Wawancara

Gary Locke dan Indonesia

Kompas.com - 27/05/2010, 04:08 WIB

Simon Saragih

Pluralisme pemerintahan AS bukan saja terlihat dari keberadaan Barack Obama sebagai Presiden AS berkulit hitam. Gary Locke, Menteri Perdagangan AS, juga merupakan personifikasi pluralisme itu.

Bukan itu saja, tampaknya Locke paham akan keadaan di luar AS. Kemacetan luar biasa Jakarta pada pagi hari membuat Kompas tidak bisa tiba tepat waktu, dengan janji pertemuan dengannya pukul 08.00, Rabu (26/5).

”Tidak masalah, tenang saja,” kata Locke, generasi ketiga keturunan China, dengan nenek moyang asal Guangzhou, China, yang sudah menunggu 45 menit. Raut wajah dan bahasa tubuhnya juga tidak menunjukkan kejengkelan luar biasa, sebagaimana jika kita bertemu orang Barat yang umumnya berkarakter on time.

Locke menikahi Mona Lee Locke, mantan wartawan televisi KING 5 di Seattle, 15 Oktober 1994, dan dikaruniai putra-putri: Emily Nicole (13) dan Dylan James (11).

Jika saja tidak dibatasi protokoler, Locke tak terkesan buru-buru mengakhiri wawancara. Locke, lulusan ilmu politik Universitas Yale, sedikit mengubah persepsi tentang arogansi AS, yang terkadang terkesan meremehkan bangsa lain. Namun, tidak demikian halnya dengan Locke, yang malah terkesan berkarakter Asia.

Apakah Anda bisa berbahasa China?

”Ya, saya bisa,” jawab Locke, yang pernah menjadi Gubernur Negara Bagian Washington, gubernur AS pertama keturunan China (1997-2005). Padahal, Locke baru setelah usia lima tahun memulai kursus bahasa Inggris, dan sebelumnya sehari-hari berkomunikasi dalam bahasa nenek moyangnya.

Apakah itu memudahkan Anda untuk mendekati China, yang terkesan sangat keras menghadapi tekanan AS?

”Untuk tingkat tertentu, latar belakang saya memudahkan saya untuk bernegosiasi. Ya, akan tetapi, jangan lupa saya mewakili AS,” ujar Locke, putra pemilik sebuah toko di Seattle. Kepintaran akademis dan beasiswa membuat Locke bisa mengatasi kendala biaya dalam menimba ilmu.

AS kini menuntut China mengambangkan kurs yuan di pasar, tidak dipatok secara permanen pada level 6,82 yen per dollar AS, lebih murah 40 persen dari seharusnya, yang membuat produk China membanjiri pasar AS dan dunia.

Tuntutan AS ini dijawab China lewat ucapan Presiden Hu Jintao bahwa China akan memilih waktu yang tepat untuk melakukan reformasi rezim kurs.

Hubungan dengan RI

Mari kita bicara soal hubungan bilateral. Adakah pesan Presiden Obama yang sedang Anda usung?

”Tentu ada, sebagai salah satu negara di mana dia menghabiskan sebagian dari waktu masa kecilnya, Obama ingin sekali memiliki kedekatan hubungan dengan Indonesia.”

Misi kali ini termasuk keinginan AS menawarkan teknologi untuk menghasilkan energi bebas polusi. ”Dari sisi ini, kedua negara bisa menjajaki hubungan bisnis yang lebih dalam. Indonesia itu memiliki banyak rakyat yang butuh listrik. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga berambisi memiliki energi bebas polusi. Ini salah satu basis kerja sama kita,” kata Locke, kelahiran Seattle, 21 Januari 1950.

Seattle adalah kota di mana Stanley Ann Dubham, ibunda Obama, pernah menghabiskan masa remaja.

Mengapa Indonesia sering menghadapi hambatan memasuki pasaran AS?

(Beberapa waktu lalu ekspor udang Indonesia dihambat masuk dengan alasan standar kesehatan. Sekarang ini ekspor kertas Indonesia menghadapi tuduhan dumping).

”Janganlah lihat hubungan keseluruhan RI-AS dengan masalah kasuistik seperti itu. Indonesia bisa mengekspor apa saja ke AS. Jangan lupa, sebanyak 98 persen ekspor Indonesia ke AS masuk tanpa masalah. ”Ada masalah kecil, tapi tidak mengganggu hubungan secara umum.”

Tambahan pula, jika memang ada masalah yang dihadapi Indonesia soal akses pasar ke AS, ”Semua itu bisa diatasi melalui mekanisme pengaduan, misalnya ke Organisasi Perdagangan Dunia. Namun, pesan lebih penting, lakukanlah ekspor sesuai prosedur dan standar dan dengan praktik yang fair. Lebih dari itu, hubungan bilateral dagang RI-AS, tidak memiliki masalah”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau