Minuman keras

Pesta Arak, 36 Keracunan dan 1 Tewas

Kompas.com - 23/05/2010, 17:59 WIB

TABANAN, KOMPAS.com - Sedikitnya 36 warga Banjar Tohjiwa, Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali, harus dilarikan ke RSUD Tabanan, Bali.

Satu dari dua warga yang dirujuk ke RSUP Sanglah, Denpasar, akhirnya meninggal dengan dugaan kuat mengalami intoksinasi atau keracunan metanol setelah pesta arak.

Kepala Polres Tabanan AKBP AA Made Sudana yang dihubungi dari Denpasar, Minggu (23/5/2010), membenarkan hal itu.

"Positif satu warga meninggal setelah dilarikan ke RSUP Sanglah, Minggu dini hari sekitar pukul 00.00. Satu warga lainnya di rumah sakit yang sama masih kritis. Kami masih terus pantau kasus ini," kata Sudana.

Warga yang tewas adalah I Gede Nyoman Budiarta (25), sementara temannya yang dinyatakan kritis adalah I Wayan Sukarja (25). Keduanya mengalami gejala-gejala intoksinasi metanol, seperti pusing dan mata kabur.

Menurut Sudana, warga dari kalangan pemuda Banjar Tohjiwa menggelar kumpul-kumpul di salah satu rumah warga pada Jumat (21/5/2010) malam atau sehari sebelum perayaan Kuningan di Bali.

Malam sebelum hari raya itu biasa disebut sebagai penampahan Kuningan. Rupanya kumpul-kumpul itu diisi dengan minum-minuman keras oplosan. "Bahan utama berupa arak yang dibeli di salah satu warung desa setempat," kata Sudana.

Kepolisian Tabanan menyita beberapa barang bukti, berupa sisa arak oplosan yang diminum warga serta beberapa perkakas yang digunakan, antara lain gelas dan tempat minuman. Barang-barang itu tengah diperiksa di Labfor Cabang Denpasar.

Polisi secara simultan juga tengah menyelidiki tempat pembuatan arak itu. Berdasar keterangan saksi, arak itu saat akan dikonsumsi lebih dulu dioplos dengan beberapa cairan, seperti cairan vitamin dan minuman kesehatan.

Kepala Humas RSUD Tabanan, Made Suarjaya, menyatakan, para pemuda Tohjiwa itu datang secara bergelombang ke RSUD Tabanan hingga kemarin siang. Total jumlahnya 36 orang, termasuk dua yang dirujuk ke RSUP Sanglah karena kritis. Satu warga yang kritis itu akhirnya meninggal.

"Hingga Minggu malam ini masih ada satu warga yang dirawat di RS kami, atas nama Nyoman Astawa (23). Sisanya menjalani rawat jalan dengan opsi segera dilarikan ke RS apabila kondisi mereka memburuk. Status mereka terus diobservasi oleh pihak RS," kata Suarjaya.

Sudana mengaku sangat menyesalkan kejadian ini mengingat cukup seringnya terjadi kasus keracunan metanol yang berakibat pada kematian di Bali.

Sejak awal tahun ini ia mengaku sudah mengingatkan hal itu lewat bendesa adat di seluruh wilayah Tabanan. Catatan Kompas, sedikitnya terdapat dua kasus menonjol tentang keracunan metanol yang berujung pada kematian di Bali.

Yakni, tewasnya 12 warga Denpasar dan Badung pada Januari lalu setelah menggelar pesta minuman keras, serta dua warga Klungkung akibat hal serupa, Maret lalu.

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau