Hutan konservasi

Rp 500 Juta untuk Bongkar Vila

Kompas.com - 15/04/2010, 03:51 WIB

Bogor, Kompas - Pemerintah serius memulihkan kawasan hutan konservasi Lokapurna di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Untuk itu, pemerintah menyediakan Rp 517,27 juta untuk program pembongkaran vila-vila dan bangunan liar di kawasan tersebut.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak Bambang Supriyanto memastikan hal tersebut setelah rapat teknis pelaksanaan operasi pembongkaran vila dengan aparat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Rabu (14/4).

Sebelumnya, Pemkab Bogor dan Departemen Kehutanan bersosialisasi mengenai rencana penyegelan dan pembongkaran vila di kawasan hutan konservasi Lokapurna, Bogor. Hadir dalam kegiatan tersebut puluhan warga pemilik vila-vila.

”Operasi pembongkaran vila di sana adalah kebijakan pemerintah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Status Lokapurna hutan konservasi. Ada anggaran untuk operasi mengembalikan fungsi itu. Dana untuk operasi pembongkaran saya terima dari Departemen Kehutanan sebesar Rp 455.180.000,” kata Bambang.

Selain dana itu, Pemkab Bogor menganggarkan Rp 62,090 juta untuk membantu pelaksanaan operasi pembongkaran vila di sana. Total dana yang dianggarkan untuk operasi itu mencapai Rp 517,27 juta. Ada pula anggaran sebesar Rp 433,809 juta untuk program kampung konservasi bagi pemberdayaan penduduk setempat, yang berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

”Jadi, operasi pembongkaran vila di sana jalan terus. Tidak ada kompromi lagi,” kata Bambang.

Namun, Bambang belum memastikan jadwal pembongkaran vila. Alasannya, Pemkab Bogor memerlukan surat dari pemerintah pusat mengenai kepastian pengembalian fungsi konservasi kawasan hutan Lokapurna adalah keharusan.

”Kami buat surat pernyataan bagi keperluan administrasi pemkab, kami tidak bernegosiasi atau kompromi lagi. Pembongkaran vila suatu keharusan,” kata Bambang.

Di tempat lain, Pemerintah Provinsi Banten dan Perum Perhutani mengembangkan perluasan hutan rakyat sebagai upaya mencegah bertambahnya lahan kritis sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

”Sekarang, pohon, seperti durian, nangka, dan melinjo, ditebangi. Kalau ini dibiarkan, lahan kritis akan meningkat,” kata Direktur Utama Perum Perhutani Upik Rosalina di Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Penebangan pohon penghasil buah itu berpotensi menghilangkan kekhasan atau keunggulan produk daerah, seperti halnya durian dan emping melinjo yang banyak diproduksi warga di Pandeglang.

Menurut Upik, kebutuhan kayu di Jawa sekitar 6 juta meter kubik per tahun. Antara 900.000 dan 1 juta meter kubik di antaranya berasal dari Perhutani.

(RTS/CAS)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau