggelar 500 kali tes setahun. Pada sisi lain, tahun lalu kami melakukan 3.500 kali tes dan tahun ini kami menargetkan lebih dari 4.000 tes saat ada kompetisi atau di luar kompetisi.”
”Kami juga melakukan tes lebih lengkap. Tidak hanya urine yang diperiksa, tetapi juga darah. Karena itu, tingginya jumlah hukuman skors itu tidak membuat saya terkejut. Sebaliknya, pada masa-masa ke depan, saya perkirakan jumlah itu kian banyak.”
Bulan Desember lalu, mantan juara dunia remaja jalan cepat Sergey Morozov dihukum seumur hidup oleh VFLA karena melakukan doping untuk kedua kali. ”Anda tidak bisa memerangi doping tanpa hukuman serius, skors jangka panjang,” ujar Balakhnichyov. ”Orang-orang yang bersalah harus menanggung akibatnya. Ini cara paling efektif untuk memerangi doping.”
Rusia menjadi sorotan dunia dalam upaya memerangi doping. Selain menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Atletik di Moskwa, Agustus mendatang, negeri itu juga menjadi tuan rumah Olimpiade musim dingin di kawasan resor Laut Hitam di Sochi, Februari mendatang.
Atlet lompat jauh Inggris Jade Johnson kepada BBC, Maret lalu, menyatakan, Moskwa tidak pantas menggelar Kejuaraan Dunia Atletik terkait catatan Rusia yang sering dilanda skandal doping. Pelatih Kepala Asosiasi Atletik Inggris Peter Eriksson juga mendesak adanya investigasi dalam kasus-kasus doping di Rusia.
Dengan tindakan tegas yang dilakukan Rusia akhir-akhir ini, Balakhnichyov menyatakan, negerinya ingin membantah keraguan sejumlah kalangan. ”Saya pikir, kita seharusnya meninggalkan sikap memberi label apa pun,” katanya. ”Para pelatih dan atlet Inggris lebih baik melihat lebih dekat apa yang terjadi di sini.”
Menurut Balakhnichyov, minimnya pendidikan kepada atlet merupakan salah satu alasan doping di Rusia. ”Di era Soviet, sekolah-sekolah olahraga untuk remaja dan anak-anak beserta para atlet muda menjadi tanggung jawab organisasi kepemudaan negara saat itu,” ujarnya.
”Setelah runtuhnya Uni Soviet, kami kehilangan standar moral yang mencegah atlet berbuat curang,” kata Balakhnichyov. Di samping itu, ia mengakui, RUSADA sebelumnya terfokus pada atlet elite dan mengabaikan atlet muda di mana praktik doping marak.