PARIS, SELASA - Saat Diego Maradona ditunjuk sebagai pelatih Argentina pekan lalu, ia bergabung dengan suatu klub eksklusif para bintang legendaris yang beralih karier dari pemain ke pelatih tim nasional.
Michel Platini, Franz Beckenbauer, Marco van Basten, Mario Zagallo, dan Kevin Keegan adalah beberapa nama besar yang beralih karir dari pemain menjadi pelatih.
Sementara beberapa pemain beralih karier dengan sangat mudah, yang lainnya harus bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sebagai pelatih.
Platini pernah mengatakan tentang Maradona bahwa, "Sesuatunya dapat saya lakukan dengan bola, ia dapat melakukannya dengan jeruk (orange)", tetapi persamaan antara keduanya lebih besar daripada kutukan pada diri sendiri yang akan dilakukan presiden UEFA itu.
Platini membawa Prancis menjadi juara Eropa 1984 dan kemudian dinyatakan sebagai Pemain Terbaik turnamen itu. Sementara Maradona dua tahun kemudian membawa Argentina juara Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Penerima penghargaan "Ballon d’Or" tiga kali (1983-85, Platini tiga kali bermain di Piala dunia, membantu Prancis mencapai semifinal di tahun 1982 dan 1986, memperkuat tim nasional 72 kali (49 kali di antaranya sebagai kapten), dan mencetak 41 gol.
Ia menjadi pelatih tim nasinal Prancis menggantikan Henri Michel di tahun 1988 pada usia 33 tahun, tetapi tidak dapat membawa timnya ke putaran final Piala Dunia 1990 di Italia.
Di babak kualifikasi untuk kejuaraan Eropa dua tahun kemudian, Platini tampaknya akan meraih keberhasilan, dengan Prancis tak terkalahkan menuju putaran final di Swedia.
Tetapi, tersisih di babak grup setelah penampilan buruk saat melawan tim seperti Denmarik, membuat Platini mengundurkan diri sehari kemudian.
Beckenbauer, seperti halnya rekannya dari Prancis itu, berlaga di tiga Piala dunia dan mencapai keberhasilan bersama tim Jerman di tahun 1966, 1970, dan 1974, tahun saat mereka merebut trofi pengganti Trofi Jules Rimet, yang dipertahankan empat tahun sebelumnya oleh Brasil.
The "Kaiser" menjadi kapten tahun 1971 dan membawa pulang gelar juara Eropa setahun kemudian setelah mengalahkan Uni Sovyet 3-0. Di putaran final Euro 1976 di Yugoslavia, mereka hampir dikalahkan di final oleh Cekoslowakia.
Tetapi, tidak seperti Platini, Beckenbauer mampu menerjemahkan keberhasilannya sebagai pemain ke kemenangan manajerial.
Ia membawa Jerman Barat ke final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Di final tersebut timnya dikalahkan oleh Argentina melalui penampilan Maradona, bukan melalui sentuhan "Tangan Tuhan’, tetapi melalui sentuhan "Kaki Yang Maha Kuasa".
Beckenbauer berhasil balas dendam empat tahun kemudian diItalia, ketika Jerman mengalahkan tim Amerika Selatan itu, 1-0 dalam suatu pertandingan yang diwarnai perilaku kurang baik.
The Kaiser menjadi salah seorang dari hanya dua orang, bersama dengan Zagallo, yang merebut trofi terbesar di sepak bola dunia tersebut sebagai pemain dan pelatih.
Sementara tampil gemilang sebagai seorang pemain, Van Basten dan Keegan menjadi tokoh kontroversial sebagai pelatih nasional.
Van Basten memerlukan waktu empat tahun sebagai pelatih nasional untuk membawa tim Belanda ke 16 besar putaran final Piala dunia 2006. Tetapi, ia menuai kecaman karena tidak menurunkan Ruud van Nistelrooy sebelum kekalahan mereka dari Portugal.
Setelah Kejuaraan eropa musim panas ini, saat Belanda mencapai perempatfinal, ia mengundurkan diri untuk menjadi pelatih Ajax.
Keegan diangkat sebagai pelatih nasional tahun 1999 dan memulai karirnya sebagai pelatih dengan meraih kemenangan 3-1 atas Polandia di kualifikasi Euro 2000. Tetapi, setelah awal yang buruk pada kualifikasi Piala dunia 2002, ia mengundurkan diri setelah perunding dengan Federasi Sepak Bola (FA) Inggris.
Tidak ada analisa keberhasilan di dalam dan di luar lapangan yang komplit tanpa menyebut nama Zagallo, yang bernama panggilan "The Professor", yang sidik jarinya berada di empat dari lima kemenangan Brasil di Piala Dunia.
Muncul dari peringkat amatir di tahun 1950-an, Zagallo berhasil meraih kemenangan di Piala dunia di Swedia tahun 1958 dan di Chile empat tahun kemudian.
Tetapi, itu belum cukup. Ia menangani skuad Brasil yang menelurkan para bintang, termasuk Pele, Carlos Alberto, jairzinho, dan Rivelino, di Meksiko tahun 1970, ketika mereka mendapat hak untuk mempertahankan trofi itu.
Setelah membawa Persatuan Arab Emirat ke Italia tahun 1990, Zagallo dipanggil oleh Brasil untuk terakhir kalinya, sebagai direktur teknik untuk putaran final 1994 di Amerika.
Bersama anak didiknya, Carlos Alberto Perreira, ia membawa lagi tim asuhannya ke final Piala dunia setelah suatu final yang tumpul melawan Italia menuju adu tendangan penalti. (ANT)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang