Imbas Krisis Eropa Terasa

Kompas.com - 14/06/2010, 05:40 WIB

SEOUL, Minggu - Krisis keuangan di zona euro mulai terasa di Asia. Melemahnya kurs euro membuat investor melarikan sebagian dananya ke tempat yang memberikan keuntungan. Salah satu tujuannya adalah negara berkembang di Asia yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.

Akibatnya, di beberapa negara berkembang di Asia seperti Korea Selatan (Korsel) dan China, terjadi aliran arus uang panas yang sangat deras. Jika tidak diatur, aliran uang panas ini justru akan menimbulkan masalah baru dan menciptakan ketidakstabilan di kawasan Asia.

Untuk mencegah hal itu, Korsel, Minggu (13/6), mengumumkan kontrol mata uang. Tujuannya adalah mencegah terjadinya perubahan arus aliran modal terkait utang luar negeri jangka pendek dan berpotensi berisiko besar.

Bahaya dari aliran uang panas itu adalah jika dana-dana sempat dipakai untuk modal jangka pendek dengan risiko ditarik secara mendadak. Asia sudah mengalami bahaya dari fenomena ini pada tahun 1997.

Otoritas moneter di Korsel menyatakan telah melihat adanya aliran deras won dalam pasar yang sedang terguncang karena masalah utang Eropa.

Aturan baru itu menyatakan pembatasan bagi transaksi derivatif, antara lain adalah transaksi forward di bank atau pada institusi finansial lainnya. Transaksi ini menyangkut spekulasi dengan pertaruhan naik turunnya indeks harga-harga saham, kurs, dan obligasi yang berisiko tinggi.

Pembatasan juga dibatasi terhadap transaksi swap berbagai mata uang, cross currency swap. Pembatasan juga dilakukan terhadap non-deliverable forward (NDF), yaitu transaksi soal rentang kurs mata uang yang telah ditentukan harganya pada suatu waktu tertentu, yang jika meleset, si pelaku investasi bisa merugi.

Transaksi-transaksi sejenis ini sangat rentan membuat guncangan pada nilai tukar sebuah mata uang. ”Langkah pelarangan ini bertujuan mengurangi gejolak arus modal yang mungkin akan menimbulkan risiko sistemik di negara ini,” demikian pernyataan Departemen Keuangan dan Bank Sentral Korsel.

Mitra dagang terbesar

Sementara itu, ekspor China sejauh ini belum terpengaruh oleh masalah utang di Eropa. Akan tetapi, para analis mengatakan, dalam beberapa bulan ke depan pasti ada dampak dari krisis di Eropa itu.

Juru bicara Departemen Perdagangan China, Yao Jian, Sabtu (12/6), mengatakan, Uni Eropa adalah tujuan ekspor terbesar China. ”China akan terus memantau keadaan di Eropa dan dampaknya terhadap ekspor China dua atau tiga bulan ke depan, khususnya pasar utama seperti Jerman, Spanyol, dan Inggris,” katanya.

Surplus perdagangan China ke Eropa naik tajam hingga 19,53 miliar dollar AS dari surplus April yang hanya sebesar 1,68 miliar dollar AS. Surplus itu juga naik 48,5 persen jika dibandingkan dengan satu tahun sebelumnya.

”Kami juga memahami ada pihak-pihak di AS yang telah menggunakan data statistik ini untuk mencuatkan isu kurs mata uang,” kata Yao. ”Beberapa pihak di AS telah mengatakan, kurs yuan harus diperhitungkan ke dalam pengenaan sanksi antidumping dan antisubsidi,” katanya.

Penetapan kurs yuan dianggap terlalu rendah oleh AS, dan ini lagi-lagi dianggap sebagai subsidi terselubung bagi eksportir China.

Perancis membayar mahal

Sementara itu, kekhawatiran bahwa krisis utang di zona euro dapat memengaruhi negara zona euro lain yang lebih kuat, membuat Perancis harus membayar lebih tinggi keuntungan bagi pemegang obligasi negara itu.

Di pasar finansial, obligasi Pemerintah Jerman bertenor 10 tahun saat ini memiliki imbal hasil sebesar 2,560 persen, sedangkan obligasi Perancis harus membayar lebih tinggi, yakni 3,015 persen.

Para analis mengatakan, investor pembeli obligasi ingin agar Perancis melakukan penghematan anggaran. Perancis sama sekali belum mengumumkan soal pengetatan anggaran. Diperkirakan, defisit anggaran Perancis akan melembung hingga delapan persen dari produk domestik bruto (PDB), jauh di atas batasan maksimal 3 persen.

Sebaliknya, Jerman telah mengumumkan pemangkasan sekitar 86 miliar euro anggaran pemerintah hingga tahun 2014 dengan tujuan membuat negara itu akan mengalami defisit anggaran pemerintah nol persen dari PDB. (Reuters/AFP/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau