Macan Tamil Terus Melawan

Kompas.com - 24/04/2009, 06:14 WIB
 
KOLOMBO, KOMPAS.com - Kelompok separatis Macan Tamil terus melakukan perlawanan meski kini benar-benar menghadapi pemusnahan dan hanya bisa bertahan di sisa-sisa wilayah terakhir yang mereka duduki. Jejak perlawanan lebih dari 25 tahun pun tak lama lagi segera terhapus.

Pemerintah Sri Lanka, Kamis (23/4), menyatakan, tentaranya terus bergerak maju meskipun tetap mendapatkan perlawanan dari gerilyawan Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE).

Sementara PBB, Rabu waktu New York, menyampaikan kembali kekhawatiran atas situasi kemanusiaan di utara Sri Lanka, di mana puluhan ribu warga sipil diperkirakan masih terperangkap di wilayah yang dikuasai kelompok separatis Macan Tamil.

”Saya rasa Pemerintah Sri Lanka tahu bahwa seluruh dunia sangat kecewa dengan upaya mereka untuk mengakhiri apa yang dilihat sebagai 25 tahun konflik. Hal itu menyebabkan penderitaan yang tak terperikan,” kata Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton, Rabu, seperti dilaporkan The New York Times.

Korban warga sipil, dilaporkan sebuah kelompok bantuan medis, meningkat meskipun puluhan ribu warga berhasil keluar dari wilayah yang diduduki LTTE. Militer Sri Lanka menyebutkan, sekitar 102.790 warga sipil telah melarikan diri dari zona konflik sejak Senin hingga Rabu (22/4).

Kelompok bantuan medis, Dokter Tanpa Batas (MSF), mengatakan, jumlah warga sipil yang terluka semakin banyak, khususnya akibat ledakan dan tembakan.

”Kami melihat pasien-pasien yang menderita luka parah. Jumlah pasien meningkat cepat dalam tiga atau empat hari terakhir,” ungkap Paul McMaster, seorang ahli bedah dalam pernyataan yang disampaikan Doctors Without Border yang berkantor pusat di Swiss.

Sangat sesak

Dia menyebutkan, rumah sakit itu mempunyai 450 tempat tidur, tetapi jumlah pasien saat ini lebih dari 1.700 orang. Akibatnya banyak pasien terpaksa tidur di lantai, koridor, dan halaman rumah sakit. Kondisi rumah sakit sudah sangat sesak.

”Sekitar tiga perempat korban terluka yang datang saat ini menderita luka karena ledakan dan sisanya karena tembakan dan ledakan ranjau,” ujar McMaster.

Hari Rabu lalu, juru bicara Palang Merah Sarasi Wijeratne mengatakan, sekitar 1.000 orang yang terluka parah harus segera mendapatkan perawatan lebih baik atau dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik. Hanya dua rumah sakit dengan perlengkapan seadanya yang masih berfungsi di sekitar zona perang.

Khawatir akan jatuhnya lebih banyak korban warga sipil, Dewan Keamanan PBB, Kamis, sebagaimana dilaporkan The Times Online, memerintahkan gerilyawan Macan Tamil untuk menyerahkan diri dan mendesak Pemerintah Sri Lanka melindungi warga sipil serta memberikan akses bagi badan-badan bantuan internasional untuk bertemu dengan korban konflik.

DK PBB menyebutkan, saat ini Pemerintah Sri Lanka menahan sekitar 13 staf lokal PBB di kamp-kamp pemerintah dan tidak merespons permintaan badan dunia itu untuk menginformasikan jumlah korban perang atau memberi akses terhadap para pengungsi.

”Kami menuntut LTTE agar segera menjatuhkan senjata-senjata mereka, menjauhkan diri dari terorisme, mengizinkan evakuasi warga sipil yang masih ada di wilayah konflik dengan bantuan PBB, dan ikut dalam proses politik melalui dialog untuk mengakhiri konflik tersebut,” papar Claude Heller, Duta Besar Meksiko untuk PBB dan Presiden DK PBB saat ini.

Sayangnya, pernyataan ketua DK PBB itu bukan sebuah resolusi sehingga tidak mempunyai kekuatan mengikat bagi Pemerintah Sri Lanka.

Kemunduran kekuatan LTTE yang didirikan pada 1972 oleh Prabhakaran mulai terlihat dengan semakin banyaknya kecaman internasional terhadap organisasi ini karena serangan-serangan bom bunuh dirinya yang menewaskan banyak warga tidak berdosa.

Akibatnya, Macan Tamil semakin kesulitan dalam penggalangan dana di dunia internasional. Status LTTE yang oleh AS, Uni Eropa, Australia, dan India dianggap sebagai organisasi teroris membuat seluruh jaringan pendanaan organisasi ini pun ikut terkena dampaknya. Kerja sama penyitaan berbagai pasokan untuk LTTE pun dilakukan beberapa negara.

Di tubuh LTTE pun terjadi perpecahan dengan menyeberangnya tokoh nomor dua, Vinayagamoorthy Muralitharan, ke pihak Pemerintah Sri Lanka pada tahun 2004 silam. (AP/AFP/Reuters/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau