Mereka membentangkan tulisan di atas kapal berbunyi ”15-10-2009. Hidup? Mati. Mogok Makan untuk Komunitas Internasional”. Para imigran menolak meninggalkan kapal yang masih sandar di pelabuhan bongkar muat Indah Kiat, Cilegon, Banten, berdekatan dengan KRI Teuku Umar. Kemarin sore, perwakilan imigran akan diajak melihat rumah yang sedianya akan dipakai untuk menampung mereka, yang berada tidak jauh dari pelabuhan. Namun, ajakan itu ditolak. ”Kami akan tinggal di kapal ini sampai komunitas internasional datang dan memutuskan cara kami keluar dari negara ini. Kami bisa pergi ke mana saja, Selandia Baru atau Kanada, selama tidak dideportasi ke Sri Lanka,” ujar salah seorang imigran. Sebelumnya, mereka mengancam akan membakar kapal jika aparat keamanan memaksa mereka pergi. Pihak imigrasi menyatakan kesulitan mencari tempat yang cukup untuk menampung sekaligus 255 imigran. ”Cari tempatnya itu yang sulit. Ada gedung yang bisa disewa, tetapi daya tampungnya cuma 10 orang, sementara mereka tidak mau kalau dipisah, karena resistensi mereka masih tinggi,” kata Kepala Divisi Imigrasi Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Banten Harry Purwanto saat ditemui di Pelabuhan Indah Kiat. Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Cilegon Sumantri Sikite juga melontarkan hal senada. Komandan Gugus Tempur Laut Armada RI Kawasan Barat Laksamana Pertama Hari Bowo mengatakan, tindak lanjut penanganan para imigran asal Sri Langka mulai Kamis ini dilimpahkan dari TNI AL ke pihak imigrasi. Pemerintah Australia telah meminta bantuan kepada Indonesia untuk membantu menghentikan aliran pencari suaka ke negara itu. Surat kabar Australia melaporkan, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd secara pribadi telah meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada akhir pekan lalu untuk ikut campur tangan menyusul temuan intelijen Australia bahwa kapal yang membawa imigran Sri Lanka meninggalkan perairan Indonesia menuju Australia. Kepada wartawan Australia, Rudd mengatakan, dia berdiskusi dengan Presiden Yudhoyono tentang kelanjutan kerja sama dalam penanganan penyelundupan manusia. Kebanyakan penyelundup manusia membawa pengungsi ke Australia dengan perahu lewat Indonesia. Penangkapan imigran asal Sri Lanka di Indonesia telah memicu debat di Australia mengenai imigrasi ilegal. PM Rudd berada di bawah tekanan kubu oposisi konservatif untuk memperketat keamanan perbatasan. Sekitar 1.650 pencari suaka tiba di Australia sejak Januari 2009. Sebanyak 1.016 orang dan 19 awak kapal ditahan di Pulau Christmas. Australia juga terpaksa menambah kapasitas pusat tahanan di Pulau Christmas akibat kedatangan para pencari suaka ilegal.