Maradona Bergabung Klub Eksklusif

Kompas.com - 05/11/2008, 02:03 WIB

PARIS, SELASA - Saat Diego Maradona ditunjuk sebagai pelatih Argentina pekan lalu, ia bergabung dengan suatu klub eksklusif para bintang legendaris yang beralih karier dari pemain ke pelatih tim nasional.

Michel Platini, Franz Beckenbauer, Marco van Basten, Mario Zagallo, dan Kevin Keegan adalah beberapa nama besar yang beralih karir dari pemain menjadi pelatih.

Sementara beberapa pemain beralih karier dengan sangat mudah, yang lainnya harus bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sebagai pelatih.

Platini pernah mengatakan tentang Maradona bahwa, "Sesuatunya dapat saya lakukan dengan bola, ia dapat melakukannya dengan jeruk (orange)", tetapi persamaan antara keduanya lebih besar daripada kutukan pada diri sendiri yang akan dilakukan presiden UEFA itu.

Platini membawa Prancis menjadi juara Eropa 1984 dan kemudian dinyatakan sebagai Pemain Terbaik turnamen itu. Sementara Maradona dua tahun kemudian membawa Argentina juara Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Penerima penghargaan "Ballon d’Or" tiga kali (1983-85, Platini tiga kali bermain di Piala dunia, membantu Prancis mencapai semifinal di tahun 1982 dan 1986, memperkuat tim nasional 72 kali (49 kali di antaranya sebagai kapten), dan mencetak 41 gol.

Ia menjadi pelatih tim nasinal Prancis menggantikan Henri Michel di tahun 1988 pada usia 33 tahun, tetapi tidak dapat membawa timnya ke putaran final Piala Dunia 1990 di Italia.

Di babak kualifikasi untuk kejuaraan Eropa dua tahun kemudian, Platini tampaknya akan meraih keberhasilan, dengan Prancis tak terkalahkan menuju putaran final di Swedia.

Tetapi, tersisih di babak grup setelah penampilan buruk saat melawan tim seperti Denmarik, membuat Platini mengundurkan diri sehari kemudian.

Beckenbauer, seperti halnya rekannya dari Prancis itu, berlaga di tiga Piala dunia dan mencapai keberhasilan bersama tim Jerman di tahun 1966, 1970, dan 1974, tahun saat mereka merebut trofi pengganti Trofi Jules Rimet, yang dipertahankan empat tahun sebelumnya oleh Brasil.

The "Kaiser" menjadi kapten tahun 1971 dan membawa pulang gelar juara Eropa  setahun kemudian setelah mengalahkan Uni Sovyet 3-0. Di putaran final Euro 1976 di Yugoslavia, mereka hampir dikalahkan di final oleh Cekoslowakia.

Tetapi, tidak seperti Platini, Beckenbauer mampu menerjemahkan keberhasilannya sebagai pemain ke kemenangan manajerial.

Ia membawa Jerman Barat ke final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Di final tersebut timnya dikalahkan oleh Argentina melalui penampilan Maradona, bukan melalui sentuhan "Tangan Tuhan’, tetapi melalui sentuhan "Kaki Yang Maha Kuasa".

Beckenbauer berhasil balas dendam empat tahun kemudian diItalia, ketika Jerman mengalahkan tim Amerika Selatan itu, 1-0 dalam suatu pertandingan yang diwarnai perilaku kurang baik.

The Kaiser menjadi salah seorang dari hanya dua orang, bersama dengan Zagallo, yang merebut trofi terbesar  di sepak bola dunia tersebut sebagai pemain dan pelatih.

Sementara tampil gemilang sebagai seorang pemain, Van Basten dan Keegan menjadi tokoh kontroversial sebagai pelatih nasional.

Van Basten memerlukan waktu empat tahun sebagai pelatih nasional untuk membawa tim Belanda ke 16 besar putaran final Piala dunia 2006. Tetapi, ia menuai kecaman karena tidak menurunkan Ruud van Nistelrooy sebelum kekalahan mereka dari Portugal.

Setelah Kejuaraan eropa musim panas ini, saat Belanda mencapai perempatfinal, ia mengundurkan diri untuk menjadi pelatih Ajax.

Keegan diangkat sebagai pelatih nasional tahun 1999 dan memulai karirnya sebagai pelatih dengan meraih kemenangan 3-1 atas Polandia di kualifikasi Euro 2000. Tetapi, setelah awal yang buruk pada kualifikasi Piala dunia 2002, ia mengundurkan diri setelah perunding dengan Federasi Sepak Bola (FA) Inggris.

Tidak ada analisa keberhasilan di dalam dan di luar lapangan yang komplit tanpa menyebut nama Zagallo, yang bernama panggilan "The Professor", yang sidik jarinya berada di empat dari lima kemenangan Brasil di Piala Dunia.

Muncul dari peringkat amatir di tahun 1950-an, Zagallo berhasil meraih kemenangan di Piala dunia di Swedia tahun 1958 dan di Chile empat tahun kemudian.

Tetapi, itu belum cukup. Ia menangani skuad Brasil yang menelurkan para bintang, termasuk Pele, Carlos Alberto, jairzinho, dan Rivelino, di Meksiko tahun 1970, ketika mereka mendapat hak untuk mempertahankan trofi itu.

Setelah membawa Persatuan Arab Emirat ke Italia tahun 1990, Zagallo dipanggil oleh Brasil untuk terakhir kalinya, sebagai direktur teknik untuk putaran final 1994 di Amerika.

Bersama anak didiknya, Carlos Alberto Perreira, ia membawa lagi tim asuhannya ke final Piala dunia setelah suatu final yang tumpul melawan Italia menuju adu tendangan penalti. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau