Camat Cimalaya Usul Tutup Warung "Sutil"

Kompas.com - 17/01/2008, 10:58 WIB

KARAWANG, KAMIS - Warung 'Sutil', sejenis warung remang-remang yang ada di Kampung Sukamenak, Cilamaya, Karawang, Jabar, kerap menjadi pemicu tindakan kejahatan. Oleh karena itu Camat Cilamaya Wetan, Andi Muryadi mengusulkan agar keberadaannya perlu ditutup.

"Saya sudah lapor ke Pemkab Karawang, yakni agar Satpol PP dapat segera menutup keberadaan warung 'Sutil'," katanya di Karawang, Kamis.

Hal tersebut dilakukan karena warung 'Sutil' sudah beberapa kali menjadi pemicu tindakan kejahatan, dan salah satunya seperti penembakan seorang warga bernama Darsim oleh anggota Polsek Cilamaya, hingga berbuntut pengeroyokan anggota Polsek Cilamaya itu sampai tewas dan penyerangan Polsek Cilamaya.

"(Kejadian) seperti itu tidak hanya kali ini saja. Sebelumnya juga banyak kejadian di lokalisasi itu, karena para pengunjung yang mabuk, bertengkar atau membuat onar di sekitar lokasi," katanya. 

Dikatakannya, polisi bersama aparat setempat di lokasi warung 'Sutil' sebelumnya telah melakukan razia minuman keras. Namun, karena jarak dengan perbatasan Kabupaten Subang begitu dekat, pasokan miras yang diduga datang dari wilayah Subang itu juga tidak pernah habis di lokalisasi itu. 

Atas hal tersebut, ia meminta pihak berwenang, yakni Satpol PP segera menetralisir sekira 20 warung Sutil di daerahnya dari Miras, para pekerja seks komersial (PSK) dan juga dampak buruk dari beroperasinya tempat itu.

Hingga kini sejumlah warga Kampung Sukamenak, Desa Muara Baru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang masih mengamankan diri ke luar kampung, untuk menghindari "sweeping" jajaran Polres Karawang, terkait dengan penyelidikan penyerangan Polsek Cilamaya dan pengeroyokan anggota Polsek Cilamaya Aiptu Syaeful Rahman, Jumat (11/1) lalu.

Kepala Dusun Sukamenak, Dulmatin (33) mengatakan, hingga kini sejumlah warga lelaki setempat masih memilih untuk mengamankan diri di luar kampung, agar terhindar dari 'sweeping' petugas. 

"Kami sudah menyarankan agar warga yang tidak bersalah tidak menghindari kejaran polisi. Karena jika terus menghindar, pihak kepolisian tambah curiga kepada warga," katanya. 

Dikatakannya, kebanyakan warga yang ditangkap oleh jajaran Polres Karawang ialah warga Kampung Cibango, Desa Cilamaya, Kecamatan Cilamaya Wetan. 

Penangkapan itu dilakukan karena kebanyakan dari mereka diduga ikut dalam pengeroyokan dan penyerangan Polsek Cilamaya. 

Sementara sebagian warga lain yang sempat ditangkap pihak kepolisian, kini sudah dikembalikan lagi kerumahnya masing-masing, setelah sebelumnya diminta keterangan. 

Hingga kini, aparat kepolisian setempat masih melakukan penyelidikan terkait dengan penyerangan Polsek Cilamaya dan pengeroyokan anggota Polsek Cilamaya. Bahkan, salah seorang warga yang diduga kuat mengetahui tragedi Cilamaya, kini sedang diperiksa Polres Karawang.
 
Namun belum bisa diketahui apakah yang bersangkutan terlibat dalam kasus tersebut atau hanya sebagai saksi. 
Saat dikonfirmasi, Wakapolres Karawang Kompol Iwan Iman Susilo membenarkan pihaknya telah mengamankan seorang warga sekitar lokasi kejadian. 

Ia menegaskan, pihaknya terus melakukan pengusutan terkait peristiwa yang menewaskan seorang warga Kampung Sukamenak, Darsim bin Nurman (31) karena ditembak Saeful hingga memicu terjadinya penyerangan Polsek Cilamaya. (ANT/ABI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau