PBB Evakuasi Korban

Kompas.com - 30/01/2009, 05:34 WIB
 
 
KOLOMBO, KAMIS - Personel PBB di Sri Lanka mengatakan, satu dari konvoi kendaraannya, Kamis (29/1), telah mengevakuasi ratusan warga sipil yang terluka dalam pertempuran antara pasukan pemerintah dan pemberontak Macan Tamil. Di antara para korban itu, terdapat 50 orang anak.

”Konvoi baru saja menyeberangi garis depan dengan ratusan warga sipil terluka, termasuk 50 anak yang terluka serius, dan mereka dipindahkan ke sebuah rumah sakit milik Departemen Kesehatan di Vavuniya,” papar juru bicara PBB, Gordon Weiss.

Pada hari yang sama, lembaga hak asasi manusia (HAM) internasional, Human Rights Watch (HRW), yang berkantor pusat di New York, menyerukan kepada Pemerintah Sri Lanka dan kelompok Macan Tamil Eelam (LTTE) untuk menjamin keselamatan warga tak berdosa.

Hal itu ditegaskan menyusul laporan bahwa ratusan warga sipil telah tewas dan terluka serta sekitar 250.000 warga sipil terperangkap di medan pertempuran di utara Sri Lanka.

”Situasi yang dihadapi ratusan ribu warga sipil, yang yang kondisinya sangat rentan karena terperangkap di medan perang Wanni (di Distrik Mullaittivu), menjadi semakin berbahaya,” tutur Brad Adams, Direktur HRW Asia.

Melebih-lebihkan

Sebelumnya, seperti dilaporkan BBC, Menteri Pertahanan Sri Lanka Gotabhaya Rajapakse membantah bahwa pertempuran itu telah menyebabkan sebuah krisis kemanusiaan di utara negara tersebut.

Rajapakse menegaskan, baik Komite Palang Merah Internasional (ICRC) maupun PBB, salah mengenai situasi di utara negara itu.

”Saya tidak mengatakan mereka berbohong, tetapi mereka membesar-besarkan,” ujarnya.

Dia juga mengesampingkan gencatan senjata karena alasan kemanusiaan sebab hal itu akan memberikan kesempatan kepada Macan Tamil untuk melakukan reorganisasi. ”Tujuan ofensif ini adalah untuk menumpas mereka,” katanya.

Amnesty International (AI) sebelumnya juga mengungkapkan kekhawatiran yang sama dengan yang disampaikan ICRC dan negara-negara asing terkait kehidupan warga sipil di wilayah medan perang.

”Orang-orang yang terpaksa mengungsi karena konflik mengalami kelangkaan bantuan kemanusiaan yang sangat parah, khususnya makanan, pemondokan, dan perawatan kesehatan,” kata Yolanda Foster, pakar AI yang ahli soal Sri Lanka.

Dia menambahkan, sejak 16 Januari, tidak ada konvoi makanan yang masuk ke area itu. Namun, AI melihat perhatian medis lebih menjadi prioritas untuk bisa segera merawat warga yang terluka.

Pasukan Pemerintah Sri Lanka kini semakin bersemangat untuk menyelesaikan perang dengan kemenangan di tangan mereka. Mereka terus masuk ke wilayah-wilayah hutan yang diyakini sebagai tempat perlindungan terakhir para pemberontak Macan Tamil.

Departemen Pertahanan mengatakan, LTTE telah menempatkan artileri-artileri jarak jauhnya di sebuah wilayah yang dideklarasikan sebagai ”zona aman” bagi warga sipil dan menembaki pasukan pemerintah dari tempat tersebut.

LTTE ingin menciptakan sebuah ”tragedi warga sipil pada menit-menit terakhir” karena tentara pemerintah akan segera mengalahkan mereka.

Direktur Kesehatan wilayah Mullaittivu menyatakan, lebih dari 250 warga sipil tewas dan lebih dari 1.000 lainnya luka-luka sejak awal Januari. (AP/AFP/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau