Uji Demokrasi (Partai) Demokrat

Kompas.com - 27/04/2010, 04:58 WIB

Oleh J Kristiadi

Hubungan demokrasi dan kehadiran partai politik seharusnya bersifat kasualitas dan saling membutuhkan. Masyarakat demokratis memproduksi partai politik, sementara parpol mendorong masyarakat menjadi demokratis. Namun, aksioma itu belum terjadi di Indonesia. Relasi keduanya justru paradoksal dan ironis. Masyarakat bergerak dinamis semakin demokratis, parpol sebagai pilar utama demokrasi malahan cenderung oligarkis, bahkan membangun wangsa politik turun-menurun.

Dinamika internal partai mengalami kejumudan sehingga cenderung berbanding terbalik dengan tuntutan masyarakat agar partai politik lebih terbuka, demokratis, dan mempergunakan standar meritokratik dalam melakukan perekrutan politik. Selain itu, parpol juga mereduksi martabatnya sendiri dari lembaga perjuangan menjadi sekadar ”perahu” yang selalu siap disewa asalkan kontraknya cocok; mengantar siapa pun menuju ke pusat kenikmatan kekuasaan.

Oleh karena itu, tingkat kredibilitas partai tidak kunjung meningkat. Perilaku parpol seperti itu dikhawatirkan mengundang sentimen antipartai yang meluas sebagaimana pernah terjadi di Eropa Barat dan Selatan. (Richard Gunther, Jose Ramon Montero, dan Juan J Linz (Eds), Political Parties: Old Concept and New Challenges, Oxford University Pers, 2002).

Atmosfer politik di atas merupakan ujian berat bagi Partai Demokrat yang akan berkongres pada akhir bulan Mei. Pertanyaan pokoknya adalah apakah Partai Demokrat mampu membebaskan diri dari jeratan godaan kekuasaan yang nikmat, tetapi menghancurkan. Sebelum belenggu menjerat terlalu erat ia harus dipotong.

Mata rantai pertama yang harus dihilangkan adalah ”budaya restu” dalam pemilihan ketua umum. Restu Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, memang dianggap ampuh untuk memperoleh dukungan untuk menjadi orang nomor satu di Partai Demokrat mengingat SBY adalah figur karismatik yang membuat partai berjaya. Karena itu, dalam intensitas yang berbeda, kandidat ingin memberikan kesan mereka mendapatkan blessing dari SBY.

Isu yang dapat membawa partai ke arah patronase politik ternyata lebih dominan dibandingkan dengan wacana pentingnya melembagakan proses demokrasi internal partai ataupun urgensi pendidikan politik. Hasil survei LP3ES dengan responden Ketua DPD/DPC Partai Demokrat seluruh Indonesia, beberapa minggu lalu, lebih dari 35 persen responden menyatakan supaya SBY netral dan sekitar 55 persen mengharapkan SBY hanya menyebutkan kriteria.

Meskipun isu restu terus menggelinding, mereka yang merasa dekat dengan SBY mengatakan hal itu ”sangat tidak SBY”. Tegasnya, bukan watak SBY melakukan favoritisme kepada kandidat tertentu. Keraguan itu mudah dipahami karena SBY tidak akan mendelegitimasi, apalagi mendiskreditkan dirinya dengan memberikan preferensi terhadap kandidat tertentu. Melakukan campur tangan secara tak demokratis juga akan menghancurkan kepercayaan konstituensi, bahkan publik terhadap Partai Demokrat.

Selain itu, partai berlambang segitiga itu juga akan kehilangan kesempatan emas untuk menunjukkan kepada publik, ia berbeda dengan parpol lain yang cenderung mengabaikan prinsip demokratis dan meritokratik dalam melakukan rekrutmen politik. Karena itu, sepantasnya SBY memberikan iktibar untuk tidak melakukan hal-hal yang mengarah kepada sentimen antidemokrasi.

Bahwa kandidat merasa mendapat restu harus dipandang sebagai bagian dari siasat politik untuk memenangi pertarungan. Masih banyak cara bagi SBY untuk tetap mengontrol ketua umum, misalnya dengan membuat struktur organisasi partai yang memberikan kewenangan ketua umum hanya sebagai pelaksanaan harian dari suatu lembaga atau majelis yang adalah penentu kebijakan partai.

Ujian yang tidak kalah beratnya adalah menghindarkan kongres dari politik uang. Gejala ini perlu dicermati mengingat politik uang selalu menyambangi dan membayangi setiap organisasi, terutama parpol dalam melakukan pemilihan pengurus. Pernyataan SBY mengenai bahaya politik uang sebagaimana dikutip di atas sebaiknya tidak hanya dibiarkan menjadi retorika kosong, tetapi harus dilaksanakan dalam partainya terlebih dahulu.

Misalnya, dewan pembina membentuk tim independen dengan tugas khusus mengawasi secara ketat proses pemilihan ketua umum agar tidak terjadi politik uang. Dengan demikian, Partai Demokrat akan melakukan langkah awal dari upaya reformasi parpol yang dewasa ini sangat dirasakan mendesak dilakukan.

Kongres bulan depan juga harus dijadikan momentum bagi Partai Demokrat untuk melakukan konsolidasi partai. Sebab itu, politik citra harus digantikan dengan politik yang didasarkan realitas. Membiarkan politik citra hanya akan membuat partai menjadi mudah kempis dan lama kelamaan akan menggerus kesadaran politik masyarakat dan digantikan dengan halusinasi politik.

Terakhir, kompetisi memperebutkan ketua umum bukan perang Bharatayudha yang harus saling mematikan. Kongres adalah pertarungan memperebutkan kedudukan senopati perang agar diperoleh kesatria yang paling digdaya sehingga mampu membawa partai menjadi sarana memperjuangkan kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

J Kristiadi Peneliti Senior CSIS

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau