G-20 dan Resesi Global

Kompas.com - 06/10/2009, 02:24 WIB

Oleh A Prasetyantoko

Pertemuan G-20 menumbuhkan banyak optimisme. Namun, ada sejumlah pertanyaan kunci terkait nasib kita di masa depan, di tengah konstelasi global.

Pertama, apa manfaat sekaligus risiko keikutsertaan Indonesia pada G-20? Kedua, bagaimana skenario global pemulihan krisis ekonomi, apa risiko ke depan, dan apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasinya? G-20 dideklarasikan sebagai pengganti G-8. Benarkah ”kepentingan” G-8 akan sirna begitu saja?

Kelompok G-20 terdiri atas negara G-8 ditambah Brasil, Rusia, India, China (BRIC), Indonesia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Arab Saudi, Meksiko, dan lain-lain. Mereka menguasai 85 persen PDB dunia, 80 persen perdagangan dunia, terdiri atas dua pertiga penduduk dunia. Pergeseran G-8 menjadi G-20 menandai pengakuan peran negara-negara sedang berkembang, terutama BRIC. Pengakuan ini menjadi peluang meski ada tantangan di sana.

Mata rantai global

Hampir semua analis Indonesia menilai positif masuknya Indonesia ke G-20. Hubungan sebab-akibatnya sulit dilacak. Besar kemungkinan fenomena ini tak luput dari gejala ”membeo”. Laporan Morgan Stanley (Juni 2009) lugas mengatakan, ”BRIC should include Indonesia”. Menurut perusahaan investasi ternama ini, Indonesia sudah pantas bergabung dengan BRIC.

Dengan optimisme serupa, CLSA (perusahaan investasi wilayah Asia Pasifik) mengatakan, China-India-Indonesia akan menjadi pilar penting perekonomian dunia. Disebutkan Chindia plus one atau Chindonesia. Pada September 2009, giliran Standard Chartered Bank melaporkan, Indonesia: Asia’s Emerging Powerhouse. Bukan hanya lembaga investasi yang tergiur potensi Indonesia, lembaga pemeringkat seperti Moody’s juga menaikkan peringkat utang Indonesia dari Ba3 menjadi Ba2, sekaligus menurunkan risiko bangkrut.

The Economist (10/9/2009) juga memuat laporan khusus tentang Indonesia, Indonesia: A Golden Chance. Beberapa konsekuensi jangka pendek segera muncul; modal asing jangka pendek mengalir deras lewat pembelian rupiah, saham, dan surat utang di pasar domestik.

Di tengah optimisme itu, ada kegundahan mengganggu. Jika mencermati aneka laporan itu, Indonesia jelas-jelas ditempatkan pada mata rantai global sebagai penyedia sumber energi utama (batu bara dan minyak sawit) bagi sistem produksi dunia, khususnya China dan India.

Maka, jika mengikuti begitu saja skenario itu, kita akan memiliki dua masalah penting. Pertama, struktur ekspor kita akan amat tergantung komoditas primer. Kedua, struktur industri kita akan pincang karena tidak memiliki derivasi industri hilir yang kuat. Secara singkat, nilai tambah bagi perekonomian dalam jangka panjang menjadi relatif terbatas.

Siklus resesi

Pada level global, ada pertanyaan serius terkait keberlanjutan pemulihan ekonomi. Banyak pengamat mengkhawatirkan, pemulihan akan segera diikuti siklus resesi kembali. Skenario krisis menyerupai huruf ”W”, krisis-pulih-krisis. Ada banyak alasan, tetapi yang terpenting karena pemulihan lebih didorong stimulus pemerintah, bukan oleh kekuatan alamiah (sektor swasta). Akibat stimulus, defisit pemerintah membengkak tajam dan karena itu inflasi akan terdorong naik. Untuk menutup defisit, pemerintah harus menjual surat utang dan untuk membelinya bank sentral harus mencetak uang. Pada saatnya nanti, rezim suku bunga nol persen harus diakhiri dan dari situlah persoalan akan muncul.

Skenario ini sebenarnya merupakan ciri khas perspektif neoklasik, yang amat percaya pada kekuatan pasar serta menegasi intervensi pemerintah. Kehadiran pemerintah hanya akan membuat pasar mengalami kejenuhan. Namun, ada pandangan lain yang meyakini, stimulus akan menciptakan efek pengganda yang positif dalam jangka panjang.

Peluang dan ancaman

Di luar perdebatan cara pandang itu, ada gejala nyata yang patut dicermati. Mengingat tingkat kepercayaan investor atas keberlanjutan pemulihan ekonomi di negara-negara maju tergerus, modal akan berlari ke negara sedang berkembang. Paling tidak untuk sementara. Banyak analis pasar finansial memberi nasihat, ”simpanlah uang Anda sesedikit mungkin pada dollar AS dan lebih dari separuh kekayaan Anda sebaiknya diinvestasikan di negara sedang berkembang”.

Bagi kita, fakta ini peluang sekaligus ancaman. Peluang karena modal jangka pendek akan banyak berhamburan baik ke pasar modal maupun pasar uang kita. Rupiah berpotensi menguat, sementara pasar modal dan obligasi akan lebih banyak diminati asing.

Ada dua soal yang muncul. Pertama, siapkah kita jika sewaktu-waktu para pemodal pulang ke kampung halamannya.

Kedua, mampukah kita menggunakan momentum itu untuk menarik lebih banyak modal jangka panjang.

Ujung pangkal dari seluruh potensi harapan dan masalah yang muncul di level global itu menuntut kita bekerja lebih keras. Kabinet mendatang harus lebih fokus pada masalah infrastruktur dan kelembagaan yang tak lain merupakan otot perekonomian. Jika otot kita kuat, virus kepanikan sulit membuat kita tumbang.

Sayang, perbaikan peringkat Doing Business 2010 dari 129 menjadi 122 justru dinodai dengan gejala antiklimaks pemberantasan korupsi. Kasus yang menimpa KPK bisa menjadi preseden buruk.

A Prasetyantoko Pengajar Unika Atma Jaya, Jakarta

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau