”Konvoi baru saja menyeberangi garis depan dengan ratusan warga sipil terluka, termasuk 50 anak yang terluka serius, dan mereka dipindahkan ke sebuah rumah sakit milik Departemen Kesehatan di Vavuniya,” papar juru bicara PBB, Gordon Weiss.
Pada hari yang sama, lembaga hak asasi manusia (HAM) internasional, Human Rights Watch (HRW), yang berkantor pusat di New York, menyerukan kepada Pemerintah Sri Lanka dan kelompok Macan Tamil Eelam (LTTE) untuk menjamin keselamatan warga tak berdosa.
Hal itu ditegaskan menyusul laporan bahwa ratusan warga sipil telah tewas dan terluka serta sekitar 250.000 warga sipil terperangkap di medan pertempuran di utara Sri Lanka.
”Situasi yang dihadapi ratusan ribu warga sipil, yang yang kondisinya sangat rentan karena terperangkap di medan perang Wanni (di Distrik Mullaittivu), menjadi semakin berbahaya,” tutur Brad Adams, Direktur HRW Asia.
Melebih-lebihkan
Sebelumnya, seperti dilaporkan BBC, Menteri Pertahanan Sri Lanka Gotabhaya Rajapakse membantah bahwa pertempuran itu telah menyebabkan sebuah krisis kemanusiaan di utara negara tersebut.
Rajapakse menegaskan, baik Komite Palang Merah Internasional (ICRC) maupun PBB, salah mengenai situasi di utara negara itu.
”Saya tidak mengatakan mereka berbohong, tetapi mereka membesar-besarkan,” ujarnya.
Dia juga mengesampingkan gencatan senjata karena alasan kemanusiaan sebab hal itu akan memberikan kesempatan kepada Macan Tamil untuk melakukan reorganisasi. ”Tujuan ofensif ini adalah untuk menumpas mereka,” katanya.
Amnesty International (AI) sebelumnya juga mengungkapkan kekhawatiran yang sama dengan yang disampaikan ICRC dan negara-negara asing terkait kehidupan warga sipil di wilayah medan perang.
”Orang-orang yang terpaksa mengungsi karena konflik mengalami kelangkaan bantuan kemanusiaan yang sangat parah, khususnya makanan, pemondokan, dan perawatan kesehatan,” kata Yolanda Foster, pakar AI yang ahli soal Sri Lanka.
Dia menambahkan, sejak 16 Januari, tidak ada konvoi makanan yang masuk ke area itu. Namun, AI melihat perhatian medis lebih menjadi prioritas untuk bisa segera merawat warga yang terluka.
Pasukan Pemerintah Sri Lanka kini semakin bersemangat untuk menyelesaikan perang dengan kemenangan di tangan mereka. Mereka terus masuk ke wilayah-wilayah hutan yang diyakini sebagai tempat perlindungan terakhir para pemberontak Macan Tamil.
Departemen Pertahanan mengatakan, LTTE telah menempatkan artileri-artileri jarak jauhnya di sebuah wilayah yang dideklarasikan sebagai ”zona aman” bagi warga sipil dan menembaki pasukan pemerintah dari tempat tersebut.
LTTE ingin menciptakan sebuah ”tragedi warga sipil pada menit-menit terakhir” karena tentara pemerintah akan segera mengalahkan mereka.
Direktur Kesehatan wilayah Mullaittivu menyatakan, lebih dari 250 warga sipil tewas dan lebih dari 1.000 lainnya luka-luka sejak awal Januari. (AP/AFP/OKI)