WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Tragedi ledakan bom di tengah ajang maraton Boston yang menewaskan tiga orang itu mendapat reaksi keras dari para pemimpin dunia.
Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pesan belasungkawanya kepada Presiden Barack Obama menyebut insiden di Boston tersebut sebagai sebuah "kejahatan barbar".
Sementara itu, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan dia sangat ketakutan saat mengetahui tragedi itu.
"Tak ada pembenaran apa pun untuk sebuah serangan kejam yang mengincar warga yang menghadiri sebuah ajang yang penuh kedamaian," ujar Merkel.
Kecaman juga datang dari Presiden Perancis Francois Hollande. Dia bahkan menyerukan solidaritas untuk pemerintah dan rakyat Amerika Serikat untuk menghadapi tragedi itu.
Perdana Menteri Italia Mario Monti dalam pesannya kepada Presiden Obama mengatakan, serangan di Boston itu dilakukan orang-orang pengecut.
"Saya yakin dalam suasana yang menyedihkan ini, Amerika memahami bagaimana bereaksi untuk menegaskan nilai-nilai peradabannya yang luar biasa," kata Monti.
Tak hanya para sekutu AS yang mengecam kebrutalan di Boston itu. Presiden Afganistan Hamid Karzai yang belakangan hubungannya kurang mesra dengan AS juga menyampaikan pesan dukanya.
"Kami sering mendapatkan serangan teroris yang menyebabkan kematian warga sipil selama bertahun-tahun sehingga rakyat kami sangat mengetahui sakit dan penderitaan yang muncul akibat insiden seperti itu," demikian ujar Hamid Karzai.
Ucapan belasungkawa, dukungan, dan kecaman terhadap serangan bom itu juga datang dari Uni Eropa dan NATO. Kedua organisasi besar itu sama-sama menyatakan keterkejutannya atas tragedi tersebut.
Reaksi juga datang dari dua nama besar di dunia lari maraton, Haile Gebrselassie dan Paula Radcliffe.
"Banyak orang 'sakit' di luar sana. Siapa yang tega melakukan hal seperti ini?" kata Radcliffe, perempuan tercepat dalam sejarah maraton lewat akun Twitter-nya.
Sementara legenda lari jarak jauh asal Etiopia, Haile Gebrselassie, mengatakan, teror di Boston sangat mengerikan.
"Maraton membawa kebersamaan di antara manusia, jadi apa yang terjadi di Boston sangat mengerikan," kata Gebrselassie.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang