Pemerintah Sri Lanka, Kamis (23/4), menyatakan, tentaranya terus bergerak maju meskipun tetap mendapatkan perlawanan dari gerilyawan Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE).
Sementara PBB, Rabu waktu New York, menyampaikan kembali kekhawatiran atas situasi kemanusiaan di utara Sri Lanka, di mana puluhan ribu warga sipil diperkirakan masih terperangkap di wilayah yang dikuasai kelompok separatis Macan Tamil.
”Saya rasa Pemerintah Sri Lanka tahu bahwa seluruh dunia sangat kecewa dengan upaya mereka untuk mengakhiri apa yang dilihat sebagai 25 tahun konflik. Hal itu menyebabkan penderitaan yang tak terperikan,” kata Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton, Rabu, seperti dilaporkan The New York Times.
Korban warga sipil, dilaporkan sebuah kelompok bantuan medis, meningkat meskipun puluhan ribu warga berhasil keluar dari wilayah yang diduduki LTTE. Militer Sri Lanka menyebutkan, sekitar 102.790 warga sipil telah melarikan diri dari zona konflik sejak Senin hingga Rabu (22/4).
Kelompok bantuan medis, Dokter Tanpa Batas (MSF), mengatakan, jumlah warga sipil yang terluka semakin banyak, khususnya akibat ledakan dan tembakan.
”Kami melihat pasien-pasien yang menderita luka parah. Jumlah pasien meningkat cepat dalam tiga atau empat hari terakhir,” ungkap Paul McMaster, seorang ahli bedah dalam pernyataan yang disampaikan Doctors Without Border yang berkantor pusat di Swiss.
Dia menyebutkan, rumah sakit itu mempunyai 450 tempat tidur, tetapi jumlah pasien saat ini lebih dari 1.700 orang. Akibatnya banyak pasien terpaksa tidur di lantai, koridor, dan halaman rumah sakit. Kondisi rumah sakit sudah sangat sesak.
”Sekitar tiga perempat korban terluka yang datang saat ini menderita luka karena ledakan dan sisanya karena tembakan dan ledakan ranjau,” ujar McMaster.
Hari Rabu lalu, juru bicara Palang Merah Sarasi Wijeratne mengatakan, sekitar 1.000 orang yang terluka parah harus segera mendapatkan perawatan lebih baik atau dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik. Hanya dua rumah sakit dengan perlengkapan seadanya yang masih berfungsi di sekitar zona perang.
Khawatir akan jatuhnya lebih banyak korban warga sipil, Dewan Keamanan PBB, Kamis, sebagaimana dilaporkan The Times Online, memerintahkan gerilyawan Macan Tamil untuk menyerahkan diri dan mendesak Pemerintah Sri Lanka melindungi warga sipil serta memberikan akses bagi badan-badan bantuan internasional untuk bertemu dengan korban konflik.
DK PBB menyebutkan, saat ini Pemerintah Sri Lanka menahan sekitar 13 staf lokal PBB di kamp-kamp pemerintah dan tidak merespons permintaan badan dunia itu untuk menginformasikan jumlah korban perang atau memberi akses terhadap para pengungsi.
”Kami menuntut LTTE agar segera menjatuhkan senjata-senjata mereka, menjauhkan diri dari terorisme, mengizinkan evakuasi warga sipil yang masih ada di wilayah konflik dengan bantuan PBB, dan ikut dalam proses politik melalui dialog untuk mengakhiri konflik tersebut,” papar Claude Heller, Duta Besar Meksiko untuk PBB dan Presiden DK PBB saat ini.
Sayangnya, pernyataan ketua DK PBB itu bukan sebuah resolusi sehingga tidak mempunyai kekuatan mengikat bagi Pemerintah Sri Lanka.
Kemunduran kekuatan LTTE yang didirikan pada 1972 oleh Prabhakaran mulai terlihat dengan semakin banyaknya kecaman internasional terhadap organisasi ini karena serangan-serangan bom bunuh dirinya yang menewaskan banyak warga tidak berdosa.
Akibatnya, Macan Tamil semakin kesulitan dalam penggalangan dana di dunia internasional. Status LTTE yang oleh AS, Uni Eropa, Australia, dan India dianggap sebagai organisasi teroris membuat seluruh jaringan pendanaan organisasi ini pun ikut terkena dampaknya. Kerja sama penyitaan berbagai pasokan untuk LTTE pun dilakukan beberapa negara.
Di tubuh LTTE pun terjadi perpecahan dengan menyeberangnya tokoh nomor dua, Vinayagamoorthy Muralitharan, ke pihak Pemerintah Sri Lanka pada tahun 2004 silam.