Kilas

Guruh Soekarnoputra Suguhkan Karya Terbaik di Festival Seni Trenggalek

Kompas.com - 20/10/2017, 17:17 WIB


TRENGGALEK, KOMPAS.com –  Kabupaten Trenggalek Jawa Timur tahun ini kembali menjadi tuan rumah Festifal Kesenian Kawasan Selatan (FKKS). Acara ini menjadi lebih spektakuler dengan suguhan tari karya koreografer nasional Guruh Soekarnoputra.

Dalam acara konferensi pers yang berlangsung di salah satu hotel ternama di Surabaya, Selasa (17/10/2017), Guruh Soekarnoputra mengaku menyiapkan secara khusus konsep tari yang akan digelar dalam FKKS di Kabupaten Trenggalek.

“Saya akan menyuguhkan karya yang baru dan khusus untuk Trenggalek dalam festifal kesenian kawasan selatan nanti,”  kata Guruh Soekarnoputra.

Tari Bedoyo Sinowo Kumolo disiapkan Guruh untuk gelar seni di Jawa Timur.

Baca: Guruh Soekarnoputra Terjun Langsung Siapkan Festival Seni Trenggalek

Bedoyo sendiri merupakan sebuah tari khas keraton-keraton di Jawa. Guruh memberikan sentuhan-sentuhan khusus, seperti gending Jawa yang mengiringi tarian dan visualisasi penyebaran ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo.

“Tarian Jawa ini perpaduan berbagai hal, ada gagrak Jawa yang diwarnai dengan nuansa agamis yang memang Saya buat khusus untuk Trenggalek," katanya

Aneka ragam tarian dari berbagai daerah akan dipadukan oleh sang koregrafer yakni Guruh Soekarnoputra dalam sebuah pertunjukan seni yang benar-benar baru dan segar.

Tak hanya tarian, Guruh pun meminta Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak untuk menyanyikan lagu ciptaan Guruh yang pernah dinyanyikan oleh almarhum Chrisye yang berjudul “Kala Cinta Menggoda.”

Baca: Trenggalek Kembali Jadi Tuan Rumah Festival Kesenian Kawasan Selatan

Juga ada penyanyi pendatang baru Maudy Ayunda dalam Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS) ini.

Para penari yang membawakan karya besar Guruh Soekarnoputra adalah ratusan pelajar dari Trenggalek. Seratus lebih penari akan membawakan paduan tari maupun kebudayaan khas daerah di wilayah pesisir selatan Jawa Timur.

Selain Tari Jathil Turangga Yakso, Guruh secara khusus juga akan menampilkan Tari Gandrung Greget Sari. Karya tersebut merupakan perpaduan antara Tari Gandrung Banyuwangi dan Gandrung Bali, ditambah sedikit sentuhan koreografi modern.

Ia optimistis FKKS bakal menjadi salah satu agenda pariwisata andalan. Bahkan, festival seni tersebut bisa menjadi sarana promosi potensi daerah yang efektif.

Guruh Soekarnoputra (kemeja abu-abu) bersama Bupati Trenggalek Emil Dardak (kedua dari kiri) beserta istri Arumi Bachsin (kerudung merah), juga beberapa pihak dari dinas Provinsi Jawa Timur saat jumpa pers Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS) di Surabaya, Selasa (17/10/2017).
KOMPAS.com/ SLAMET WIDODO Guruh Soekarnoputra (kemeja abu-abu) bersama Bupati Trenggalek Emil Dardak (kedua dari kiri) beserta istri Arumi Bachsin (kerudung merah), juga beberapa pihak dari dinas Provinsi Jawa Timur saat jumpa pers Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS) di Surabaya, Selasa (17/10/2017).

“Saya yakin, FKKS ini bisa mengenalkan dan mengangkat wilayah-wilayah di Selatan Jawa Timur, tidak hanya di tingkat nasional bahkan sampai kancah International,” katanya.

Festival seni itu akan dilaksanakan pada 21-22 Oktober 2017 di panggung 360 Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Keindahan alam Pantai Prigi dan sederet pantai lainnya mulai dari Bangkoan, Simbaronce, hingga Pasir Putih Karanggongso layak menjadi rujukan untuk berwisata.

Pengunjung juga dapat menikmati lezatnya aneka kuliner khas pantai. Apalagi, di kawasan Pantai Prigi saat ini tengah musim panen ikan. Ikan-ikan segar bisa dipilih dan disantap sambil menikmati festival seni. (KONTRIBUTOR TRENGGALEK/ SLAMET WIDODO)


Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau