Senja Kala dalam Hidup Natalie Cole

Kompas.com - 12/03/2009, 03:11 WIB

Jimmy S Harianto

Perjalanan hidup pribadi Natalie Cole sebenarnya tak seemas suaranya. Lahir dan besar di bawah bayang-bayang popularitas mendiang sang ayah, vokalis jazz Nat King Cole, Natalie pun mengalami berbagai guncangan.

Ketika Natalie Cole tiba di Jakarta, Minggu (8/3), untuk pentasnya di Hotel Gran Melia pada hari Senin, dia batal tampil dalam jumpa pers. Padahal, sekitar 20 wartawan dari berbagai media cetak, radio, dan televisi hari Minggu siang itu sudah lebih dari satu jam menunggunya.

Maka, kurang dari separuh wartawan yang hadir pun kemudian menyusul ke Hotel Four Season yang letaknya tak jauh dari tempat rencana jumpa pers di kawasan Kuningan, Jakarta, untuk memenuhi ajakan ”kemungkinan” wawancara dengan sang bintang. Natalie Cole siang itu dikabarkan masih mengalami jetlag setelah sekitar 35 jam terbang dari Amerika Serikat ke Indonesia.

”Ia membatalkan rencana konser sebelum Jakarta, di Bangkok (Thailand). Dia hanya mau konser di Jakarta, lalu di Manila (Filipina), untuk kemudian kembali ke Amerika,” ungkap Peter Basuki dari Buena Productions yang mendatangkan sang peraih 10 Grammy Awards dalam rentang waktu tiga dasawarsa kariernya, sejak 1975 itu.

Cuci darah

Ketika melihat sejumlah wartawan di lobi hotel pun, tampak Natalie Cole memarahi sang manajer, juga beberapa orang di sekitarnya.

”Dia minta langsung diantar ke rumah sakit (Medistra di Kuningan) untuk cuci darah. Ia memang tak bersedia diwawancara karena sakitnya,” tutur Peter Basuki pula.

Natalie Cole pada September 2008 sempat dilarikan ke rumah sakit. Selain itu, dia juga menderita efek samping pengobatan antiviral Hepatitis C yang dideritanya. Ternyata dia juga harus berjuang menghadapi sakit ginjal. Dia kini harus menjalani cuci darah tiga kali setiap minggu sambil menunggu tindakan transplantasi atas ginjalnya.

Diberitakan sebelumnya, menurut Cedars Sinai Medical Center di California, pada September itu, Natalie Cole ”menderita efek samping pengobatan antiviral untuk pengobatan hepatitis C yang dideritanya”.

Efek samping yang diderita penyanyi kelahiran Los Angeles, California, 6 Februari 1950, itu meliputi kelelahan luar biasa, sakit otot, dan dehidrasi. Natalie Cole dikabarkan sudah sembuh dari efek samping pengobatan ini, tetapi belakangan diketahui ia harus berjuang melawan ”penyakit baru”-nya, berupa sakit ginjal, dan harus menjalani cuci darah seraya menunggu transplantasi ginjal.

”Ia juga batal menonton Java Jazz (di JCC Senayan), padahal saya sudah sediakan tiket untuk dia. Sebab, setelah cuci darah biasanya dia harus istirahat empat jam. Rupanya dia kliyengan (pusing) setelah itu,” kata Peter Basuki.

Bayang-bayang sang ayah

Terlahir dengan bakat dari sang ayah yang tersohor sebagai vokalis jazz, Nat King Cole, dan meninggal karena kanker paru-paru pada Februari 1965, Natalie dicatat sebagai penyanyi, pencipta lagu, bahkan juga pengaransemen yang berpengaruh di AS.

Begitu sohornya sang ayah, keluarga Nat King Cole pun menikmati berbagai ”hak istimewa”. Mereka disebut-sebut sebagai ”The Black Kennedys”, seperti layaknya keluarga hebat AS lainnya, klan Kennedy.

Mengawali sukses, pada awal kariernya sebagai penyanyi R & B, Natalie Cole kemudian mengubah dirinya menjadi penyanyi yang lebih berorientasi pada vokal jazz sejak awal tahun 1990-an.

Darah menyanyinya tak hanya mengalir dari sang ayah, tetapi juga ibunya, penyanyi orkestra Maria Hawkins Ellington. Meski bernyanyi untuk band Ellington, nama Ellington yang melekat pada sang ibu itu tak ada hubungannya dengan tokoh jazz AS terkenal, Duke Ellington.

Ketika sang ayah, Nat King Cole, meninggal tahun 1965, Natalie masih berusia 15 tahun. Apalagi setelah itu hubungannya dengan sang ibu juga memburuk.

Natalie Cole dalam buku otobiografinya, Angel on My Shoulder, yang dirilis tahun 2000, mengaku dirinya dulu pemakai narkoba, jenis heroin dan kokain. Itu dia lakukan semenjak menjadi mahasiswa di University of Massachusetts di Amherst.

Selulus dari Amherst, Natalie Cole mulai menyanyi. Pada akhir pekan, ia menyanyi di sebuah pub di Amherst, sambil bekerja sebagai kasir di sebuah toko kelontong.

Pengalaman kelamnya terjadi sepulang dari tampil bernyanyi di Toronto, Ontario, Kanada, tahun 1975. Natalie ditahan aparat keamanan karena kedapatan memiliki heroin. Dia dijatuhi hukuman percobaan dan menjalani hukuman di Kanada.

Pada suatu kesempatan sekitar tahun itu pula, ia dipertemukan dengan suami pertamanya, Marvin Yancy, di sebuah kelab malam. Bersama Chuck Jackson (saudara tokoh kulit hitam Jesse Jackson), mereka kemudian berhasil memproduksi lagu-lagu hit pada awal karier Natalie Cole, seperti ”This Will Be”, ”Inseparable”, ”Sophisticated Lady”, dan ”Mr Melody”.

Dalam perjalanan hidupnya, si suara emas yang sangat dikenal dengan ”duet”-nya bersama suara mendiang sang ayah lewat album Unforgettable... With Love ini mengalami tiga kali pernikahan. Setelah dengan Marvin Yancy (1976-1980), Natalie Cole kemudian menikah dengan pemain drum Andre Fischer (1989-1995). Kini ia masih bersuamikan Kenneth H Dupree, tetapi dikabarkan tengah mengajukan gugatan cerai.

Selain pernah ditangkap karena heroin, Natalie Cole juga pernah hampir kehilangan anaknya, Robert Adam (buah perkawinannya dengan Marvin Yancy), ketika anak tersebut nyaris tenggelam di kolam renang keluarga. Saat itu Natalie dikabarkan tengah dalam pengaruh narkoba.

Kisah-kisah kelam Natalie—yang menghasilkan tak kurang dari 27 album, belum termasuk single-nya—ini semuanya terungkap dalam buku Angel on My Shoulder, yang kemudian diproduksi dalam bentuk film televisi, berjudul The Natalie Cole Story, dan disiarkan stasiun televisi NBC, Desember 2000.

Ironi dalam hidup si suara emas itu masih terus berjalan, sampai saat menjelang usia Natalie Cole yang ke-60 pada tahun depan....


BIODATA

Nama : Natalie Maria Cole

Lahir : Los Angeles, California, AS, 6 Februari 1950

Suami:

- Marvin Yancy, 1976-1980

- Andre Fischer, 1989-1995

- Kenneth H Dupree, sejak 2001-kini

Anak : Robert Adam Yancy, lahir Oktober 1977

Pendidikan : Northfield Mount Hermon School, University of Massachusetts di Amherst, jurusan Psikologi Anak-anak, lulus 1972.

Aktivitas : Penyanyi, pencipta lagu, pianis, pemain film

Diskografi :

- Inseparable (1975)

- Natalie (1976)

- Unpredictable (1977)

- Thankful (1977)

- Natalie... Live! (1978)

- I Love You So (1979)

- We're Best Friends (1979)

- Don't Look Back (1980)

- Happy Love (1981)

- I'm Ready (1983)

- Dangerous (1985)

- Everlasting (1987)

- Good to be Back (1989)

- Unforgettable... With Love (1991)

- Take a Look (1993)

- Holly & Ivy (1994)

- Stardust (1996)

- This Will Be—Natalie Cole's Everlasting Love (1997)

- Snowfall on the Sahara (1999)

- The Magic of Christmas (1999)

- Greatest Hits Vol 1 (2000)

- Love Songs (2001)

- Ask a Woman Who Knows (2002)

- Anthology (2003)

- Leavin' (2006)

- Still Unforgettable (2008)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau