Simon Saragih
Pluralisme pemerintahan AS bukan saja terlihat dari keberadaan Barack Obama sebagai Presiden AS berkulit hitam. Gary Locke, Menteri Perdagangan AS, juga merupakan personifikasi pluralisme itu.
Bukan itu saja, tampaknya Locke paham akan keadaan di luar AS. Kemacetan luar biasa Jakarta pada pagi hari membuat
”Tidak masalah, tenang saja,” kata Locke, generasi ketiga keturunan China, dengan nenek moyang asal Guangzhou, China, yang sudah menunggu 45 menit. Raut wajah dan bahasa tubuhnya juga tidak menunjukkan kejengkelan luar biasa, sebagaimana jika kita bertemu orang Barat yang umumnya berkarakter
Locke menikahi Mona Lee Locke, mantan wartawan televisi KING 5 di Seattle, 15 Oktober 1994, dan dikaruniai putra-putri: Emily Nicole (13) dan Dylan James (11).
Jika saja tidak dibatasi protokoler, Locke tak terkesan buru-buru mengakhiri wawancara. Locke, lulusan ilmu politik Universitas Yale, sedikit mengubah persepsi tentang arogansi AS, yang terkadang terkesan meremehkan bangsa lain. Namun, tidak demikian halnya dengan Locke, yang malah terkesan berkarakter Asia.
Apakah Anda bisa berbahasa China?
”Ya, saya bisa,” jawab Locke, yang pernah menjadi Gubernur Negara Bagian Washington, gubernur AS pertama keturunan China (1997-2005). Padahal,
Apakah itu memudahkan Anda untuk mendekati China, yang terkesan sangat keras menghadapi tekanan AS?
”Untuk tingkat tertentu, latar belakang saya memudahkan saya untuk bernegosiasi. Ya, akan tetapi, jangan lupa saya mewakili AS,” ujar Locke, putra pemilik sebuah toko di Seattle. Kepintaran akademis dan beasiswa membuat Locke bisa mengatasi kendala biaya dalam menimba ilmu.
AS kini menuntut China mengambangkan kurs yuan di pasar, tidak dipatok secara permanen pada level 6,82 yen per dollar AS, lebih murah 40 persen dari seharusnya, yang membuat produk China membanjiri pasar AS dan dunia.
Tuntutan AS ini dijawab China lewat ucapan Presiden Hu Jintao bahwa China akan memilih waktu yang tepat untuk melakukan reformasi rezim kurs.
Mari kita bicara soal hubungan bilateral. Adakah pesan Presiden Obama yang sedang Anda usung?
”Tentu ada, sebagai salah satu negara di mana dia menghabiskan sebagian dari waktu masa kecilnya, Obama ingin sekali memiliki kedekatan hubungan dengan Indonesia.”
Misi kali ini termasuk keinginan AS menawarkan teknologi untuk menghasilkan energi bebas polusi. ”Dari sisi ini, kedua negara bisa menjajaki hubungan bisnis yang lebih dalam. Indonesia itu memiliki banyak rakyat yang butuh listrik. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga berambisi memiliki energi bebas polusi. Ini salah satu basis kerja sama kita,” kata Locke, kelahiran Seattle, 21 Januari 1950.
Seattle adalah kota di mana Stanley Ann Dubham, ibunda Obama, pernah menghabiskan masa remaja.
Mengapa Indonesia sering menghadapi hambatan memasuki pasaran AS?
(Beberapa waktu lalu ekspor udang Indonesia dihambat masuk dengan alasan standar kesehatan. Sekarang ini ekspor kertas Indonesia menghadapi tuduhan dumping).
”Janganlah lihat hubungan keseluruhan RI-AS dengan masalah kasuistik seperti itu. Indonesia bisa mengekspor apa saja ke AS. Jangan lupa, sebanyak 98 persen ekspor Indonesia ke AS masuk tanpa masalah. ”Ada masalah kecil, tapi tidak mengganggu hubungan secara umum.”
Tambahan pula, jika memang ada masalah yang dihadapi Indonesia soal akses pasar ke AS, ”Semua itu bisa diatasi melalui mekanisme pengaduan, misalnya ke Organisasi Perdagangan Dunia. Namun, pesan lebih penting, lakukanlah ekspor sesuai prosedur dan standar dan dengan praktik yang fair. Lebih dari itu, hubungan bilateral dagang RI-AS, tidak memiliki masalah”